Bogor Belum Bebas Gizi Buruk, Ini Buktinya!

Ririn Indriani | Firsta Nodia | Suara.com

Kamis, 20 Juli 2017 | 08:38 WIB
Bogor Belum Bebas Gizi Buruk, Ini Buktinya!
Lokasi tempat tinggal Arif (2 tahun, 4 bulan) yang menderita gizi buruk hanya berjarak 4 kilometer dari Istana Presiden di Bogor.

Tingginya Persalinan di Dukun Beranak
Lalu mengapa masih ada kasus gizi buruk di Kota Bogor? Staf Promosi Kesehatan Puskesmas Bogor Selatan, Indri menuturkan, penyebab kasus gizi buruk di Bogor memang multifaktor. Selain kemiskinan, kesadaran masyarakat yang kurang akan menjaga kesehatan juga menjadi salah satu alasan mengapa gizi buruk masih ada di Bogor.

Ia berkisah, meski berada tak jauh dari pusat kota Bogor, masih ada ibu hamil yang mempercayakan persalinannya pada dukun beranak atau dikenal dengan sebutan Paraji demi melestarikan budaya yang telah turun temurun. Jalan ini pula yang dipilih Cici Nuraeni saat melahirkan Arif.

“Prevalensi melahirkan di dukun beranak di Bogor Selatan mencapai 80 persen, jadi baru 20 persen saja yang melahirkan di fasilitas kesehatan,” ujar Indri pada suara.com.

Alasan ibu hamil enggan melahirkan di fasilitas kesehatan ini pun bermacam-macam, mulai dari takut mendapat jahitan, keterbatasan biaya, maupun faktor budaya. Padahal, melahirkan tanpa didampingi tenaga kesehatan cukup berisiko, mulai dari risiko kematian saat melahirkan yang cukup tinggi, hingga peluang tidak dilakukannya Inisiasi Menyusui Dini (IMD), yang menjadi gerbang dari potensi gizi buruk anak di masa mendatang.

“Target ibu melahirkan di faskes 90 persen, tentu saja angka ini masih sangat jauh. Untuk itu kami membuat komitmen dengan paraji, agar ketika ada ibu hamil yang akan melahirkan segera dilaporkan ke bidan untuk dibawa ke puskesmas. Puskesmas Bogor Selatan buka 24 jam untuk layanan persalinan dan tidak perlu membayar dengan membawa kartu BPJS atau KIS, atau Keterangan Tidak Mampu,” tambah Indri.

Faktor Penyebab Gizi Buruk
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Bogor, Rubaeah mengatakan permasalahan gizi buruk pada balita di wilayahnya juga terjadi, karena kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pola pengasuhan. Baru 40.4 persen ibu di kota Bogor yang memberikan ASI sebagai makanan terbaik bagi buah hati.
Sisanya bisa jadi memberikan susu formula atau justru makanan lunak yang sebenarnya belum boleh diberikan pada bayi dibawah usia enam bulan.

“Kesehatan balita sangat ditentukan dari status gizinya. Khususnya pada 1000 hari pertama kehidupan itu perlu dilakukan pengecekan terhadap balita. Bila pada periode emas ini bayi mengalami kekurangan asupan makanan maka dapat mengakibatkan  gangguan kesehatan dan otak balita kurang maksimal,” ujar Rubaeah.

Ia tak menampik, masih belum optimalnya pelaksanaan sistem rujukan termasuk akses terhadap sarana kesehatan dan pembiayaannya juga menjadi salah penyebab masih tingginya kasus gizi buruk di Kota Bogor. Hingga Maret 2017 cakupan peserta Jaminan Kesehatan Nasional di Kota Bogor memang baru 74 persen dari total penduduk, yakni 727.982 jiwa.

Sedangkan jumlah penerima bantuan iuran (PBI) yang terdata hanya 255.932 jiwa. Itu berarti masih banyak masyarakat golongan menengah ke bawah yang belum diikutsertakan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraini, menambahkan, usia melahirkan terlalu dini atau terlalu tua juga bisa menjadi faktor risiko balita lahir dengan gizi buruk.

Begitu pula dengan berat badan kurang saat hamil dan kondisi anemia serta hipertensi yang bisa menjadi pemicu anak lahir dengan gizi buruk.

“Melahirkan dibawah usia 20 tahun atau diatas 35 tahun sangat berisiko. Begitu juga kalau mengalami anemia atau hipertensi saat hamil, itu berisiko membuat anak lahir dengan status gizi yang buruk berupa lahir pendek atau berat badan kurang dari tiga kilogram saat lahir,” tambah dia.

Selain disebabkan oleh ibu yang berisiko, Erna menyebut status gizi balita juga dipengaruhi faktor eksternal seperti kelayakan dan kebersihan lingkungan tempat tinggal. Jika sang ibu berisiko, namun lingkungan tempat tinggal layak huni dengan kebersihan yang terjaga, maka status gizi buruk pada buah hati bisa dicegah.

Ia pun menekankan pentingnya edukasi masyarakat terutama pada perempuan yang berencana untuk menikah dan memiliki keturunan untuk memperhatikan kesehatan diri dan lingkungannya.

“Generasi berkualitas bermula dari kondisi ibu yang bagus. Jadi sasaran kami adalah menciptakan remaja yang sehat, karena Ia calon ibu yang menentukan generasi selanjutnya,” tandasnya dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Banten Belum Bebas Gizi Buruk, Swasta Turun Tangan

Banten Belum Bebas Gizi Buruk, Swasta Turun Tangan

Health | Rabu, 21 Juni 2017 | 11:37 WIB

Jokowi: Ingatkan Pentingnya Asupan Gizi Bayi Sejak di Kandungan

Jokowi: Ingatkan Pentingnya Asupan Gizi Bayi Sejak di Kandungan

Health | Jum'at, 09 Juni 2017 | 17:49 WIB

Belum Pulih Dipaksa Pulang, Balita di Kediri Derita Gizi Buruk

Belum Pulih Dipaksa Pulang, Balita di Kediri Derita Gizi Buruk

News | Selasa, 07 Maret 2017 | 00:31 WIB

Terkini

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 13:21 WIB