Tren Harbolnas, Waspada Dampak Negatifnya pada Kesehatan

Ade Indra Kusuma
Tren Harbolnas, Waspada Dampak Negatifnya pada Kesehatan
Dampak negatif belanja online pada kesehatan [shutterstock]

Menyambut diskon besar Harbolnas, ternyata bagi Anda yang gemar belanja online, ada dampak negatifnya kepada kesehatan lho.

Suara.com - Menyambut Harbolnas beberapa hari kedepan, para konsumen pastinya sudah merinci dan menandai barang-barang yang siap diborong di hari diskon terbesar di beberapa aplikasi e-commerce yang ada di Indonesia. Namun tahukah Anda, menyambut diskon besar Harbolnas, ternyata bagi Anda yang gemar belanja online, ada dampak negatifnya kepada kesehatan lho.

Studi e-commerce dari Frost & Sullivan’s juga menguatkan bahwa saat ini memang terjadi peningkatan tren konsumen yang semakin suka menggunakan aplikasi mobile terutama untuk belanja.

Berdasarkan studi Shopback baru-baru ini, terkait dominasi aplikasi ponsel di industri e-commerce, aplikasi ponsel menyumbang traffic paling banyak di platform e-commerce saat ini. Munculnya fitur inovasi di platform e-commerce guna menciptakan aktivitas lain selain melakukan pembelian, menjadi salah satu alasan peningkatan traffic melalui aplikasi ponsel.

Seperti, Shopee Shake, yang mengharuskan pengguna untuk menggoyangkan perangkat seluler mereka secepat mungkin. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 100.000 pengguna berpartisipasi hanya dalam beberapa hari setelah peluncurannya. Selain itu, ada fitur Slash it dari Lazada, yang diluncurkan bersamaan pada Shopfest di September 2018. Fitur ini membuat pengguna mengajak lebih banyak temannya untuk mendapatkan lebih banyak potongan harga.

Bicara kaitan belanja dengan kesehatan, para ahli memperingatkan bahwa kebiasaan belanja online bisa membuat tubuh Anda lemah karena tak lagi melibatkan anggota tubuh untuk memilih, serta membawa barang belanjaan layaknya belanja di gerai supermarket.

Melansir The Sun, Charter Society of Physioteraphy (CSP) mengungkap hasil survei yang menyebutkan, satu dari empat orang berusia 65 tahun ke atas tidak melakukan latihan penguatan sehingga membuat otot mereka lemah.

Padahal studi telah menunjukkan bahwa latihan penguatan dapat membantu mencegah masalah kesehatan seiring bertambahnya usia. Latihan penguatan sebenarnya bukan berarti harus dilakukan di pusat kebugaran, membawa tas belanja juga dapat membantu menjaga tulang dan otot tetap kuat seiring dengan bertambahnya usia.

Prof Karen Middleton, kepala eksekutif CSP, mengatakan bahwa tren belanja online yang mempermudah hidup manusia justru pada gilirannya dapat memicu beragam masalah kesehatan termasuk membuat otot lemah karena jarang digerakkan.

"Membuat tubuh tetap aktif bukan berarti harus dilakukan di pusat gym tapi bisa diupayakan dengan berbelanja di supermarket, berkebun, atau latihan berat badan sederhana seperti berdiri sebanyak 10 kali hitungan," ujar prof Karen.

Selain untuk lansia, peneliti juga menggarisbawahi pentingnya melakukan aktivitas fisik pada mereka yang berusia 20-30an. Pasalnya, tulang yang tidak terbiasa digerakkan akan melemah pada usia akhir 20-an dan massa otot menyusut pada 40-an.

"Jadi bukan hanya orang tua yang perlu bergerak, tapi anak-anak muda juga harus memahani pentingnya aktivitas fisik. Hal ini akan menurunkan risiko Anda mengidap muskuloskeletal kronis pada usia 40-an," pungkas Karen.

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS