Kasihan, Anak-anak Pengungsi Stres karena Pandemi COVID-19

M. Reza Sulaiman Suara.Com
Kamis, 03 September 2020 | 05:05 WIB
Kasihan, Anak-anak Pengungsi Stres karena Pandemi COVID-19
Pengungsi Palestina di Jakarta. (Suara.com/Yasir)

Suara.com - Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan tubuh, namun juga kesehatan jiwa. Studi menyebut, anak-anak pengungsi mengalami stres berkepanjangan gara-gara pandemi.

Dilansir ANTARA, laporan yang dipublikasi oleh Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) mengatakan anak-anak terlantar di kawasan Timur Tengah menjadi 45 persen lebih stres sejak pandemi COVID-19 mewabah.

Sementara 88 persen dari anak-anak pengungsi dan terlantar di Suriah, Yaman, Irak dan Yordania dilaporkan sedang mengalami stres karena COVID-19, dan 75 persen mengaku bahwa mereka takut terinfeksi penyakit tersebut.

"Anak-anak yang terlantar di Yaman memperlihatkan angka kenaikan tertinggi dalam level stres dibanding level sebelum pandemi, dengan kenaikan 65 persen," kata NRC.

Stres datang dari tanggung jawab besar yang dirasakan oleh anak-anak pengungsi.

Selain mengurus diri sendiri, mereka juga harus memikirkan anggota keluar lain yang memiliki kondisi lebih buruk.

"Pandemi juga memaksa kebanyakan anak-anak untuk merawat adiknya, mengambil tanggung jawab orang dewasa yang meniadakan mereka dari masa kanak-kanak mereka. Ketika ditanya bagaimana mereka menghabiskan waktunya, jumlah tertinggi anak-anak, yakni 42 persen, menjawab mereka menjaga saudara laki-laki dan perempuannya," tambahnya.

Simpang siurnya pemberitaan tentang COVID-19 juga tidak memberikan efek baik, mengingat risiko kematian bisa terjadi pada siapa saja yang terinfeksi.

"Anak-anak yang sebelumnya mengalami peristiwa traumatik lebih rentan terhadap stres baru. Situasi COVID yang baru mampu menyerupai pengalaman traumatik terdahulu. Itu adalah perasaan yang mengancam kehidupan, kemungkinan masalah kesehatan yang parah dan kematian serta kehancuran," kata Jon-Hakon Schultz, psikolog pendidikan di Universitas Arktik Norwegia.

Baca Juga: Kisah Jawahir Roble, dari Pengungsi jadi Wasit Berhijab Pertama di Inggris

Apalagi, anak-anak pengungsi kerap mengalami pengalaman traumatik, seperti kehilangan rumah dan keluarga, akibat perang.

"Dan perasaan ini mirip dengan yang mereka rasakan selama pemboman, selama melarikan diri, selama masa perang. Jika kita tidak dapat melihat anak-anak kembali ke sekolah, maka mereka akan menderita selama sisa hidupnya," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI