Masa Kesuburan yang Lama Menempatkan Wanita pada Risiko Demensia

Yasinta Rahmawati
Masa Kesuburan yang Lama Menempatkan Wanita pada Risiko Demensia
Ilustrasi (shutterstock)

Temuan ini menjelaskan mengapa wanita berisiko lebih besar terkena demensia ketimbang pria.

Suara.com - Sebuah studi baru menemukan, wanita yang memiliki periode kesuburan atau menstruasi yang lebih lama memiliki risiko lebih tinggi mengalami demensia ketika bertambah tua.

Dilansir dari Independent, para peneliti di University of Gothenburg di Swedia pun mengatakan temuan ini menjelaskan mengapa wanita berisiko lebih besar terkena demensia ketimbang pria.

Hingga kini dilaporkan lebih banyak wanita terkena demensia daripada pria, dengan wanita yang menderita demensia melebihi jumlah pria. Perbandingannya dua banding satu di seluruh dunia. Di Inggris, sekitar 61 persen penderita demensia adalah perempuan, sementara 39 persen adalah laki-laki.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Alzheimer's & Dementia tersebut mengamati 1.364 wanita. Peneliti menemukan risiko demensia dan penyakit Alzheimer meningkat secara berturut-turut untuk setiap tahun tambahan wanita tetap subur.

Baca Juga: Studi Ungkap Masalah Tekanan Darah Tinggi Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ilustrasi perempuan demensia. [Shutterstock]
Ilustrasi perempuan demensia. [Shutterstock]

Dalam studi itu, para peneliti menemukan 16 persen wanita dengan periode reproduksi yang lebih pendek (33 tahun atau kurang ) berkembang menjadi demensia. Sementara di antara wanita yang subur untuk periode yang lebih lama (38 tahun atau lebih), sebanyak 24 persen mengalami demensia.

Jenna Najar, seorang dokter medis yang bekerja di Center for Aging and Health di University of Gothenburg, mengatakan temuan ini menjelaskan mengapa wanita memiliki risiko lebih tinggi terkena demensia dan penyakit Alzheimer daripada pria setelah usia 85 tahun.

Selain itu, temuan ini diharapkan dapat memberikan dukungan lebih lanjut untuk hipotesis bahwa estrogen memengaruhi risiko demensia pada wanita.

Peneliti menjadi memiliki akses ke informasi tentang beberapa kejadian dalam kehidupan seorang wanita yang dapat mempengaruhi tingkat estrogennya, contohnya adalah kehamilan, kelahiran, dan menyusui.

"Hamil sangat meningkatkan kadar estrogen, kemudian menurun begitu bayi lahir, dan jika wanita menyusui, tingkatnya turun ke tingkat yang sangat rendah. Semakin banyak indikator yang kami tangkap, semakin andal hasil kami," ujar Jenna Najar.

Baca Juga: 10 Gejala Alzheimer yang Patut Diwaspadai

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS