Perokok Pasif Paling Rentan Kena Kanker Paru

Ade Indra Kusuma
Perokok Pasif Paling Rentan Kena Kanker Paru
Ilustrasi kanker paru. (Shutterstock)

Perokok pasif tak sadar bahwa bahan pencetus kanker yang ada dalam rokok yang diisap seorang perokok menempel di mana-mana, seperti pakaian, sofa, tembok atau bahkan tubuhnya sendiri.

Suara.com - Meninggalnya Nita Octobijanthy, istri Indro Warkop atau Indrodjojo Kusumonegoro semalam (9/10/2018) usai berjuang melawan kanker paru, mengundang simpati berbagai kalangan. Tak terkecuali Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Bicara kanker Paru, dalam Riset Cancer Today - Globocan 14 persen kasus baru terjadi pada kanker paru di 2018 yakni sebanyak 22.440 kasus pada pria, kanker kolorektal menempati urutan berikutnya dengan 11,9 persen atau 19.113 kasus.

Satuan Pencegahan Amerika Serikat mengeluarkan daftar orang-orang yang berisiko tinggi terkena kanker paru-paru yakni memiliki riwayat merokok 30 tahun, berusia 55 hingga 80 tahun, dan merokok dalam 15 tahun terakhir. Kendati demikian, kanker paru-paru bisa menyerang siapa saja.

Disebutkan salah satu penyebab angka kematian yang tinggi adalah akibat sulitnya mendiagnosis kanker paru secara dini. Sekitar 40% orang yang didiagnosis kanker paru, baru menerima diagnosis setelah penyakit kanker mencapai stadium 3.

Dokter spesialis paru (konsultan) dr Elisna Syahruddin, SpP(K) dari RSUP Persahabatan, mengatakan penyebab kanker paru memang multi faktor, tapi perokok pasif yang selama ini menjadi korban paparan asap rokok menjadi paling rentan dan memiliki risiko kena kanker paru.

"Penyebabnya bisa karena dia sebagai perokok pasif yang terpapar asap rokok langsung atau third hand smoke, dimana tidak terpapar asap langsung tapi melalui baju atau tembok yang sering terpapar asap rokok," ujarnya beberapa waktu lalu kepada Suara.com.

Elisna menambahkan, seringkali perokok pasif tak sadar bahwa bahan pencetus kanker yang ada dalam rokok yang diisap seorang perokok menempel di mana-mana, seperti pakaian, sofa, tembok atau bahkan tubuhnya sendiri.

"Meski ia sedang tidak merokok, bahan karsinogenik ini berpotensi dihirup orang di sekitarnya termasuk sang anak, meski anak tidak terpapar asap rokok secara langsung. Jadi, memang sebaiknya jangan merokok, karena bahaya buat anaknya juga dalam jangka panjang," imbuhnya.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), asap rokok bertanggung jawab atas sekitar 7.300 kematian akibat kanker paru setiap tahun di Amerika Serikat. Produk tembakau mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia, dan setidaknya 70 diketahui menyebabkan kanker.

Saat Anda menghirup asap rokok, campuran bahan kimia ini dikirim langsung ke paru-paru Anda, di sinilah mulainya kerusakan pada paru-paru Anda. Pada awalnya, kerusakan ini dapat diperbaiki oleh tubuh. Tapi serangan terus-menerus dan keberlanjutan dari merokok ini menyebabkan kerusakan pada jaringan paru-paru terus bertambah dan sulit ditangani. Kerusakan inilah yang mengakibatkan sel-sel bereaksi secara tidak normal hingga akhirnya muncul sel kanker.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS