Suara.com - Ujicoba vaksin Covid-19 Oxford hasil kerja sama dengan perusahaan AstraZeneca dihentikan karena salah satu relawan alami reaksi serius yang tidak bisa dijelaskan. Padahal vaksin tersebut merupakan salah satu kandidat vaksin potensial yang sedang diuji klinis tahap 3 akhir kepada manusia di berbagai negara. Itu artinya, vaksin bernama ChAdOx1 nCoV-19 ini harus mundur selangkah dan dievaluasi ulang.
Meski begitu, masih ada beberapa kandidat vaksin Covid-19 lain yang bisa jadi harapan warga dunia untuk mengatasi pandemi ini, yang tingkat kemajuannya tidak kalah dengan vaksin Covid-19 AstraZeneca. Ini dia, seperti dilansir dari Live Science, Rabu (9/9/2020)
1. Vaksin Sinovac
Disebut PiCoVacc, kini sedang dikembangkan Sinovac Biotech di Beijing, China, yang terbukti ampuh melindungi monyet rhesus macaque dari infeksi Covid-19. Demikian seperti disebutkan dalam penelitian yang diterbitkan 3 Juli di jurnal Science .
Perusahaan Sinovac membuktikan jika vaksin ini aman dan terbukti dalam uji klinis tahap awal, setelah dicoba kepada 8.870 peserta di Brasil. Kandidat vaksin ini juga sedang diuji coba di Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (UNPAD) dengan target 1.620 relawan.
Vaksin ini terbuat dari virus SARS-CoV-2 yang tidak aktif. Virus mati yang dilemahkan ini akan melawan virus hidup, dan menurut Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) AS, virus yang tidak aktif ini mampu memperkuat sistem kekebalan tubuh.
2. Vaksin Sinofarm
Vaksin kandidat China National Pharmaceutical Group, Sinopharm ini dibuat dari virus yang tidak aktif. Pada 13 Agustus, perusahaan mempublikasikan data dari uji klinis fase 1 dan fase 2 di jurnal JAMA. Dalam uji coba fase 1, sebanyak 96 orang dewasa sehat secara acak menerima dosis vaksin rendah, sedang, dan tinggi. Tapi beberapa juga menerima aluminium hidroksida sebagai pil plasebo.
Peserta kemudian secara acak kembali dilanjutkan diberi vaksin dosis kedua dan ketiga atau plasebo masing-masing setelah 28 hari dan 56 hari. Hasilnya ditemukan vaksin mampu memicu tubuh memproduksi antibodi penawar virus.
Sedangkan peserta yang menerima plasebo atau bukan vaksin, 12,5 persen dari mereka mengalami efek yang cukup berat. Sedangkan perserta yang menerima vaksin dosis rendah, sedang, dan tinggi, masing-masing 20,8 persen, 16,7 persen, dan 25 persen mengalami reaksi merugikan ringan.
Kini perusahan sedang memulai uji coba fase 3 di Abu Dhabi, yang akan merekrut hingga 15.000 relawan. Nantinya mereka akan menerima satu dari dua jenis vaksin atau plasebo.
3. Vaksin Moderna
Kandidat vaksin ini bernama mRNA-1273, yang dikembangkan perusahaan biotek AS Moderna bekerja sama dengan National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID). Vaksin ini jadi yang pertama diujikan kepada manusia di AS.
Mengandalkan teknologi yang disebut messenger RNA (mRNA), vaksin ini terdiri dari virus yang dilemahkan atau tidak aktif. Protein dari virus dibuat untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Materi genetik dalam vaksin akan mengajarkan sel untuk membangun protein virus tersendiri dalam menghadapi lonjakan Covid-19. Sehingga jika seseorang terpapar virus, tubuh dengan cepat mengenali dan melawannya.
Vaksin mRNA kemungkinan lebih tahan lama dari patogen yang bisa bermutasi seperti Covid-19 dan virus lainnya. Pada 14 Juli lalu, Moderna mempublikasi hasil uji coba klinis fase 1 yang menjanjikan kepada 45 orang, menurut laman The New England Journal of Medicine.
4. Vaksin CanSino Biologics
CanSino Biologics bekerja sama dengan Institut Bioteknologi Beijing mengembangkan kandidat vaksin menggunakan adenovirus yang dilemahkan. Berbeda dengan vaksin buatan Oxford yang mengandalkan adenovirus yang menginfeksi simpanse, CanSino Biologics menggunakan adenovirus yang menginfeksi manusia.
Bersama Moderna, tim pembuat vaksin ini menerbitkan hasil uji coba fase 2 mereka pada 20 Juli di jurnal The Lancet. Uji coba dilakukan di Wuhan, China, melibatkan 508 relawan yang secara acak menerima satu dari dua dosis vaksin dan pil plasebo.
Hasilnya menunjukkan tidak ada efek samping yang serius. Meski beberapa orang dilaporkan mengalami efek samping ringan seperti demam, kelelahan, dan nyeri di lokasi bekas suntikkan.