Jangan Asal Diagnosis Diri! Kenali Beda Takut, Cemas dan Phobia

Bimo Aria Fundrika, Lilis Varwati

Kamis, 07 Mei 2020 | 13:45 WIB
Jangan Asal Diagnosis Diri! Kenali Beda Takut, Cemas dan Phobia
ilustrasi Jangan Asal Diagnosis Diri! Kenali Beda Takut, Cemas dan Phobia. (Shutterstock)

Suara.com - Jangan Asal Diagnosis Diri! Kenali Beda Takut, Cemas dan Phobia

Ketakutan setiap orang mungkin bisa berbeda-beda. Akibat rasa takut, orang terkadang menyebut dirinya phobia terhadap benda atau hewan tertentu. Padahal, ternyata phobia dan takut berbeda. 

Psikiater dari RS Siloam Bogor Jiemi Ardian menjelaskan phobia merupakan ketakutan terhadap objek yang pasti tapi tidak berbahaya. Misalnya phobia kucing atau pobia kodok karena kedua hewan itu kemungkinan tidak bisa mengancam nyawa manusia. 

Jiemi menyangkal jika ada orang yang mengaku phobia terhadap harimau atau beruang. Menurutnya itu bukan phobia karena kedua hewan itu termasuk buas dan bisa mengancam nyawa manusia.

Ilustrasi perempuan ketakutan. (Shutterstock)
Ilustrasi perempuan ketakutan. (Shutterstock)

"Phobia itu ketakutan yang berat dan khas sampai membuat kita menghindar. Bukan ketakutan yang biasa tapi objeknya tidak berbahaya," jelas Jiemi saat melakukan siaran langsung Instagram bersama PDSKJI Indonesia, Rabu (6/5/2020).

Sementara takut, lanjutnya, objek jelas dan mengandung bahaya. Biasanya terjadi pada hal wajar sehari-hari seperti takut menyeberang jalan raya tanpa jempatan penyeberangan.

Jiemi mengingatkan, yang perlu diperhatikan pula membedakan rasa takut dan cemas. 

"Cemas itu objek gak jelas dan bisa jadi gak bahaya. Contoh 'aku cemas waktu covid'. Sebenarnya pikiran kita ada banyak. Ada tentang masa depan, keluarga, finansial, objeknya gak jelas, bisa variasi sekali dan bisa jadi itu gak bahaya tapi bisa jadi bahaya," katanya. 

Dalam mengungkapkan rasa cemas, pemilihan bahasa sangat penting karena bisa mempengaruhi kondisi mental. Jiemi menyarankan sebaiknya gunakan bahasa normal, jangan pakai bahasa medis seperti anxiety disorder. 

baca juga

"Jadi kita milih 'sumpah gua anxiety parah banget' sama kamu ngomong 'saya lagi cemas nih', situasinya sama tapi kalau pilih pakai bahasa lebay kondisi mu akan semakin terganggu, makin gak enak," jelasnya. 

Pemilihan bahasa yang tidak tepat justru merugikan diri sendiri karena persepsi terhadap realita dibuat salah dan melakukan diagnosis sendiri. Jiemi mengatakan bahwa memakai bahasa normal justru bisa menenangkan diri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cemas Bikin Sistem Imunitas Tubuh Turun, Ini Tips Bangkitkan Optimisme

Cemas Bikin Sistem Imunitas Tubuh Turun, Ini Tips Bangkitkan Optimisme

Health | Jum'at, 17 April 2020 | 05:30 WIB

Psikiater: Dalam Situasi Pandemi, Cemas dan Marah Itu Hal Wajar

Psikiater: Dalam Situasi Pandemi, Cemas dan Marah Itu Hal Wajar

Lifestyle | Senin, 13 April 2020 | 12:30 WIB

Cemas Wabah Covid-19 Bikin Susah Tidur? Ini Enam Cara Untuk Mengatasinya!

Cemas Wabah Covid-19 Bikin Susah Tidur? Ini Enam Cara Untuk Mengatasinya!

Lifestyle | Minggu, 29 Maret 2020 | 19:50 WIB

Terkini

BPBD Kota Banjar Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan

BPBD Kota Banjar Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan

Jabar | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:19 WIB

Gaji Kepala Daerah Mau Naik, Pakar UGM: Bagaimana Nasib Guru dan Nakes?

Gaji Kepala Daerah Mau Naik, Pakar UGM: Bagaimana Nasib Guru dan Nakes?

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:18 WIB

Misteri Kematian Sutrimo, Polisi Periksa Sopir Ambulans dan 4 Saksi Kunci

Misteri Kematian Sutrimo, Polisi Periksa Sopir Ambulans dan 4 Saksi Kunci

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:17 WIB

Tangsel Mulai Kekeringan, 222 KK di Keranggan dan Serpong Krisis Air Bersih

Tangsel Mulai Kekeringan, 222 KK di Keranggan dan Serpong Krisis Air Bersih

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:15 WIB

Jakarta Akhiri Open Dumping, Pengamat Dorong Kota Penyangga Tiru Sistem Pengelolaan Sampah

Jakarta Akhiri Open Dumping, Pengamat Dorong Kota Penyangga Tiru Sistem Pengelolaan Sampah

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:10 WIB

Tayang 26 Agustus di Bioskop, The Journey to Gyeongju Angkat Tema Revenge

Tayang 26 Agustus di Bioskop, The Journey to Gyeongju Angkat Tema Revenge

Your Say | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:10 WIB

OLXmobbi Tebar Cashback Hingga 35 Juta Tukar Tambah Mobil Bekas ke Mobil Baru di GIIAS 2026

OLXmobbi Tebar Cashback Hingga 35 Juta Tukar Tambah Mobil Bekas ke Mobil Baru di GIIAS 2026

Otomotif | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:06 WIB

Pilot Malaysia Bawa 170 Penumpang ke Jakarta dalam Pengaruh Narkoba

Pilot Malaysia Bawa 170 Penumpang ke Jakarta dalam Pengaruh Narkoba

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:03 WIB

Polrestabes Surabaya Buru Pelaku Lain Kasus Pembacokan Anggota PSHT, Sejumlah Nama Masuk DPO

Polrestabes Surabaya Buru Pelaku Lain Kasus Pembacokan Anggota PSHT, Sejumlah Nama Masuk DPO

Jatim | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:01 WIB

Akal-akalan Komisi Fiktif Asuransi Pelni Rp15,6 Miliar, 4 Petinggi Resmi Pakai Rompi Oranye KPK

Akal-akalan Komisi Fiktif Asuransi Pelni Rp15,6 Miliar, 4 Petinggi Resmi Pakai Rompi Oranye KPK

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:01 WIB

×