Peta Cuaca Bisa Prediksi Gelombang Kedua Virus Corona, Ini Klaim Peneliti!

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni | Suara.com

Jum'at, 12 Juni 2020 | 14:00 WIB
Peta Cuaca Bisa Prediksi Gelombang Kedua Virus Corona, Ini Klaim Peneliti!
Ilustrasi cuaca - (Pixabay/193584)

Suara.com - Gelombang kedua wabah virus corona Covid-19 bisa terjadi selama vaksin belum ditemukan. Tapi, studi ilmiah baru menunjukkan peta cuaca bisa membantu memprediksi ancaman gelombang virus corona Covid-19 berikutnya.

Dalam studi tersebut, para peneliti menemukan bahwa daerah-daerah yang terkena dampak awal wabah virus berada di garis lintang utara, yakni Wuhan di Asia, Paris di Eropa dan Seattle di Amerika Serikat.

Semuanya merupakan wilayah yang memiliki suhu dingin dan kelembaban relatif rendah dari Januari hingga Maret.

Studi ini menyiratkan bahwa virus corona Covid-19 berperilaku mirip dengan virus pernapasan musiman, seperti dulu yang menyebar cepat di musim dingin dan musim semi.

Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Maryland mengatakan bahwa peta cuaca bisa membantu ilmuwan lain dan pembuat kebijakan memprediksi waktu dan tempat terjadinya gelombang kedua virus corona Covid-19.

Para peneliti pun mengumpulkan data iklim dari 50 kota di seluruh dunia antara Januari hingga Maret 2020 untuk penelitian.

Delapan wilayah dengan penyebaran virus substansial, termasuk Daegu di Korea Selatan, Spanyol, Milan di Italia, Paris di Perancis, Qom di Iran, Seattle di AS, Tokyo di Jepang dan Wuhan di China dan dibandingkan dengan 42 wilayah yang jumlah kasus virusnya lebih sedikit.

Substansial dalam hal ini didefinisikan sebagai negara yang melaporkan setidaknya 10 kematian akibat virus corona Covid-19 pada 10 Maret 2020.

Mulai November 2019 hingga Maret 2020, 8 wilayah itu berada di tepi lintang sempit antara 30 derajat LU dan 50 derajat LU.

Namun, kota lain seperti Moskow yang berada pada 56 derajat LU, tidak terlihat adanya penyebaran virus corona Covid-19. Kemudian, para peneliti melihat suhu di dekat permukaan bumi, tempat sebagian besar aktivitas manusia berlangsung.

Ilustrasi virus corona. [Shutterstock]
Ilustrasi virus corona. [Shutterstock]

Hasilnya menunjukkan bahwa suhu cuaca di Wuhan dan 7 wilayah lainnya berada di antara 4 derajat celcius dan 9 derajat celcius selama Januari hingga Febuari 2020.

Lalu, 20 hingga 30 hari sebelum kematian pertama akibat virus corona Covid-19 di setiap wilayah pun hampir sama. Rata-rata suhunya berada di antara 3 derajat celcius hingga 9 derajat celcius.

Selain itu, Dr Mohammad Sajadi, seorang profesor di Institut Virologi Manusia di Fakultas Kedokteran Universitas Maryland, juga mengatakan semua kota itu juga memiliki kelembaban yang rendah.

"Saya tidak mengira suhu menjadi begitu dekat dan rentang kelembabannya begitu dekat," kata Dr Mohammad Sajadi dikutip dari The Sun.

Suhu dingin dan kelembaban yang rendah juga bisa memengaruhi kecepatan virus berkembang biak di rongga hidung. Sementara, gangguan imunitas membuat virus lebih mudah bergerak dan menyebar ke seluruh tubuh.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Di Tengah Protes Antirasisme, Kasus Virus Corona di Amerika Tembus 2 Juta

Di Tengah Protes Antirasisme, Kasus Virus Corona di Amerika Tembus 2 Juta

Health | Jum'at, 12 Juni 2020 | 10:28 WIB

Ahli: Pandemi Global Berikutnya 100 Kali Lebih Bahaya dari Virus Corona

Ahli: Pandemi Global Berikutnya 100 Kali Lebih Bahaya dari Virus Corona

Health | Kamis, 11 Juni 2020 | 17:51 WIB

Pariwisata Mulai Dibuka, Ini 7 Langkah Pastikan Hotel Aman dari Covid-19

Pariwisata Mulai Dibuka, Ini 7 Langkah Pastikan Hotel Aman dari Covid-19

Lifestyle | Kamis, 11 Juni 2020 | 16:59 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Health | Rabu, 01 April 2026 | 10:55 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB