Array

Studi: Penyintas Covid-19 Alami Masalah Mental Lebih Berat dari Pasien SARS

Senin, 29 Juni 2020 | 16:13 WIB
Studi: Penyintas Covid-19 Alami Masalah Mental Lebih Berat dari Pasien SARS
Ilustrasi virus corona, covid-19. (Pexels/@cottonbro)

Suara.com - Sebuah laporan baru menunjukkan bahwa kesehatan mental para penyintas Covid-19 lebih buruk daripada para penyintas SARS. Laporan tersebut dirilis di sebuah forum di Guangzhou, Provinsi Guangdong China Selatan pada Sabtu (27/6/2020).

Dilansir dari Global Times, laporan tersebut mencakup 50.000 sampel dan dilakukan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan dan Rumah Sakit China di Beijing.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa orang yang selamat dari Covid-19 menunjukkan masalah kesehatan mental yang menonjol. 31,6 persen dari mereka yang disurvei menunjukkan gejala kecemasan, 27,9 persen orang mengalami depresi, sementara 29,2 persen, dan stres akut 24,4 persen.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa staf medis, terutama perawat mengaami kecemasan tertinggi, setidaknya sekitar 46 persen di antara staf medis.

Selain itu, pekerja garis depan dan keluarga mereka, serta orang-orang berpenghasilan rendah di masyarakat juga rentan terhadap masalah kesehatan mental yang mencerminkan bahwa epidemi telah memengaruhi kesehatan mental masyarakat umum.

Perlu dicatat bahwa dibandingkan dengan korban SARS, kesehatan mental pasien Covid-19 tampaknya lebih serius. Investigasi menunjukkan bahwa insiden depresi, kecemasan, insomnia, dan stres akut pada kasus Covid-19 masing-masing mencapai 75 persen, 71 persen, 68 persen, dan 71 persen. 

Sementara gangguan stres pascatrauma (PTSD), kecemasan dan depresi di antara pasien SARS yang selamat masing-masing adalah 41,7 persen, 17,5 persen, dan 11,1 persen.

"Korban Covid-19 tidak hanya menderita rasa sakit fisik, tetapi juga menanggung rasa takut akan kematian yang tidak diketahui dan cenderung memiliki perasaan negatif," kata laporan itu.

Ilustrasi virus corona, covid-19. (Pexels/@Anna Nandhu Kumar)
Ilustrasi virus corona, covid-19. (Pexels/@Anna Nandhu Kumar)

Peng Kaiping, dekan Fakultas Ilmu Sosial dan direktur Departemen Psikologi di Universitas Tsinghua, mengatakan kepada Global Times pada hari Senin (29/6/2020) bahwa laporan ilmiah telah menunjukkan bahwa rasa sakit fisik yang diderita pasien dapat terus memburuk hingga tiga bulan setelah infeksi.

Baca Juga: Waspada, Kecemasan dan Tekanan Darah Tinggi Saling Berhubungan

"Reaksi stres orang-orang seperti depresi, PTSD, dan kecemasan membutuhkan periode waktu untuk muncul dan yang paling penting bagi mereka adalah memiliki kesadaran dan pengetahuan ketika menghadapi masalah ini," kata Peng.

Dia menyarankan pikiran positif (refleksi diri dan berbicara dengan seseorang), emosi (perasaan syukur) dan motivasi dapat membantu pasien pulih.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI