CEK FAKTA: Berjemur Sinar Matahari Bisa Bunuh Virus Corona Covid-19?

M. Reza Sulaiman | Suara.com

Selasa, 31 Maret 2020 | 06:55 WIB
CEK FAKTA: Berjemur Sinar Matahari Bisa Bunuh Virus Corona Covid-19?
Ilustrasi berjemur di bawah sinar matahari. (shutterstock)

Suara.com - CEK FAKTA: Berjemur Sinar Matahari Bisa Bunuh Virus Corona Covid-19?

Anjuran berjemur di bawah sinar matahari demi kekebalan tubuh sudah diketahui sejak lama. Namun kekinian, muncul pesan broadcast di media sosial hingga WhatsApp yang menyebut berjemur bisa mencegah tertular virus Corona Covid-19 karena virusnya mati. Benarkah?

Dalam pesan broadcast tersebut, disebutkan bahwa Anda diminta tidak pergi ke daerah dingin dan memperbanyak paparan sinar matahari. Sebab, virus akan hilang sepenuhnya saat terkena sinar matahari.

Narasi pesan:

“Teman sekelas keponakan laki-laki , lulus dengan gelar master, dan bekerja di Rumah Sakit Shenzen. Dia dipindahkan ke Wuhan untuk mempelajari virus pneumonia baru. Dia baru saja menelepon dan meminta saya untuk memberi tahu semua kerabat dan teman saya bahwa jika pilek dan dahak selama pilek, tidak dapat disimpulkan bahwa itu adalah pneumonia coronavirus tipe baru. Karena coronavirus pneumonia adalah batuk kering tanpa pilek, ini adalah cara paling sederhana untuk mengidentifikasinya. Dia juga menginformasikan bahwa tipe baru virus pneumonia koroner tidak tahan panas dan akan terbunuh dalam suhu 26-27 derajat. Karena itu, minumlah air panas untuk mencegah virus. Olahraga, Anda tidak akan terinfeksi virus. Jika Anda demam tinggi, tutupi selimut dan minumlah sup jahe untuk menambah energi panas tubuh tanpa perlu vaksin. Makan lebih banyak jahe, merica bawang putih, dan merica bisa menyelesaikannya,kurangi makan yg manis, asam, dan asin, dan jangan pergi ke daerah cuaca dingin. Virus akan hilang sepenuhnya saat terkena sinar matahari.”

Tidak hanya di Indonesia, pesan serupa pun ramai beredar di luar negeri. Salah satu yang menyebarkannya adalah David Friedman, seorang blogger gaya hidup.

"Menurut pendapat saya, menutup pantai dan karantina di rumah adalah keputusan buruk. Mendapatkan lebih banyak sinar matahari adalah langkah pencegahan terbaik untuk melindungi diri dari wabah virus Corona. Daripada hanya berdiam di kamar, pergilah ke halaman rumah Anda dan nikmati sinar matahari yang bisa menghancurkan virus!"

Penelusuran Suara.com:

Turnbackhoax.id --jaringan Suara.com-- pernah membuat postingan tertanggal 4 Maret 2020 dengan klaim serupa. Dalam postingan tersebut dijelaskan bahwa kabar ini tidak benar, berdasarkan keterangan dari Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekular Eijkman, Herawati Sudoyo.

Ilustrasi Matahari. [Shutterstock]
Ilustrasi Matahari. [Shutterstock]

Herawati menjelaskan bahwa belum ada penelitian mengenai virus corona yang bisa mati karena suhu. Herawati menambahkan bahwa virus corona bisa mati jika dipanaskan pada suhu 56 derajat celsius selama 30 menit.

Namun, kalau dikaitkan dengan virus yang hilang sepenuhnya dibawah sinar matahari, Herawati meragukannya. Ia mengingatkan bahwa suhu di Indonesia tidak sampai 56 derajat celsius. Sinar ultraviolet pun tidak dapat menembus intensitas yang dibutuhkan untuk membunuh virus.

"Jadi itu sangat spekulatif kalau dibilang temperatur akan mengurangi (potensi terjangkit Corona)," ujar Herawati.

Selanjutnya: Manfaat Sinar Matahari dan Kesimpulan

Sementara itu pakar kesehatan dr Tan Shot Yen menjelaskan dalam kanal YouTube Henry Remanlay, bahwa ada metode mematikan kuman, termasuk virus dan bakteri, menggunakan sinar ultraviolet. Namun inipun masih dalam penelitian.

