Ini Manfaat Kunyit bagi Anak Penderita Kanker Tulang

Silfa Humairah Utami | Dinda Rachmawati | Suara.com

Jum'at, 21 Juni 2019 | 18:30 WIB
Ini Manfaat Kunyit bagi Anak Penderita Kanker Tulang
Ilustrasi kanker anak. (Shutterstock)

Suara.com - Ini Manfaat Kunyit bagi Anak Penderita Kanker Tulang.

Kanker tulang tak hanya diderita oleh orang dewasa, tapi juga menyerang anak-anak. Mereka sering dirawat dengan pengobatan kemoterapi dosis tinggi, baik sebelum dan sesudah melakukan operasi.

Sayangnya, dosis kemoterapi ini memiliki efek samping yang cukup berbahaya bagi pasien seusia mereka. Untuk menemukan pilihan pengobatan yang lebih nyaman, terutama setelah operasi, para peneliti mengembangkan sistem pengobatan baru dengan bantuan curcumin, bahan utama yang ditemukan dalam kunyit.

Dalam penelitian yang diterbitkan di Journal of Applied Materials and Interfaces, peneliti melihat curcumin berhasil mencegah sel-sel kanker tulang menyebar dan meningkatkan pertumbuhan sel-sel tulang yang sehat.

Ini sangat baik bagi perawatan pasca-operasi di mana pasien berusaha untuk pulih dari kerusakan tulang dan membantu mereka yang memiliki osteosarkoma, penyebab kematian kedua yang paling umum pada anak-anak.

Bahan aktif curcumin telah terbukti memiliki kemampuan anti-oksidan, anti-inflamasi dan pembentukan tulang. Juga terbukti mencegah berbagai bentuk kanker.

“Saya ingin orang tahu efek menguntungkan dari senyawa alami ini. Biolekul alami yang berasal dari produk nabati ini tidak mahal dan merupakan alternatif yang lebih aman daripada obat-obatan sintetis," kata Bose dilansir dari TheHealthSide.

Namun, ketika diminum sebagai obat, senyawa ini tidak dapat diserap dengan baik di dalam tubuh, karena proses metabolisme yang terlalu cepat.

Dalam studi mereka, para peneliti menggunakan pencetakan 3D untuk membangun perancah pendukung dari kalsium fosfat. Sementara sebagian besar implan saat ini terbuat dari logam, seperti perancah keramik, yang lebih seperti tulang asli, yang suatu hari nanti dapat digunakan sebagai bahan graft setelah operasi kanker tulang.

Para peneliti memasukkan curcumin, yang dikemas dalam vesikel molekul lemak ke dalam perancah, memungkinkan bahan kimia dilepaskan secara bertahap.

Melalui percobaan ini, para peneliti menemukan bahwa sistem menghambat pertumbuhan sel osteosarkoma sebesar 96 persen setelah 11 hari dibandingkan dengan sampel yang tidak diobati. Sistem ini juga mendorong pertumbuhan sel tulang yang sehat.

"Studi ini memperkenalkan era baru integrasi di mana teknologi cetak 3d modern digabungkan dengan penggunaan obat alternatif yang aman dan efektif, yang dapat menyediakan alat yang lebih baik untuk rekayasa jaringan tulang," tutup Bose.

Manfaat curcumin pada kunyit bagi anak penderita kanker tulang cukup efektif menurut studi di atas. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Memaafkan Mempunyai Pengaruh Terhadap Kehidupan & Membuat Lebih Baik

Memaafkan Mempunyai Pengaruh Terhadap Kehidupan & Membuat Lebih Baik

Health | Kamis, 20 Juni 2019 | 15:25 WIB

Dikira Keseleo, Ternyata Osteosarcoma atau Kanker Tulang

Dikira Keseleo, Ternyata Osteosarcoma atau Kanker Tulang

Health | Kamis, 15 Februari 2018 | 18:45 WIB

Dikira Sakit Gigi, Perempuan Ini Meninggal Idap Kanker Tulang

Dikira Sakit Gigi, Perempuan Ini Meninggal Idap Kanker Tulang

Health | Senin, 28 Agustus 2017 | 14:11 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB