Pola Asuh Ini Disebut Psikolog Dapat Bantu Anak Tumbuh Tangguh

Vania Rossa | Lilis Varwati | Suara.com

Rabu, 09 Desember 2020 | 15:19 WIB
Pola Asuh Ini Disebut Psikolog Dapat Bantu Anak Tumbuh Tangguh
Ilustrasi pola asuh orangtua. (Shutterstock)

Suara.com - Otak anak bukanlah miniatur otak orang dewasa. Anak-anak memiliki cara berpikir sendiri, bergantung dari perkembangan otak yang dialaminya. Namun, menurut psikolog, cara anak berpikir sangat ditentukan oleh pola asuh orangtua.

Dilansir dari laman CNBC, psikolog dari Sekolah Kedokteran Harvard Lisa Feldman Barrett, Ph.D., menjabarkan tujuh cara pola asuh yang harus dilakukan orangtua untuk membantu anak membangun otak yang fleksibel dan tangguh.

1. Filosofi jadilah tukang kebun, bukan tukang kayu
Tukang kayu mengukir kayu sesuai bentuk yang mereka inginkan. Tetapi tukang kebun membantu segala sesuatunya tumbuh sendiri dengan menumbuhkan tanaman yang subur.

Demikian pula, orangtua dapat membentuk anak menjadi pribadi yang spesifik. Misalnya, pemain biola konser, atlet, ataupun koki. Orangtua dapat menyediakan lingkungan yang mendorong pertumbuhan anak dengan sehat, dan membiarkan anak memilihnya.

Pendekatan tukang kebun adalah dengan menyebarkan berbagai peluang musik di sekitar rumah dan melihat mana yang memicu minat anak Anda. Apakah mereka suka menggedor panci dan wajan?

Setelah Anda memahami jenis tanaman yang Anda tanam, Anda dapat 'menyesuaikan tanah' tempat ia berakar dan berkembang.

2. Bicara dan bacakan untuk anak
Banyak penelitian menunjukkan bahwa ketika anak-anak baru berusia beberapa bulan dan tidak memahami arti kata-kata, otak mereka masih merekamnya. Hal itu membangun pondasi saraf untuk pembelajaran nanti.

Jadi, semakin banyak kata yang anak dengar, semakin besar efeknya ke depan. Anak juga akan memiliki kosakata dan pemahaman bacaan yang lebih baik. Mengajari anak kata-kata emosi seperti sedih, bahagia, juga frustrasi, sangat bermanfaat. Semakin banyak anak tahu, akan semakin fleksibel untuk ia dapat bertindak.

Jelaskan pada anak tentang apa yang menyebabkan kita merasa emosi, dan bagaimana pengaruhnya terhadap seseorang. Para ahli mencontohkan, “Lihat anak yang menangis itu? Dia merasakan sakit karena jatuh dan lututnya tergores. Dia sedih dan mungkin ingin pelukan dari orangtuanya."

3. Jelaskan sesuatu
Anak punya rasa ingin tahu yang besar. Sehingga tak heran, ia akan terus bertanya tentang apa pun. Peran orangtua harus menjelaskan dengan alasan yang masuk akal. Karena jawaban apapun akan terekam oleh otak anak.

Para ahli menyarankan untuk menghindari menjawab pertanyaan "Mengapa" yang dilontarkan anak dengan jawaban "Karena saya berkata begitu." Anak-anak yang memahami alasan untuk berperilaku tertentu dapat mengatur tindakannya sendiri dengan lebih baik.

Ahli mencontohkan, jika anak dilarang makan banyak kue tanpa diberi penjelasan yang spesifik, ia akan berpikir, "Saya tidak boleh makan semua kue karena orangtua memberi tahu saya demikian. Saya akan mendapat masalah jika melanggar." Alasan itu mungkin akan dibantah anak saat orangtuanya tidak ada.

Lebih baik jika anak dibuat lebih mengerti dengan penjelasan spesifik, "Saya tidak boleh makan semua kue karena saya akan sakit perut." Pemahaman itu membantu anak memahami konsekuensi dari tindakan mereka dan menumbuhkan empati.

4. Jelaskan aktivitasnya, bukan orangnya
Ketika seorang anak memukul kepala teman sebayanya, jangan memarahi dengan menyebut anak nakal. Tetapi jelaskan secara spesifik bahwa memukul bisa menyakiti orang lain dan membuatnya merasa kesal. Juga ajarkan anak untuk menyesali perbuatan salahnya.

Aturan yang sama berlaku untuk pujian. Jangan menyebut anak baik jika ia melakukan hal terpuji. Lebih baik komentari tindakannya, "Kamu membuat pilihan yang baik untuk tidak memukul balik kakakmu." Kata-kata seperti itu akan membantu otaknya membangun konsep yang lebih berguna tentang tindakan dan dirinya sendiri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bisa Jadi Contoh, Begini Pola Asuh Kate Middleton pada Tiga Anaknya

Bisa Jadi Contoh, Begini Pola Asuh Kate Middleton pada Tiga Anaknya

Lifestyle | Kamis, 03 Desember 2020 | 12:40 WIB

Pola Asuh dengan Labeling Dapat Pengaruhi Konsep Diri Anak

Pola Asuh dengan Labeling Dapat Pengaruhi Konsep Diri Anak

Your Say | Senin, 23 November 2020 | 13:29 WIB

Ingin Anak Punya Kemampuan Sosial, Intip Yuk Pola Asuh Kate Middleton

Ingin Anak Punya Kemampuan Sosial, Intip Yuk Pola Asuh Kate Middleton

Lifestyle | Senin, 21 September 2020 | 16:25 WIB

Terkini

Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda

Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda

Health | Kamis, 30 April 2026 | 18:40 WIB

Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini

Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini

Health | Kamis, 30 April 2026 | 11:49 WIB

Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif

Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif

Health | Kamis, 30 April 2026 | 11:38 WIB

Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan

Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan

Health | Kamis, 30 April 2026 | 10:50 WIB

Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak

Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak

Health | Kamis, 30 April 2026 | 06:08 WIB

Cuma 30 Menit, Ini Rahasia Bonding Berkualitas di Tengah Kesibukan Orang Tua

Cuma 30 Menit, Ini Rahasia Bonding Berkualitas di Tengah Kesibukan Orang Tua

Health | Rabu, 29 April 2026 | 23:16 WIB

Cacar Api Mengintai Diam-Diam: Kelompok Rentan Bisa Alami Komplikasi Lebih Berat

Cacar Api Mengintai Diam-Diam: Kelompok Rentan Bisa Alami Komplikasi Lebih Berat

Health | Rabu, 29 April 2026 | 19:41 WIB

Kata 'Capek' Sering Dianggap Sepele Mahasiswa, Padahal Sinyal Distress Mental?

Kata 'Capek' Sering Dianggap Sepele Mahasiswa, Padahal Sinyal Distress Mental?

Health | Rabu, 29 April 2026 | 16:41 WIB

Cara Ibu Modern Menghadirkan Kenyamanan di Rumah: Perhatian Tulus hingga Kelembutan Plenty

Cara Ibu Modern Menghadirkan Kenyamanan di Rumah: Perhatian Tulus hingga Kelembutan Plenty

Health | Rabu, 29 April 2026 | 09:45 WIB

Cemas Datang Tiba-Tiba? Ini 7 Cara Ampuh Mengatasi Anxiety dalam Hitungan Menit

Cemas Datang Tiba-Tiba? Ini 7 Cara Ampuh Mengatasi Anxiety dalam Hitungan Menit

Health | Selasa, 28 April 2026 | 15:57 WIB