Virus Corona: Dibandingkan Pandemi Sebelumnya, Mana yang Lebih Mematikan?

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah | Suara.com

Selasa, 31 Maret 2020 | 13:35 WIB
Virus Corona: Dibandingkan Pandemi Sebelumnya, Mana yang Lebih Mematikan?
Pandemi Virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Suara.com - Pandemi terakhir terjadi pada 2009 silam, yaitu H1N1 atau flu babi. Antara April 2009 hingga 2010, virus ini telah menginfeksi 1,4 miliar orang di seluruh dunia dan menewaskan antara 151.700 hingga 575.400 orang, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).

Menurut pakar Steffanie Strathdee, Dekan Asosiasi Ilmu Kesehatan Global di Departemen Kedokteran Universitas California San Diego, seharusnya pandemi flu babi ini menjadi tanda peringatan.

"Itu tidak berakhir menjadi pandemi yang menewaskan jutaan orang seperti yang kita khawatirkan, tetapi seharusnya menjadi peringatan. Dari semua perkiraan, Covid-19 akan menjadi pembunuh utama," tuturnya, dikutip dari Live Science.

Pandemi flu babi vs pandemi virus corona baru

Pandemi H1N1 adalah pandemi global kedua setelah flu Spanyol pada 1918 silam yang menjadi salah satu pandemi paling mematikan sepanjang sejarah.

Flu babi ini disebabkan oleh strain virus baru berasal dari Meksiko. Pada Juni 2009 ada cukup banyak kasus, sehingga Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah ini sebagai pandemi.

Pandemi virus flu babi (H1N1). [Sai Aung MAIN / AFP]
Pandemi virus flu babi (H1N1). [Sai Aung MAIN / AFP]

Di AS, antara April 2009 hingga April 2010, CDC memperkirakan ada 60,8 juta, dengan lebih dari 274.000 dirawat dan hampir 12.500 kematian (angka kematian sekitar 0,02%).

Sedangkan virus corona baru, sejauh ini tingkat kematian tinggi yaitu sekitar 2% (meski jumlah akan berubah seiring waktu). Meski terlihat kecil, jika diperkirakan dapat berarti jutaan kematian lagi.

Pandemi 2009 tercatat lebih banyak menyerang anak-anak dan orang dewasa muda, serta 80% kematian terjadi pada mereka yang usianya di bawah 65 tahun.

Berbeda dengan virus corona baru yang sejauh ini tercatat menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh rendah, termasuk orang tua di atas 60 tahun dan orang yang punya penyakit kronis.

Dilansir Live Science, flu H1N1 juga tidak lebih menular dibandingkan virus corona baru.

Nomor reproduksi dasar (R-nought value) adalah jumlah yang diharapkan dari orang yang dapat 'menangkap' virus dari satu orang yang terinfeksi.

Menurut ulasan yang terbit di jurnal BMC Infectious Disease, R-nought value adalah 1,46 untuk virus H1N1. Sedangkan untuk SARS-CoV-2, R-nought value diperkirakan antara 2 dan 2,5, untuk saat ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jepang Larang Warganya Kunjungi 73 Negara, Termasuk Indonesia?

Jepang Larang Warganya Kunjungi 73 Negara, Termasuk Indonesia?

News | Selasa, 31 Maret 2020 | 13:33 WIB

Tegal Lockdown, Warga Miskin dan Pekerja Medis Dapat Rp 110 Ribu per Hari

Tegal Lockdown, Warga Miskin dan Pekerja Medis Dapat Rp 110 Ribu per Hari

Jawa Tengah | Selasa, 31 Maret 2020 | 13:29 WIB

Cara Kerja Aplikasi Smartphone Pelacak Penyebaran Covid-19

Cara Kerja Aplikasi Smartphone Pelacak Penyebaran Covid-19

Video | Selasa, 31 Maret 2020 | 13:28 WIB

Terkini

Konflik Global Memanas, Menkes Dorong Ketahanan Farmasi Nasional dan Stabilitas Harga Obat

Konflik Global Memanas, Menkes Dorong Ketahanan Farmasi Nasional dan Stabilitas Harga Obat

Health | Sabtu, 18 April 2026 | 21:33 WIB

Rahasia Produk Kesehatan Laris di Marketplace: Review Positif Jadi Penentu Utama

Rahasia Produk Kesehatan Laris di Marketplace: Review Positif Jadi Penentu Utama

Health | Sabtu, 18 April 2026 | 12:00 WIB

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 21:10 WIB

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 18:54 WIB

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 14:42 WIB

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 12:31 WIB

Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan

Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan

Health | Kamis, 16 April 2026 | 16:45 WIB

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Health | Rabu, 15 April 2026 | 19:14 WIB

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Health | Rabu, 15 April 2026 | 15:33 WIB

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Health | Selasa, 14 April 2026 | 09:26 WIB