Keren, Siswi 16 Tahun Bikin Alat Tes Diabetes Tanpa Harus Ambil Darah

Minggu, 04 Agustus 2019 | 11:20 WIB
Keren, Siswi 16 Tahun Bikin Alat Tes Diabetes Tanpa Harus Ambil Darah
celestine wenardy mengikuti Google Science Fair (Instagram/celestinewenardy)

Suara.com - Indonesia sudah menghadapi ancaman diabetes sejak beberapa tahun lalu. Menurut International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2017, epidemi diabetes di Indonesia semakin meningkat.

Melansir laman Departemen Kesehatan RI pada Desember 2018, Indonesia menjadi negara peringkat keenam di dunia dengan kasus diabetes terbanyak setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat, Brazil dan Meksiko.

Usia penyandangnya pun dari muda awal sampai orang tua, yaitu 20 hingga 79 tahun dengan angka pasien mencapai 10,3 juta orang.

Ini lah yang mendasari seorang siswi Celestine Wenardy (16) membuat alat glukometer noninvasif. Glukometer non-invasif ini menggunakan dua metode, yaitu teknologi termal dan interferometri.

Berdasarkan laporannya di googlesciencefair.com, alat ini aman digunakan oleh pasien yang segan dengan jarum suntik karena glukometer ini tidak memerlukan pengambilan darah untuk menghitung pembacaan konsentrasi glukosa secara kurat.

celestine wenardy saat mengikuti Google Science Fair (Instagram/celestinewenardy)
celestine wenardy saat mengikuti Google Science Fair (Instagram/celestinewenardy)

Tidak hanya itu, alat ini juga terjangkau. Jauh berbeda dengan alat pengukur glukosa saat ini yang harganya mencapai US$ 1000 atau sekitar Rp14 juta dan tidak non-ivansif.

"Hipotesis saya didukung, dengan produk yang mencapai nilai R 2 0,843 melalui penggunaan beberapa sensor sementara biayanya hanya sekitar US$ 63 (sekitar Rp893 ribu)," tulis Celestine dala, laporannya.

Sebenarnya, sebelum Celestine melakukan penelitian ini, ada pelacak glukosa non-ivasif yang disebut dengan GlucoTrack. Dan alat ini menggunakan tiga metode berbeda yaitu termal, listrik dan ultrasonik.

Sayangnya, meski metode ini terbukti efektif, metode ini tidak dapat terus mengukur kadar glukosa.

Baca Juga: Pankreas Meradang Bisa Sebabkan Diabetes, Kenali Gejalanya!

"Akibatnya, pengguna tidak diberi tahu tentang potensi tinggi dan rendah yang tidak terdeteksi dan berpotensi berbahaya," lanjutnya dalam laporan, yang dirilis pada Jumat (2/8/2019) lalu.

Sedangkan perangkat non-ivasif komersial lain yang pernah dirilis sebelyumnya, seperti GlucoWatch, dilaporkan tidak akurat dan dapat menimbulkan iritasi serta jaringan parut pada kulit pengguna karena paparan yang lama.

Penelitian ini membawa Celestine menerima penghargaan Virgin Galastic Pioneer Award dan mendapatkan beasiswa pendidikan sebesar US$ 15000 atau sekitar Rp210 juta.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI