Harapan Baru, Peneliti Temukan Tes untuk Deteksi Endometriosis Lebih Cepat

Silfa Humairah Utami | Shevinna Putti Anggraeni
Harapan Baru, Peneliti Temukan Tes untuk Deteksi Endometriosis Lebih Cepat
Ilustrasi perempuan menderita endometriosis. (Shutterstock)

Peneliti menemukan metode baru untuk mendiagnosis endometriosis lebih awal dan menentukan perawatan yang tepat.

Suara.com - Endometriosis adalah suatu kondisi di mana jaringan yang mirip dengan lapisan rahim mulai tumbuh di tempat lain, seperti saluran tuba.

Gejala endometriosis meliputi nyeri menstruasi yang parah, nyeri saat berhubungan seks, sakit punggung, darah dalam urine, masalah pencernaan dan kesulitan hamil.

Parahnya lagi, sebagian besar wanita mengalami pertumbuhan jaringan ini tidak hanya di organ reproduksi. Artinya, kondisi ini bisa menyebabkan masalah kesehatan yang sangat dahsyat bila dibiarkan.

Namun, diagnosis kondisi ini mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun, karena gejala endometriosis yang sangat bervariasi.

Eastenders Mica Keeble, salah satu penderita endometriosis yang membuatnya mengalami kerusakan paru-paru berkali-kali. Selain itu, ia juga mengalami pendarahan selama 3 bulan berturut-turut.

Saat ini, satu-satunya tes untuk memastikan seseorang menderita endometriosis adalah laparoskopi. Lantas, operasi invasif adalah tindakan medis untuk mengangkat jaringan endometriosis.

Ilustrasi sakit perut (shutterstock)
Ilustrasi perempuan menderita endometriosis (shutterstock)

Tetapi, penelitian baru dari University of California menunjukkan bahwa DNA bisa menghadirkan alat diagnostik baru.

Temuan ini bisa membantu tenaga medis untuk menentukan perawatan endometriosis yang lebih baik dan wanita yang menderita kondisi ini bisa didiagnosis lebih awal.

Para ilmuwan telah membandingkan DNA di dalam rahim wanita yang terkena endometriosis dan wanita yang tidak mengalami masalah kesehatan tersebut.

Tingkat keparahan kondisi ini ditunjukkan dari ragam gejalanya dan respons hormon siklus menstruasinya yang berbeda-beda.

Dalam studi tersebut, para peneliti mengamati fibroblast berjalan di endometrium, sel yang mengatur sel-sel dalam lapisan rahim.

Peristiwa metilasi sel atau perkembangan dibandingkan pada DNA wanita dalam 5 tahap endometriosis dan wanita yang sehat. Peneliti melihat pola dan fungsi yang baik-baik saja setelah sel-sel terpapar hormon.

Hormon yang dimaksud adalah estrogen, progesteron dan keduanya, yakni hormon utama yang terlibat dalam menstruasi.

Studi ini menunjukkan bahwa pola metilasi dan fungsi gen antara semua kelompok sel sebelum terpapar hormon dengan paparan masing-masing jenis individu, kemudian terkombinasi.

Perbedaan dalam sel antara tahap satu dan lima sel endometrium bisa berarti bahwa ada 2 subtipe kondisi daripada 1 kondisi dengan berbagai tahap.

"Data menunjukkan bahwa interaksi yang tepat dari hormon dan metilasi DNA sangat penting dalam fungsi rahim normal," kata Prof Sahar Houshdaran, penulis utama studi dikutip dari Daily Star.

Perubahan dalam interaski inilah memainkan peran dalam infertilitas yang sering menyertai endometriosis.

"Temuan ini meningkatkan kemungkinan bahwa perbedaan dalam pola metilasi suatu hari bisa digunakan untuk mendiagnosis endometriosis dan menentukan perawatan yang tepat," kata Profesor Stuart Moss, dari NICHD's Fertility and Infertility Branch.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS