Masa Isolasi di Rumah Aja Bisa Perburuk Dermatillomania, ini Sebabnya!

Silfa Humairah Utami | Shevinna Putti Anggraeni
Masa Isolasi di Rumah Aja Bisa Perburuk Dermatillomania, ini Sebabnya!
Ilustrasi kulit terluka (Shutterstock)

Kelamaan di rumah selama pandemi virus corona Covud-19 bisa memperburuk kondisi orang dengan dermatillomania.

Suara.com - Pandemi virus corona Covid-19 bisa berdampak banyak pada kesehatan mental akibat masa isolasi mandiri di rumah. Situasi ini juga bisa memperburuk kondisi orang dengan dermatillomania.

Dermatillomania juga dikenal sebagai gangguan eksoriasi yang membuat seseorang berkeinginan menggaruk atau mengelupas kulitnya.

Karena itu, masa isolasi mandiri bisa membuat penderita dermatillomania lebih sering melukai kulitnya.

Sedangkan, ahli kesehatan meminta semua orang untuk tidak menyentuh wajah selama pandemi virus corona Covid-19. Sayangnya, orang dengan gangguan kompulsif yang membuatnya kesulitan berhenti melukai, menggaruk dan mengelupas kulit.

James (26), seorang pria yang menderita dematillomania sejak muda. Saat itu ia percaya kondisinya disebabkan oleh kepindahannya ke China pada usia 8 tahun dan menjumpai lebih banyak nyamuk.

Ia pun berusaha mencari cara untuk mengalihkan perasaan cemasnya dengan menggigit dan mengelupas kulit. Lalu, ia berhasil mengontrol impulsnya dengan melakukan terapi pada Oktober 2019.

Ilustrasi masalah kulit. (Shutterstock)
Ilustrasi masalah kulit. (Shutterstock)

Tetapi, kondisinya kembali kambuh ketika pandemi virus corona Covid-19 telah membuat rencana pernikahannya di bulan April 2020 terpaksa dibatalkan.

Hal sama juga terjadi pada Sarah (26) yang menderita dematillomania dan makin parah ketika tidak ada kerjaan atau acara.

"Saya selalu menggigit dan mengambil kutikula dan kuku saya. Tapi, beberapa tahun lalu ketika cemas dan depresi menjalani perkuliahan. Saya mulai mencabut rambut kepala dan bagian tubuh lain. Saya juga mengelupas kulit di kaki," kata Sarah dikutip dari Metro.co.uk.

Saat itu Sarah menyadari kebiasaannya melukai kulit, kuku dan rambutnya tidak normal. Ia menyadarinya ketika mengelupas kulit di kakinya sampai berdarah.

"Saya pikir kecemasan dan fokus yang sempit selama masa isolasi mandiri telah membuat kondisiku jauh lebih parah," ujarnya.

Orang dengan dermatillomania senang mengelupas kulit sebagai bentuk sesi intensif dengan menggaruk bintik-bitik kecil di kulit dan menyakitkan. Tetapi, orang dalam kondisi ini biasanya tidak menyadari kebiasannya.

Sementara, kebosanan dan kecemasan selama masa isolasi mandiri bisa membuat orang dengan dermatillomania lebih sering mengelupas kulitnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS