Cegah Nyeri Sendi dengan Cara Ini

Arsito Hidayatullah | Firsta Nodia | Suara.com

Senin, 22 Desember 2014 | 08:45 WIB
Cegah Nyeri Sendi dengan Cara Ini
Ilustrasi nyeri sendi. [Shutterstock/Dirima]

Suara.com - Nyeri di bagian sendi merupakan salah satu penyakit yang sering kali menghambat seseorang melakukan aktivitas. Salah satu nyeri sendi yang tak bisa disembuhkan adalah Ankylosing Spondylitis (AS) atau rematik genetik. Gejala umumnya ditandai nyeri di bagian punggung bawah terus-menerus selama tiga bulan. Meski juga diderita oleh perempuan, penyakit ini tercatat paling banyak menyerang kaum lelaki.

Menurut dokter spesialis Reumatologi, dr. Rudy Hidayat SpPD-KR, penyakit radang sendi ini mulai menyerang saat seseorang berusia 20-an, di mana biasanya sedang dipenuhi kegiatan di kampus atau kantor. Meski hingga kini tak diketahui pasti apa penyebabnya, penyakit ini merupakan penyakit autoimun, sehingga besar kemungkinannya untuk diturunkan ke generasi selanjutnya.

"Pada dasarnya penyakit AS ini ada di setiap tubuh manusia yang memiliki gen HLA-B27. Ada beberapa faktor risiko yang bisa memicu aktifnya gen ini. Salah satunya adalah stres," ungkap Rudy, dalam Seminar Manajemen Ankylosing Spondylitis, di Jakarta, Minggu (21/12/2014).

Dikatakan Rudy, penyakit autoimun ini muncul ketika sistem imun atau kekebalan tubuh yang seharusnya bertugas melawan bibit penyakit dari luar tubuh, justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Stres sendiri, menurutnya merupakan pemicu bagi hampir semua penyakit, termasuk penyakit autoimun ini.

Selain penting menjauhkan diri dari faktor pemicu stres, Rudy menyarankan untuk mengubah pola makan dan gaya hidup. Makanan yang dianjurkan salah satunya adalah yang mengandung Omega 3, seperti salmon, makarel dan ikan haring. Makanan lain seperti kedelai serta alpukat, juga bagus untuk memperbaiki sistem peradangan pada sendi.

Sementara itu, ada pula beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari oleh penderita nyeri sendi. Di antaranya adalah makanan yang mengandung bahan adiktif sintetis, pewarna sintetis, pengawet, lemak jenuh, makanan olahan, gorengan, serta makanan yang mengandung terlalu banyak garam. Jenis makanan ini, menurut Rudy, dapat membuat rasa nyeri atau peradangan pada sendi bertambah.

"Lebih baik makan yang alami saja. Tak perlu yang diawetkan atau yang serba instan. Imbangi dengan istirahat yang cukup, serta olahraga yang disarankan dokter," tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Jangan Sepelekan Nyeri pada Sendi

Jangan Sepelekan Nyeri pada Sendi

Health | Minggu, 21 Desember 2014 | 20:28 WIB

Menyebar Virus 'Semangat Hijau' Lewat Makanan

Menyebar Virus 'Semangat Hijau' Lewat Makanan

Lifestyle | Senin, 03 November 2014 | 10:02 WIB

Terkini

Lawan PTM dari Rumah: Mengapa Kampanye Generasi Bersih Sehat Vital Bagi Masa Depan Kita?

Lawan PTM dari Rumah: Mengapa Kampanye Generasi Bersih Sehat Vital Bagi Masa Depan Kita?

Health | Senin, 20 April 2026 | 18:55 WIB

Mengakhiri Ketergantungan Rujukan, Standar Lab Internasional Kini Tersedia Langsung di Makassar

Mengakhiri Ketergantungan Rujukan, Standar Lab Internasional Kini Tersedia Langsung di Makassar

Health | Senin, 20 April 2026 | 09:32 WIB

Neuropati Perifer pada Diabetes Banyak Tak Terdeteksi, Pedoman Baru Dorong Peran Aktif Apoteker

Neuropati Perifer pada Diabetes Banyak Tak Terdeteksi, Pedoman Baru Dorong Peran Aktif Apoteker

Health | Senin, 20 April 2026 | 09:10 WIB

Transformasi Operasi Lutut: Teknologi Robotik hingga Protokol ERAS Dorong Pemulihan Lebih Cepat

Transformasi Operasi Lutut: Teknologi Robotik hingga Protokol ERAS Dorong Pemulihan Lebih Cepat

Health | Senin, 20 April 2026 | 06:32 WIB

Konflik Global Memanas, Menkes Dorong Ketahanan Farmasi Nasional dan Stabilitas Harga Obat

Konflik Global Memanas, Menkes Dorong Ketahanan Farmasi Nasional dan Stabilitas Harga Obat

Health | Sabtu, 18 April 2026 | 21:33 WIB

Rahasia Produk Kesehatan Laris di Marketplace: Review Positif Jadi Penentu Utama

Rahasia Produk Kesehatan Laris di Marketplace: Review Positif Jadi Penentu Utama

Health | Sabtu, 18 April 2026 | 12:00 WIB

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 21:10 WIB

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 18:54 WIB

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 14:42 WIB

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 12:31 WIB