Studi: Bayi Kekurangan Vitamin D Berisiko Obesitas dan Diabetes saat Remaja

Jum'at, 30 Oktober 2020 | 09:55 WIB
Studi: Bayi Kekurangan Vitamin D Berisiko Obesitas dan Diabetes saat Remaja
Ilustrasi bayi (Shutterstock)

Suara.com - Sebuah studi menunjukkan bahwa kurangnya kadar vitamin D di awal kehidupan bisa berefek pada masalah sindrom metabolik di masa remaja. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian dosis vitamin D yang cukup bisa menurunkan risiko berbagai sindrom metabolik.

Melansir dari Medical Xpress, sindrom metabolik adalah sekelompok kondisi seperti gula darah tinggi, kelebihan lemak tubuh, hingga kadar kolesterol atau trigliserida yang tidak normal. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.

"Kami tidak pernah tahu dari studi observasi jika ada penyebabnya, tetapi setidaknya dari sudut pandang prediktif fakta bahwa satu ukuran vitamin D pada masa awal kehidupan memprediksi risiko kardiovaskular dalam periode yang begitu lama," kata penulis senior Eduardo Villamor, profesor epidemiologi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Michigan.

Penelitian yang telah diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition ini menggunakan data lebih dari 300 anak.

Dalam studi ini, Villamor dan rekannya mengukur konsentrasi vitamin D dalam darah pada anak usia setahun dan memeriksa hubungannya dengan indeks massa tubuh untuk usia pada usia 5, 10, dan 16 hingga 17. Mereka juga mengukur persentase lemak dan massa otot serta skor sindrom metabolik sepeti lingkar pinggang, tekanan darah, lipid darah, hingga resistensi insulin pada usia 16-17 tahun.

Mereka menemukan bahwa setiap unit tambahan vitamin D dalam darah anak usia 1 tahun terkait dengan peningkatan berat bedan yang lebih lambat antara usia 1 hingga 5 tahun. Mereka juga memiliki skor risiko metabolik yang lebih rendah pada usia 16-17 tahun dan lebih sedikit memiliki lemak tubuh serta massa otot lebih tinggi saat remaja.

"Anda dapat memiliki anak berusia 16 tahun dengan tekanan darah tinggi,  lipid yang buruk, dan resistensi insulin, sehingga menemukan faktor-faktor yang berpotensi dapat dimodifikasi untuk memodulasi risiko itu dapat bermanfaat," kata Villamor.

Ia menambahkan bahwa lebih banyak penelitian diperlukan untuk memeriksa efek suplementasi vitamin D di awal kehidupan pada hasil kardiometabolik jangka panjang.

Baca Juga: Kelamaan di Rumah Bikin Kulit Kusam dan Jerawatan, Begini Solusinya

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI