Vaksin Covid-19 Oxford Bermasalah, Ini 5 Kandidat Vaksin Potensial Lainnya

Vania Rossa, Dini Afrianti Efendi

Rabu, 09 September 2020 | 15:29 WIB
Vaksin Covid-19 Oxford Bermasalah, Ini 5 Kandidat Vaksin Potensial Lainnya
Peneliti menunjukan vaksin Covid-19 yang dikembangkan laboratorium Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gameleya, Moskow, Rusia, 6 Agustus 2020. [Handout / Russian Direct Investment Fund / AFP]

Suara.com - Ujicoba vaksin Covid-19 Oxford hasil kerja sama dengan perusahaan AstraZeneca dihentikan karena salah satu relawan alami reaksi serius yang tidak bisa dijelaskan. Padahal vaksin tersebut merupakan salah satu kandidat vaksin potensial yang sedang diuji klinis tahap 3 akhir kepada manusia di berbagai negara. Itu artinya, vaksin bernama ChAdOx1 nCoV-19 ini harus mundur selangkah dan dievaluasi ulang.

Meski begitu, masih ada beberapa kandidat vaksin Covid-19 lain yang bisa jadi harapan warga dunia untuk mengatasi pandemi ini, yang tingkat kemajuannya tidak kalah dengan vaksin Covid-19 AstraZeneca. Ini dia, seperti dilansir dari Live Science, Rabu (9/9/2020)

1. Vaksin Sinovac
Disebut PiCoVacc, kini sedang dikembangkan Sinovac Biotech di Beijing, China, yang terbukti ampuh melindungi monyet rhesus macaque dari infeksi Covid-19. Demikian seperti disebutkan dalam penelitian yang diterbitkan 3 Juli di jurnal Science .

Perusahaan Sinovac membuktikan jika vaksin ini aman dan terbukti dalam uji klinis tahap awal, setelah dicoba kepada 8.870 peserta di Brasil. Kandidat vaksin ini juga sedang diuji coba di Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (UNPAD) dengan target 1.620 relawan.

Vaksin ini terbuat dari virus SARS-CoV-2 yang tidak aktif. Virus mati yang dilemahkan ini akan melawan virus hidup, dan menurut Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) AS, virus yang tidak aktif ini mampu memperkuat sistem kekebalan tubuh.

2. Vaksin Sinofarm
Vaksin kandidat China National Pharmaceutical Group, Sinopharm ini dibuat dari virus yang tidak aktif. Pada 13 Agustus, perusahaan mempublikasikan data dari uji klinis fase 1 dan fase 2 di jurnal JAMA. Dalam uji coba fase 1, sebanyak 96 orang dewasa sehat secara acak menerima dosis vaksin rendah, sedang, dan tinggi. Tapi beberapa juga menerima aluminium hidroksida sebagai pil plasebo.

Peserta kemudian secara acak kembali dilanjutkan diberi vaksin dosis kedua dan ketiga atau plasebo masing-masing setelah 28 hari dan 56 hari. Hasilnya ditemukan vaksin mampu memicu tubuh memproduksi antibodi penawar virus.

Sedangkan peserta yang menerima plasebo atau bukan vaksin, 12,5 persen dari mereka mengalami efek yang cukup berat. Sedangkan perserta yang menerima vaksin dosis rendah, sedang, dan tinggi, masing-masing 20,8 persen, 16,7 persen, dan 25 persen mengalami reaksi merugikan ringan.

Kini perusahan sedang memulai uji coba fase 3 di Abu Dhabi, yang akan merekrut hingga 15.000 relawan. Nantinya mereka akan menerima satu dari dua jenis vaksin atau plasebo.

baca juga

3. Vaksin Moderna
Kandidat vaksin ini bernama mRNA-1273, yang dikembangkan perusahaan biotek AS Moderna bekerja sama dengan National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID). Vaksin ini jadi yang pertama diujikan kepada manusia di AS.

Mengandalkan teknologi yang disebut messenger RNA (mRNA), vaksin ini terdiri dari virus yang dilemahkan atau tidak aktif. Protein dari virus dibuat untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Materi genetik dalam vaksin akan mengajarkan sel untuk membangun protein virus tersendiri dalam menghadapi lonjakan Covid-19. Sehingga jika seseorang terpapar virus, tubuh dengan cepat mengenali dan melawannya.

Vaksin mRNA kemungkinan lebih tahan lama dari patogen yang bisa bermutasi seperti Covid-19 dan virus lainnya. Pada 14 Juli lalu, Moderna mempublikasi hasil uji coba klinis fase 1 yang menjanjikan kepada 45 orang, menurut laman The New England Journal of Medicine.

4. Vaksin CanSino Biologics
CanSino Biologics bekerja sama dengan Institut Bioteknologi Beijing mengembangkan kandidat vaksin menggunakan adenovirus yang dilemahkan. Berbeda dengan vaksin buatan Oxford yang mengandalkan adenovirus yang menginfeksi simpanse, CanSino Biologics menggunakan adenovirus yang menginfeksi manusia.

Bersama Moderna, tim pembuat vaksin ini menerbitkan hasil uji coba fase 2 mereka pada 20 Juli di jurnal The Lancet. Uji coba dilakukan di Wuhan, China, melibatkan 508 relawan yang secara acak menerima satu dari dua dosis vaksin dan pil plasebo.

Hasilnya menunjukkan tidak ada efek samping yang serius. Meski beberapa orang dilaporkan mengalami efek samping ringan seperti demam, kelelahan, dan nyeri di lokasi bekas suntikkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Orangtua Cemas, China Mulai Uji Coba Vaksin Covid-19 untuk Anak-anak

Orangtua Cemas, China Mulai Uji Coba Vaksin Covid-19 untuk Anak-anak

Health | Rabu, 09 September 2020 | 13:55 WIB

Diduga Ada Reaksi Serius, Uji Coba Vaksin Covid-19 AstraZeneca Ditangguhkan

Diduga Ada Reaksi Serius, Uji Coba Vaksin Covid-19 AstraZeneca Ditangguhkan

Health | Rabu, 09 September 2020 | 10:04 WIB

Trump Klaim Vaksin Virus Corona Akan Tersedia Pada Oktober, Benarkah?

Trump Klaim Vaksin Virus Corona Akan Tersedia Pada Oktober, Benarkah?

Health | Selasa, 08 September 2020 | 18:25 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:32 WIB

Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance

Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 19:00 WIB

Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum

Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum

Health | Minggu, 14 Juni 2026 | 19:05 WIB

Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis  Redakan Wasir dengan Cara Alami

Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami

Health | Minggu, 14 Juni 2026 | 15:55 WIB

Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun

Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun

Health | Sabtu, 13 Juni 2026 | 20:18 WIB