"Mematikan kuman memang ada metode yang disebut memberikan cahaya ultraviolet, diberikan cahaya matahari, diberikan panas bahkan direbus. Tapi tidak benar bahwa orang dengan berjemur matahari itu kaya kita merebus virusnya. Itu tidak masuk akal," jelas ahli nutrisi Dokter Tan Shot Yen seperti Suara.com kutip dari kanal YouTube Henry Remanlay.

Laman Myth Busters atau pembasmi mitos Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan keterangan terkait penggunaan sinar ultraviolet untuk membunuh virus Corona Covid-19. Disebutkan bahwa sinar ultraviolet memang bisa membunuh virus jika disinari kepada suatu benda dalam waktu tertentu. Hanya saja dampaknya berbahaya jika disinari ke kulit manusia.

"Lampu sinar ultraviolet tidak boleh digunakan untuk mensterilkan tangan karena bisa menimbulkan radiasi dan menyebabkan kanker kulit," tulis WHO.

WHO menyebut sinar ultraviolet tidak bisa membunuh virus Corona Covid-19. (Dok. WHO)
WHO menyebut sinar ultraviolet tidak bisa membunuh virus Corona Covid-19. (Dok. WHO)

Penjelasan manfaat sinar matahari:

Lalu bagaimana dengan manfaat sinar matahari untuk kekebalan tubuh? Dokter Tan menjelaskan bahwa menjemur badan di bawah sinar matahari justru untuk mendapatkan vitamin D3. Vitamin D tersebut bisa didapat tanpa overdosis hanya dari cahaya matahari pagi.

Lebih lanjut, Dokter Tan memaparkan bahwa ada tiga jenis ultraviolet dari paparan sinar matahari, yakni ultraviolet a, ultraviolet b dan ultraviolet c. Sementara yang dibutuhkan tubuh manusia hanya ultraviolet b.

"Jadi, Ultraviolet b yang mengandung provitamin D3, masih Pro ya, itu bersama dengan kolesterol di bawah kulit kita akan dibentuk yang namanya vitamin D3. Inilah yang menjadi sumber kekebalan tubuh manusia," paparnya.

Sedangkan ultraviolet b, pada negara tropis seperti Indonesia, bisa dirasakan pada sekitar pukul 10 pagi.

"Jam 10 itu udah panas. Jadi, jangan jemur sampai gosong. Buat yang kulitnya terang, 15 menit cukup. Kalau yang kulitnya agak gelap ya mungkin butuh sekitar 20 menit," ujarnya.

Perempuan dan sinar matahari. (Shutterstock)
Sinar matahari bermanfaat untuk kekebalan tubuh. (Shutterstock)

Sementara paparan sinar matahari yang dikhawatirkan dapat menyebabkan kanker merupakan ultraviolet a. Dokter Tan menjelaskan, ultraviolet a memiliki sifat gelombang yang panjang.

"Jadi kalau pun matahari masih jauh banget, misalnya masih jam 6 atau setengah 6 cahaya matahari bernama gelombang ultraviolet a itu bisa masuk ke permukaan bumi. Ultraviolet ini yang harusnya kita hindari karena menyebabkan kanker dan keriput," tutupnya.

Kesimpulan: Konten menyesatkan/misleading content

Berdasarkan keterangan pakar-pakar di atas, diketahui sinar matahari memang memiliki manfaat baik bagi kekebalan tubuh. Meski begitu, berjemur di bawah sinar matahari tidak bisa membunuh virus Corona Covid-19 dan bukan cara utama pencegahan.

Cara utama mencegah tertular virus Corona Covid-19 saat ini adalah tinggal di dalam rumah dan tidak pergi ke mana-mana, rajin membersihkan lingkungan dengan disinfektan, dan juga cuci tangan pakai sabun.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jumlah Pasien Positif Corona di Sumut Bertambah Jadi 20 Orang

Jumlah Pasien Positif Corona di Sumut Bertambah Jadi 20 Orang

News | Selasa, 31 Maret 2020 | 05:55 WIB

Lockdown karena Corona, Italia Batasi Penjualan Masker untuk Warga

Lockdown karena Corona, Italia Batasi Penjualan Masker untuk Warga

Health | Selasa, 31 Maret 2020 | 06:00 WIB

Cegah Gorila Langka Tertular Virus Corona, Taman Nasional di Afrika Ditutup

Cegah Gorila Langka Tertular Virus Corona, Taman Nasional di Afrika Ditutup

Tekno | Selasa, 31 Maret 2020 | 06:30 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Health | Rabu, 01 April 2026 | 10:55 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB