alexametrics

Jasad Pasien Covid-19 Masih Bisa Tularkan Virus Meski Sudah 18 Jam Tewas

Angga Roni Priambodo | Rosiana Chozanah
Jasad Pasien Covid-19 Masih Bisa Tularkan Virus Meski Sudah 18 Jam Tewas
Ilustrasi pasien Covid-19 meninggal. [Angela Weiss/AFP]

Dokter juga menemukan paru-paru pasien Covid-19 menjadi sekeras bola kulit.

Suara.com - Sebuah temuan baru dari dokter di negara bagian Karnataka, India, menunjukkan bahwa tubuh pasien Covid-19 bisa tetap menularkan virus berbahaya itu, bahkan setelah 18 jam kematiannya.

Berdasarkan The Health Site, mereka menemukan hal ini saat melakukan pemeriksaan terhadap pasien Covid-19 pria berusia 62 tahun yang meninggal di Bengaluru.

Saat memeriksa tubuhnya hampir 18 jam setelah kematian, mereka masih menemukan adanya virus corona di sampel swab test atau tes usap hidung dan tenggorokannya, tetapi tidak pada sampel yang dikumpulkan dari kulit.

Ini menunjukkan adanya kemungkinan virus menyebar dari tubuh pasien, menurut Dr Dinesh Rao, Kepala Departemen, Kedokteran Forensik, Oxford Medical College, yang memimpin otopsi.

Baca Juga: Selama Pagebluk Corona Transaksi QRIS Mandiri Syariah Naik 16 Persen

Selain itu, mereka menemukan paru-paru pasien Covid-19 menjadi sekeras bola kulit. Biasanya, paru-paru tampak seperti spons, namun paru-paru pasien tidak.

Petugas pemakaman penanganan jenazah pasien COVID-19 menurunkan peti jenazah dari dalam mobil jenazah di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Rabu (2/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Petugas pemakaman penanganan jenazah pasien COVID-19 menurunkan peti jenazah dari dalam mobil jenazah di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Rabu (2/9/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Kantung udara pecah dan ada beberapa pembekuan di pembuluh darah yang menyebabkan nekrosis koagulatif pada paru-paru, kata Rao.

Bedah mayat dilakukan pada 10 Oktober dan selesai dalam satu jam 10 menit.

Di sisi lain, sebuah studi yang terbit dalam jurnal Frontiers in Public Health menemukan orang dengan penyakit penyerta tidak menular seperti diabetes, justru lebih rentan tertular virus corona dan meninggal akibat Covid-19.

Penulis utama studi Uday Yadav dari University of New South Wales (UNSW) di Australia juga memperingatkan bahwa sindrom Covid-19 akan bertahan, sama seperti penyakit kronis, yang memengaruhi orang dalam jangka panjang.

Baca Juga: Kabar Baik! Hari Ini Sebanyak 4.545 Warga Indonesia Sembuh dari Corona

Komentar