2. Systemic Lupus Eritematosus (SLE)
Penyakit kedua yang juga lebih banyak dijumpai pada perempuan adalah penyakit Systemic Lupus Eritematosus (SLE).
Penyakit autoimun ini dialami 9 kali lebih banyak pada perempuan dibandingkan lelaki.
"Penyakit SLE terjadi pada 30-50 kasus pada 100.000 penduduk. Penyakit ini terjadi pada perempuan muda usia produktif. Jarang sekali ditemukan pada usia muda," terang Prof Ari.
Lebih lanjut Prof Ari menjelaskan SLE ditandai dengan rambut rontok, gangguan pada kulit terutama wajah berupa merah-merah kulit seperti kupu-kupu dan akan bertambah merah jika terpapar sinar matahari, nyeri-nyeri pada sendi dan otot, demam yang tidak terlalu tinggi, serta sariawan berulang.
SLE itu sendiri, sambung dia, bisa menyebabkan berbagai gangguan organ tubuh antara lain kelainan darah, gangguan ginjal, gangguan jantung dan pembuluh darah, gangguan paru, gangguan pada organ-organ pencernaan seperti usus, lambung dan liver, gangguan pada sistim saraf pusat serta gangguan pada mata.
"Pasien yang mengalami SLE karena gangguan pada pembekuan darahnya juga bisa mengalami keguguran berulang," ungkap Prof Ari.
Mengingat komplikasi yang multiorgan deteksi dini penyakit ini juga menjadi penting agar komplikasi yang bisa melibatkan banyak organ bisa dicegah.
"Bagi pasien yang sudah diketahui menderita SLE maka dianjurkan untuk minum obat teratur dan agar selalu kontrol teratur agar komplikasi akibat penyakit SLE tidak terjadi," tuturnya.
Selanjutnya tentang Irritable Bowel Syndrome (IBS).
3. Irritable Bowel Syndrome (IBS)
Penyakit ketiga yang juga lebih banyak diderita oleh kaum perempuan adalah Irritable Bowel Syndrome (IBS).
Laporan kejadian IBS pada perempuan rata-rata 2-3 kali lebih banyak dibandingkan lelaki.
Walau beberapa kepustakaan menyebutkan tidak ada perbedaan yang signifikan angka kejadian IBS pada kaum lelaki maupun perempuan.
Pasien dengan IBS biasanya datang dengan keluhan nyeri perut yang hilang timbul, disertai dengan kembung bisa disertai dengan diare atau malah susah buang air besar.
Nyeri perut ini, kata Prof Ari, biasanya berkurang setelah buang air besar. Penyakit ini diangkat karena mengenai 10-15 % penduduk dunia.
Tidak ada perbedaan ras terhadap angka kejadian penyakit ini.Pasien dengan IBS bisa datang dengan mencret atau susah BAB.
Melalui pemeriksaan lebih lanjut tidak ditemukan kelainan pada pasien ini atau tidak ditemukan kelainan organik.
"IBS merupakan penyakit fungsional. Banyak pasien yang datang ke dokter dengan perut kembung kadang disertai nyeri perut dan diare, terutama setelah makan makanan tertentu misal terlalu berlemak atau terlalu pedas. Pasien bisa saja tidak merasakan keluhan ini sebelumnya," terang Prof Ari merinci.
Lantas, apakah penyakit IBS ini berbahaya sampai mengancam jiwa? Jawabannya, kata Prof Ari, tidak, tapi penyakit IBS ini akan mengganggu aktifitas pasien yang mengalami masalah IBS.
"Keluhan kembung dan nyeri perut ini tentu akan mengurangi kualitas hidup seseorang," imbuhnya.
Karena keluhan bisa timbul setiap saat atau setiap waktu yang biasanya dicetuskan oleh makanan tertentu atau faktor stres.
Faktor stres timbul bisa karena berbagai hal seperti kurang tidur, terlalu lelah, masalah keluarga, sekolah maupun masalah pekerjaan.
Pada sebagian perempuan keluhan IBS tercetus saat menstruasi dan saat kehamilan.
Penanganan pasien ini, lanjut Prof Ari, biasanya dengan menghindari makanan tertentu seperti makanan berlemak, makanan terlalu merangsang seperti makanan yang pedas, kopi, minuman bersoda.
Selain itu, obat-obatan juga diperlukan, seperti obat anti cemas sesuai kebutuhan,obat antikram (antispasmodik), antidiare atau pencahar tergantung keadaan BAB-nya.
Probiotik juga bisa diberikan terutama untuk IBS dengan keluhan susah BAB.
"Dengan berobat teratur dan menghindari faktor pencetus kita dapat mengendalikan penyakit ini" tutup Prof Ari..