Suara.com - Ada lebih banyak orang yang bermasalah dengan jerawat dibandingkan mereka yang beruntung tak pernah dihinggapi bejolan merah menyakitkan ini. Dan bagi Anda yang berpengalaman dengan jerawat, pastilah tak asing dengan aneka perawatan kulit yang bertujuan mengusir jerawat.
Dilansir dari Healthline, ada 4 cara mengatasi jerawat. Masing-masing tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebelum Anda memilih untuk melakukan salah satunya, cari tahu dulu efek samping yang ditimbulkan dari penanganan jerawat berikut.
1. Mengubah gaya hidup

Jerawat ringan yang timbul sesekali, atau di waktu-waktu tertentu, biasanya dapat diatasi dengan melakukan perubahan gaya hidup. Minyak di wajah adalah penyebab utama jerawat, jadi penting untuk menjaga wajah Anda bersih, dan jauhkan helai rambut dari wajah terutama jika rambut Anda cenderung berminyak.
Minyak dari rambut dan wajah Anda juga menumpuk di bantal Anda, sehingga mengganti sarung bantal setiap hari atau setidaknya seminggu sekali dapat membantu mencegah munculnya jerawat.
Bersihkan wajah Anda dua hingga tiga kali sehari dengan air dan pembersih lembut yang tidak abrasif. Jangan menggosok kulit wajah terlalu keras, karena ini hanya akan memperburuk kondisi kulit Anda. Selain itu, cobalah untuk tidak menggunakan produk perawatan kulit yang dapat menyebabkan iritasi, seperti losion beraroma atau riasan berbahan dasar minyak. Pilih pelembap dan tabir surya yang berlabel non comedogenic, yang artinya produk tersebut tidak akan menyumbat pori-pori Anda.
Perubahan gaya hidup ini bisa membantu Anda mengatasi jerawat ringan. Jika Anda membutuhkan sesuatu yang sedikit lebih kuat, dokter Anda mungkin menyarankan Anda juga menggunakan obat topikal atau oral.
2. Obat topikal

Obat topikal bisa berupa losion, gel, dan krim yang Anda aplikasikan di kulit yang berjerawat, cukup dioleskan tipis-tipis pada kulit di pagi hari dan sebelum tidur setelah mencuci wajah. Beberapa obat topikal tersedia tanpa resep dokter (OTC), dan yang lain memerlukan resep dokter.
Obat jerawat OTC biasanya mengandung bahan aktif asam salisilat atau benzoil peroksida. Zat ini mengurangi jumlah minyak yang diproduksi wajah serta melawan peradangan, sehingga membantu meredakan jerawat yang ada dan mencegah jerawat baru terbentuk.
Obat-obatan topikal yang diresepkan dapat membantu ketika produk OTC tidak cukup kuat. Gel atau krim jerawat ini mungkin mengandung tretinoin (obat retinoid yang berasal dari vitamin A), versi benzoil peroksida yang lebih kuat, atau antibiotik yang disebut clindamycin. Kandungan ini mungkin punya efek lebih baik untuk membunuh bakteri ketika jerawat Anda sedang parah-parahnya.
Untuk obat jerawat topikal, efek samping yang paling umum adalah kekeringan dan iritasi kulit. Untungnya, gejala-gejala ini bersifat sementara. Kondisi ini akan membaik ketika tubuh Anda terbiasa dengan pengobatan. Jika kulit Anda gatal, terbakar, atau terkelupas berat, segera beri tahu dokter Anda.
Salah satu kandungan obat jerawat topikal, yaitu retinoid topikal, merupakan obat kategori C. Ini artinya penelitian pada hewan menunjukkan bahwa obat ini berbahaya bagi janin yang sedang berkembang jika diberikan dalam jumlah besar. jadi, jika Anda sedang hamil, pastikan keamanan kandungan obat jerawat yang akan digunakan dengan mengonsultasikannya pada dokter.
Produk jerawat yang aman digunakan selama kehamilan adalah yang menggunakan benzoil peroksida.
3. Obat oral

Obat oral untuk jerawat juga disebut perawatan sistemik, karena akan diserap ke seluruh tubuh Anda. Obat oral biasanya hanya tersedia dengan resep dari dokter. Obat-obatan ini biasanya digunakan untuk mengobati jerawat yang sedang hingga parah, yang tidak merespons obat topikal.
Tiga jenis obat sistemik yang digunakan untuk mengobati jerawat meliputi:
- Antibiotik
Pil antibiotik harian, seperti tetrasiklin, dapat membantu melawan bakteri dan infeksi dari dalam ke luar. Antibiotik biasanya digunakan bersamaan dengan obat topikal ketika gel dan krim saja tidak mampu memperbaiki kondisi jerawat Anda.
- Pil KB
Mengatur kadar hormon dapat membantu mengatasi jerawat pada sebagian wanita. Namun, Anda sebaiknya tidak menggunakan pil KB selama kehamilan. Jika Anda hamil, tanyakan kepada dokter apa yang dapat Anda lakukan untuk menghilangkan jerawat.
- Isotretinoin
Isotretinoin adalah obat kuat dalam keluarga retinoid yang berfungsi mengurangi ukuran kelenjar minyak sehingga minyak yang dihasilkan jadi lebih sedikit. Ini juga membantu mengatur pergantian sel kulit sehingga sel-sel mati tidak menghalangi pelepasan bakteri dan minyak berlebih dari pori-pori Anda. Isotretinoin biasanya diberikan kepada orang dengan jerawat kistik yang parah. Dokter mungkin akan meresepkannya ketika obat jerawat lain sudah tidak mempan. Namun, efek sampingnya bisa parah, sehingga obat jenis ini tidak untuk semua orang.
Pada obat oral, efek samping potensialnya bisa lebih serius. Antibiotik dapat membuat Anda sakit perut atau membuat Anda pusing. Jika Anda juga minum pil KB, gunakan metode kontrasepsi cadangan. Beberapa antibiotik mengurangi seberapa baik pil KB melindungi Anda dari kehamilan.
Jika Anda menggunakan pil KB untuk mengatasi jerawat, ketahuilah bahwa efek samping kontrasepsi oral termasuk peningkatan risiko pembekuan darah dan tekanan darah tinggi.
Isotretinoin oral juga dapat menyebabkan efek samping yang parah, terutama jika Anda hamil saat meminumnya. Cacat lahir yang parah telah dilaporkan pada bayi yang ibunya mengonsumsi isotretinoin selama kehamilan. Obat ini juga dapat meningkatkan risiko depresi dan pikiran untuk bunuh diri, serta memengaruhi kadar kolesterol dan fungsi hati Anda.
4. Prosedur medis

Meskipun tidak diresepkan sebagai obat biasa, beberapa prosedur medis dapat digunakan untuk mengobati jerawat yang parah. Semua prosedur ini biasanya dapat dilakukan oleh dokter spesialis kulit. Tapi berita buruknya, prosedur medis ini seringkali tidak dapat dicover oleh perusahaan asuransi kesehatan.
Ini dia beberapa prosedur medis yang bisa dilakukan untuk mengatasi jerawat:
- Drainase dan ekstraksi
Selama drainase dan ekstraksi, dokter secara manual akan mengeringkan kista besar yang terbentuk di bawah kulit Anda. Dokter akan menghilangkan cairan, kotoran, nanah, dan kulit mati di dalam kista untuk mengurangi infeksi dan rasa sakit. Dokter dapat menyuntikkan antibiotik atau steroid ke dalam kista untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi risiko jaringan parut.
- Terapi laser
Terapi laser juga dapat membantu mengatasi infeksi jerawat. Sinar laser membantu mengurangi jumlah bakteri pada kulit Anda yang menyebabkan jerawat.
- Pengelupasan kimia dan mikrodermabrasi
Pengelupasan kimia dan mikrodermabrasi akan menghilangkan lapisan atas kulit Anda. Dalam prosesnya, komedo dan jerawat juga akan dihilangkan.