Hati-hati, Bakteri dari Tas Belanja Bisa Picu Keracunan Makanan Lho

Silfa Humairah Utami

Jum'at, 13 Desember 2019 | 17:43 WIB
Hati-hati, Bakteri dari Tas Belanja Bisa Picu Keracunan Makanan Lho
Ilustrasi tas daur ulang. (Pixabay)

Suara.com - Hati-hati, Bakteri dari Tas Belanja Bisa Picu Keracunan Makanan Lho

Untuk menghemat sampah plastik, beberapa kalangan kampanye untuk menggunakan tas daur ulang. Anda pun mungkin lebih sering menggunakannya sebagai tas belanja ke pasar atau supermarket untuk mengurangi penggunaan plastik.

Namun, apakah Anda pernah memerhatikan kebersihan tas belanja daur ulang? Tanpa disadari, kantong belanja yang satu ini dapat menyimpan banyak bakteri penyebab keracunan makanan, lho. Jadi penting untuk memperhatikan hal berikut dilansir Hello Sehat

Tas daur ulang menjadi sumber bakteri di dapur

Belanja dengan tas ramah lingkungan alias tas daur ulang memberikan banyak manfaat. Selain membantu mengurangi sampah plastik, tas belanja yang cenderung berukuran besar ini dapat menampung semua barang-barang belanjaan Anda sekaligus. Dengan begitu, Anda tak perlu repot lagi menenteng banyak tas setiap kali belanja ke pasar atau supermarket.

Meskipun cenderung praktis, Anda tetap perlu menjaga kebersihan tas daur ulang yang Anda gunakan. Pasalnya, jenis tas ini ternyata bisa menjadi sumber bakteri dan memicu keracunan makanan, seperti dilansir dari Cleveland Clinic.

Para peneliti dari University of Arizona dan Loma Linda University menemukan bahwa hampir seluruh tas daur ulang yang dipakai untuk belanja mengandung bakteri. Bahkan sebanyak 50 persen tas mengandung bakteri coliform dan 12 persen lainnya mengandung bakteri Escherichia coli (E.coli), dua jenis bakteri penyebab keracunan makanan yang paling umum.

Ketika Anda meletakkan tas belanja daur ulang ke wastafel atau meja dapur, ini memungkinkan untuk terjadinya kontaminasi silang. Maksudnya bakteri yang berasal dari tas dapat berpindah ke meja, lalu pindah lagi ke tangan. Akibatnya, bakteri tersebut dapat masuk ke tubuh melalui mulut saat Anda makan hingga menyebabkan keracunan makanan.

Dari mana asalnya bakteri penyebab keracunan makanan?

Tidak sedikit orang yang asal mencampurkan bahan makanan ke dalam tas belanja tanpa memisahkannya sesuai jenis makanan, dengan alasan supaya lebih praktis. Padahal, bahan pangan basah seperti daging semestinya dipisahkan dengan sayuran dan bahan makanan lainnya.

baca juga

Pakar penyakit menular, dr. Susah Rehm mengungkapkan bahwa penyebab keracunan makanan terbesar berasal dari daging. Tetesan darah atau air yang mengandung bakteri dapat meresap ke tas belanja dan mengontaminasi bahan makanan lainnya.

Jika sayur atau buah yang sudah terkontaminasi tidak dicuci atau dimasak dengan benar, maka hal ini dapat memicu keracunan makanan. Siklus ini akan terus terjadi saat Anda menggunakan tas daur ulang yang sama untuk belanja di kemudian hari.

Terlebih jika Anda tidak rajin mencuci tas belanja dan malah menyimpannya begitu saja, maka tas ini akan menjadi lembap. Lingkungan lembap dan hangat inilah yang menjadi tempat favorit bagi bakteri untuk berkembang biak.

Mencegah keracunan makanan dari tas belanja daur ulang

Langkah terpenting yang harus Anda lakukan pertama kali adalah memisahkan bahan makanan basah dengan yang kering. Meskipun ini artinya Anda harus membawa minimal dua tas belanja, risiko kontaminasi silang dari daging ke sayur atau buah dapat dihindari.

Jika terpaksa harus menggunakan satu tas belanja, sebaiknya bungkus daging atau bahan makanan basah lainnya menggunakan plastik. Tambahkan selembar kantong plastik atau kertas di atasnya sebagai pembatas, barulah Anda boleh meletakkan sayur atau buah di atasnya.

Begitu sampai di rumah, segera keluarkan dan pisahkan daging dari sayur, buah, atau bahan makanan lainnya. Cuci semua bahan makanan satu persatu hingga benar-benar bersih dan simpan dalam kulkas.

Yang tak kalah penting, jangan lupa cuci tas daur ulang secara rutin dan simpan di tempat yang kering. Para ahli tidak menyarankan Anda untuk menyimpan tas belanja di mobil, karena suhu panas dalam mobil justru dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri hingga dua kali lipat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Manfaatkan Habolnas untuk Beli Ini, Warganet: Tinggal ke Warung Bisa!

Manfaatkan Habolnas untuk Beli Ini, Warganet: Tinggal ke Warung Bisa!

Tekno | Jum'at, 13 Desember 2019 | 16:07 WIB

Dominasi Pasar, Total Belanja Iklan Televisi Shopee Tembus Rp 800 Miliar

Dominasi Pasar, Total Belanja Iklan Televisi Shopee Tembus Rp 800 Miliar

Bisnis | Kamis, 12 Desember 2019 | 13:15 WIB

Hasil Studi: Antusiasme Masyarakat pada Harbolnas 12.12 Terus Meningkat

Hasil Studi: Antusiasme Masyarakat pada Harbolnas 12.12 Terus Meningkat

Tekno | Kamis, 12 Desember 2019 | 08:52 WIB

Terkini

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:49 WIB

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:07 WIB

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB