Suara.com - Di tengah kecanggihan teknologi, beragam aplikasi semakin memudahkan hidup, mulai dari memesan makanan, mengirimkan barang, hingga aplikasi konsultasi dokter.
Lewat aplikasi konsultasi dokter, tarif konsultasi dokter tak lagi semahal konsultasi langsung di rumah sakit. Namun pertanyaannya, apakah konsultasi dokter via aplikasi ini aman dan akurat?
Hal inilah yang menjadi kekhawatiran Ikatan Doker Indonesia. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Moh Adib Khumaidi menjelaskan bahwa konsultasi kesehatan melalui internet sebenarnya merupakan investasi yang sangat menguntungkan. Tetapi sayangnya masyarakat tidak bisa mengetahui apakah dokter tersebut terdaftar di IDI atau apakah STR-nya masih berlaku.

"Kalau sudah berbasis aplikasi, masyarakat tidak bisa mendeteksi apakah benar dokter atau tidak. Apakah teregistrasi KKI atau enggak, apakah pernah tersangkut masalah etik atau tidak," ujar Adib pada temu media di Jakarta, Kamis (1/2/2018).
Adib mengatakan, masyarakat jangan terkecoh dengan jas putih yang dikenakan seseorang, apalagi hanya melalui foto. Untuk memastikan dokter aplikasi itu benar-benar dokter, ia mengimbau masyarakat untuk melihat kompetensi dokter tersebut di situs IDI, www.idionline.org, dan situs Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) www.kki.go.id.
"Bisa di cek, apakah ada yang meragukan dari dokter tersebut, karena ada kecenderungan masyarakat lebih melihat tampilan fisik. Misalnya pakai jas putih itu dokter, layanan kesehatan dianggap dokter, itu tidak benar," tegas Adib.
Meski demikian Adib menilai bahwa bahwa konsultasi ke dokter melalui aplikasi atau langsung adalah pilihan masyarakat. Tetapi ia mengingatkan bahwa pasien sebagai konsumen jasa memiliki hak untuk bertanya mengenai kompetensi dokter.
"Tanya lulusan mana, dokter apa, itu hak pasien dan hak konsumen," tandasnya mengenai penggunaan aplikasi konsultasi dokter yang sedang marak ini.