Insiden Kanker Paru Meningkat 10 Kali Lipat

Vania Rossa | Firsta Nodia
Insiden Kanker Paru Meningkat 10 Kali Lipat
Paru-paru. (Shutterstock)

Kanker paru merupakan kanker dengan angka kematian tertinggi di dunia di antara seluruh kanker.

Suara.com - Kanker paru merupakan kanker dengan angka kematian tertinggi di dunia di antara seluruh kanker. Satu dari lima kematian seluruh kanker disebabkan oleh kanker paru. Setidaknya, ada 1,7 juta orang meninggal setiap tahunnya karena kanker paru.

Disampaikan Dokter spesialis paru (konsultan), Elisna Syahruddin, Ph.D, dari Departemen Pulmonologi dan Respiratori FKUI/RSUP Persahabatan di Indonesia, kanker paru juga merupakan jenis kanker dengan insiden tertinggi pada lelaki di Indonesia. Meski demikian, sekitar 11,2 persen kasus kanker paru juga dialami oleh kaum hawa.

"Di RSUP Persahabatan sebagai Pusat Rujukan Respirasi Nasional, termasuk pusat rujukan kanker paru, angka kunjungan pasien kanker paru meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan dengan 15 tahun yang lalu," ujar dr. Elisna dalam temu media di Rumah PDPI, Jumat (9/11/2018).

Lebih lanjut Elisna menambahkan, faktor risiko terbesar terjadinya kanker paru adalah pajanan asap rokok. Namun ada pula faktor risiko lain seperti tinggal atau bekerja di pabrik dengan paparan karsinogen yang tinggi, terpapar polusi, radon, dan memiliki riwayat penyakit paru fibrosis. Tentu saja pencegahan kanker paru kata dr Elisna bisa dilakukan dengan menghindari faktor risikonya.

Ia menambahkan, gejala kanker paru sendiri cenderung tidak khas seperti batuk yang bisa juga menyerupai penyakit lainnya. Namun Elisna memeringatkan masyarakat yang batuk tak kunjung sembuh hingga dua minggu untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

"Batuk lebih dari dua minggu waspada paru. Sesak napas juga bisa karena cairan memenuhi paru-paru. Biasanya kalau sel kanker masih 1 cm tidak ada gejala. Dari sel kanker sampai terdeteksi minimal butuh waktu 10 tahun," tambah dia.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), mengimbau pemerintah untuk peduli kanker paru, melalui sistem perundangan pengurangan pajanan tembakau, upaya pengurangan polusi udara dan industri, serta upaya perlindungan pekerja yang terpapar karsinogen.

"Lebih dari 80 persen pasien kanker paru datang setetah stadium lanjut. Ini karena mereka baru merasakan gejalanya. Jadi harapan hidupnya sudah kecil ketika stadium lanjut. Ini yang kita dorong agar pencegahan faktor risiko bisa dilakukan," tambah dr Agus.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), kata dr. Agus, mengapresiasi pemerintah melalui pembiayaan sistem jaminan kesehatan nasional dalam diagnosis dan terapi kanker paru. Ia mengimbau keberlanjutan serta ketersediaan fasiIitas tersebut baik di layanan primer maupun rujukan.

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS