Suara.com - Saat ini pihak berwenang di daerah otonom di China Utara tengah mengkhawatirkan adanya dugaan bubonic plague atau wabah pes setelah seorang petani terkena wabah itu, Sabtu (4/7/2020).
Pejabat kesehatan di Bayannur, kota di Mongolia Dalam, telah mengeluarkan peringatan tingkat ketiga pada Minggu (5/7/2020), berisi larangan untuk berburu dan memakan hewan liar yang dapat memicu wabah hingga akhir tahun.
Meski kondisinya sudah stabil, pejabat kesehatan belum diketahui bagaimana petani ini bisa terinfeksi.
Wabah pes umumnya disebarkan oleh tikus. Apabila tidak segera diobati, kondisi penderita bisa fatal.
Gejalanya termasuk demam, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit kepala, kedinginan dan kelemahan. Umumnya pengobatan menggunakan antibiotik.
Penyakit Pasien ini disebabkan oleh bakteri Yaserina peptis, dan yang terinfeksi dapat mengembangkan gejala seperti flu, dari satu hingga tujuh hari.

Bakteri dapat masuk melalui gigitan kutu, kemudian melakukan perjalanan ke kelenjar getah bening. Ini dapat menyebabkan kelenjar pecah serta bengkak.
Untuk mendiagnosis, dokter dapat melakukan tes pada darah, dahak, atau cairan di kelenjar getah bening untuk mendeteksi bakteri pada pasien.
Dilansir The Health Site, penyakit ini pernah menyebabkan wabah Black Death pada abad ke-14 di Eropa, Asia, dan Afrika, menyebabkan 50 juta kasus kematian.
Seperti negara lain, China juga rentan dengan infeksi bakteri. Pada 2009 hingga 2018 tercatat ada 26 kasus pes, dengan 11 kematian.
Di tengah wabah pes di daerah yang memiliki kemungkinan besar untuk terjadi, masyarakat diimbau untuk tidak menangani hewan mati.
Antibiotik seperti streptomosin, gentamisin, dan doksisiklin telah terbukti dapat mengobati wabah. Apabila dibiarkan tanpa pengobatan, penyakit pes mengakibatkan kematian dari 30% hingga 90% pada orang yang terinfeksi.
Antara 2010 hingga 2015, telah tercatat 3248 kasus di seluruh dunia dan 584 kematian terkait wabah pes. Kasus tertinggi dilaporkan di Republik Demokratik Kongo, Madagaskar dan Peru.