Tingkatkan Kualitas Medis, Docquity Satukan 80 Ribu Dokter Indonesia

Vania Rossa | Frieda Isyana Putri | Suara.com

Senin, 02 Maret 2020 | 16:57 WIB
Tingkatkan Kualitas Medis, Docquity Satukan 80 Ribu Dokter Indonesia
Amit Vithal dan Indranil Roychowdury, Founder Docquity. (Suara.com/Frieda Isyana)

Suara.com - Semakin berkembangnya teknologi dalam dunia medis tak hanya pada alat-alatnya saja, namun kini juga mulai terbuka untuk menghubungkan satu dokter dengan lainnya. Terutama di Indonesia, para dokter tersebar di seluruh penjuru dan ada yang bertugas di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan (DTPK).

Keterbatasan informasi dan jauhnya jarak menjadi salah satu hambatan terbesar dalam dunia medis Indonesia. Oleh karena itu, Indranil Roychowdury bersama rekannya, Amit Vithal, membuat terobosan baru lewat aplikasi Docquity.

Kepada Suara.com, Amit memaparkan bahwa sekitar 80 ribu dokter di seluruh Indonesia kini sudah bergabung di dalam Docquity.

"Kami memberikan wadah bagi para dokter untuk saling belajar, saling bertanya, atau saling berbagai pengalaman mereka secara digital. Diharapkan akan membantu meningkatkan pemahaman akan bidang merek," kata pria berusia 42 tahun ini, pada Senin (2/3/2020).

Amit Vithal, Salah Satu Founder Docquity. (Suara.com/Frieda Isyana)
Amit Vithal, Salah Satu Founder Docquity. (Suara.com/Frieda Isyana)

Ditambahkan oleh Vice President of Partnership Docquity, dr Karina Andini, Docquity telah bekerjasama secara resmi dengan IDI dan PDGI, mencakup seluruh dokter umum, dokter spesialis, dan dokter gigi di seluruh Indonesia.

Mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas, untuk bisa menjangkau hingga DTPK, maka selain bekerjasama dengan IDI dan PDGI, mereka juga bekerja sama dengan beberapa perhimpunan kedokteran di Indonesia yang berada di cabang dan wilayah.

"Dari situ kami bisa menjangkau dokter-dokter yang ada di daerah. Selain itu juga melalui mulut ke mulut, dari dokter yang sudah pernah pakai menginformasikan bisa belajar menggunakan aplikasi ini, membuat kami ada perkumpulan secara organik juga," ujar Amit.

Amit mengatakan tak bisa sembarang dokter bisa bergabung, mereka harus melalui proses verifikasi. Walau memang membutuhkan banyak waktu, namun dalam jangka panjang ke depannya tentu akan sangat bermanfaat. Dr Dini menambahkan, dokter yang bergabung harus memasukkan nomor NPA IDI atau nomor STR (surat tanda registrasi) untuk membuktikan bahwa dokter tersebut memang telah terverifikasi di Indonesia.

Fitur-fitur Docquity

Aplikasi Docquity. (Google Play)
Aplikasi Docquity. (Google Play)

Beberapa fitur yang ditawarkan antara lain grup diskusi, obrolan pribadi, menonton webinar (seminar secara online), jurnal gratis, dan juga SKP (sasaran kinerja pegawai) yang lebih mudah secara online. Amit menyebut fitur SKP ini memudahkan para dokter untuk memperpanjang izin tanpa perlu meninggalkan tempat praktek mereka atau harus terbang ke kota lain untuk mengurusnya.

"Jadi dokter itu setiap 5 tahun harus memperpanjang izin prakteknya dengan mengumpulkan 250 SKP. Biasanya SKP ini didapatkan dengan mereka datang ke seminar. Yang namanya dokter di daerah terpencil itu butuh biaya butuh waktu, maka kami sediakan SKP itu dengan misalnya nonton webinar, segala sesuatunya bisa dilakukan secara online tanpa mereka harus datang secara fisik," imbuh Amit.

Apabila dokter di daerah terpencil mengalami kendala koneksi internet, fitur ini juga bisa dijalankan secara offline. Mulai dari memilih resolusi video sehingga mudah diunduh, lalu bisa diputar kembali tanpa menggunakan koneksi internet.

Terkait dengan isu virus corona, Docquity pun menyajikan grup diskusi yang berisi ratusan dokter. Mereka bisa berbagi update, penanganan, ataupun bila menemukan kasus atau suspek. Pihak Docquity juga meng-update harian mengenai jumlah kasus, berapa yang selesai, dan jumlah kematian, serta mengadakan webinar agar informasinya mencapai para dokter-dokter di daerah.

Grup ini juga sudah sesuai dengan standar HIPAA, di mana seluruh informasi terkait dengan pasien hanya bisa dibagikan dalam aplikasi Docquity saja.

"Kami berusaha menjawab tantangan-tantangan yang sekiranya dihadapi oleh para dokter di daerah terpencil. Tantangan awal karena dokter-dokter tersebar di daerah terpencil, sehingga dokter itu tidak bisa terhubung dengan baik satu sama lain. Untuk menjawab tantangan itu, untuk menghubungkan satu dokter dengan dokter lainnya secara digital (dibuatlah aplikasi ini)," tandas Amit.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cobra Dental Edukasi Kesadaran Pentingnya Periksa Gigi ke Dokter

Cobra Dental Edukasi Kesadaran Pentingnya Periksa Gigi ke Dokter

Health | Kamis, 20 Februari 2020 | 17:56 WIB

Dokter China yang Memperingatkan Pertama Kali Soal Virus Corona Meninggal

Dokter China yang Memperingatkan Pertama Kali Soal Virus Corona Meninggal

Health | Jum'at, 07 Februari 2020 | 08:14 WIB

Perhimpunan Dokter Paru Buka Suara Soal Proses Evakuasi WNI dari Wuhan

Perhimpunan Dokter Paru Buka Suara Soal Proses Evakuasi WNI dari Wuhan

Health | Minggu, 02 Februari 2020 | 15:29 WIB

Terkini

Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!

Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!

Health | Minggu, 10 Mei 2026 | 13:31 WIB

Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman

Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman

Health | Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:56 WIB

Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?

Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:05 WIB

Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?

Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:29 WIB

Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial

Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 15:22 WIB

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 11:49 WIB

Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak

Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 08:17 WIB

Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa

Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 08:01 WIB

Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak

Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 14:30 WIB

Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?

Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?

Health | Kamis, 07 Mei 2026 | 13:24 WIB