Array

Riset : GERD Sering Ditemukan pada Orang Berpenghasilan Rendah

Rabu, 05 September 2018 | 13:03 WIB
Riset : GERD Sering Ditemukan pada Orang Berpenghasilan Rendah
Ilustrasi sakit lambung, karena GERD. (Shutterstock)

Suara.com - Riset yang dilakukan Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACG, dan kawan-kawan yang dipublikasi di jurnal Asian Journal of Epidemiology pada 2016, menunjukkan GERD sebagai satu dari sekian penyakit gastrointestinal, sering ditemukan pada mereka yang memiliki tingkat pendidikan dan berpenghasilan rendah.

Dari hasil studi tersebut, makanan pada populasi yang berpendidikan dan berpenghasilan rendah cenderung mengandung tinggi lemak, sehingga mudah terjadi penundaan pengosongan lambung yang berakibat pada munculnya GERD.

BACA JUGA: Cek Kesehatan Kaki dari Gejala-gejala Ini

Riset tersebut juga menunjukkan bahwa GERD tidak hanya terjadi pada masyarakat umum, tapi juga di kalangan medis. Prevalensi GERD, menurut hasil studi tersebut terhadap dokter-dokter di Indonesia, mencapai 27,4 persen.

"GERD yang dibiarkan dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Hal ini terjadi, karena asam lambung yang naik dapat menyebabkan luka pada dinding dalam kerongkongan, sehingga yang awalnya hanya berupa perlukaan, lama kelamaan luka semakin luas dan bisa menyebabkan penyempitan kerongkongan bawah," jelas Prof Ari.

BACA JUGA: Tak Cuma Menyenangkan, Sering Berlibur Juga Bisa Perpanjang Umur

Bahkan, lanjut dia, GERD juga dapat menyebabkan perubahan struktur dari dinding dalam kerongkongan yang menyebabkan terjadinya penyakit Barrett’s yang merupakan lesi pra kanker. Di luar saluran cerna, kata Prof Ari, asam lambung yang tinggi dapat menyebar ke gigi, tenggorokan, pita suara, saluran pernapasan bawah bahkan sampai paru-paru.

BACA JUGA: Berhenti Gunakan Pengering Tangan! Ini Bahayanya

Padahal berbagai penyakit tersebut dapat dicegah dengan modifikasi gaya hidup dan deteksi secara dini. Dengan deteksi dini, penyakit yang berkaitan dengan masalah gastrointestinal diharapkan dapat ditangani menjadi lebih cepat dan efektif.

Dengan begitu, kata Prof Ari, tingkat kesembuhan dan harapan hidup pasien pun menjadi lebih panjang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI