Penelitian: Mutasi Virus Corona di Brasil Berisiko Tingkatkan Infeksi Ulang

Vania Rossa | Lilis Varwati | Suara.com

Jum'at, 22 Januari 2021 | 10:57 WIB
Penelitian: Mutasi Virus Corona di Brasil Berisiko Tingkatkan Infeksi Ulang
Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Suara.com - Penyintas Covid-19 bisa memiliki antibodi alami selama lima hingga enam bulan setelah sembuh. Berdasarkan penelitian awal juga disebutkan bahwa infeksi ulang dalam jangka waktu tersebut jarang terjadi.

Tetapi beberapa bulan terakhir, dunia ramai dengan varian baru virus corona SARS Cov-2 di beberapa negara. Selain lebih menular, ada varian baru virus ini juga disebut bisa menyebabkan infeksi ulang walaupun penyintas masih dalam jangka waktu kekebalan alami.

Peneliti di Brasil menemukan lonjakan kasus infeksi ulang di Manaus, Brasil, kota barat laut di Amazon, yang dipicu oleh jenis varian yang disebut P.1.

Dari hasil penelitian padahal menunjukkan bahwa kota tersebut telah mencapai ambang kekebalan kelompok, di mana lebih dari 70 persen populasi telah terinfeksi selama musim gugur tahun lalu. Akibatnya, sistem kesehatan daerah tersebut sekarang runtuh di tengah peningkatan infeksi dan berkurangnya pasokan oksigen.

Strain baru P1 itu disebut varian yang memiliki sekitar 20 mutasi, termasuk tiga mutasi yang sangat mengkhawatirkan dan memilili kemiripan dengan yang ada di Afrika Selatan, yaitu strain K417N, E484K dan N501Y.

Mutasi itu dapat membuat virus lebih menular dan kemungkinan dapat menurunkan efektivitas vaksin terhadap varian tersebut. Ada bukti yang berkembang bahwa varian genetik baru dari virus corona, khususnya yang beredar di Afrika Selatan dan sekitar Manaus, Brasil, kemungkinan juga mampu menghindari sistem kekebalan tubuh.

Tiga mutasi strain yang serupa di Afrika Selatan dan Brasil itu sama-sama mengikat sel manusia dan beberapa antibodi. Mutasi itu menurunkan kemampuan beberapa antibodi untuk mengenali dan menetralkan virus, tim ilmuwan melaporkan dalam sebuah studi tentang varian Afrika Selatan.

Secara khusus, para ilmuwan juga melihat apakah varian dari Afrika Selatan dapat dinetralkan oleh plasma darah, yang mengandung antibodi. Penelitian dilakukan dengan mengambil plasma darah dari orang-orang yang telah terinfeksi virus lama. Hasilnya, 21 dari 44 sampel, varian baru resisten terhadap netralisasi dari serum plasma.

Tim peneliti juga menguji plasma sembuh dari pasien Covid-19 terhadap strain 501Y.V2, dan 48 persen dari 44 sampel tidak memiliki aktivitas netralisasi yang terdeteksi, tulis penulis studi. Juga disebutkan tingginya risiko ulang akibat strain tersebut.

"Data ini menyoroti prospek infeksi ulang dengan varian antigen yang berbeda dan mungkin menunjukkan penurunan kemanjuran vaksin berbasis lonjakan saat ini. Kami tahu bahwa Anda dapat terinfeksi ulang bahkan dengan versi virus yang sama," kata Ravi Gupta, ahli virus di Universitas Cambridge, mengatakan kepada NPR.

Meskipun begitu, masih terlalu dini untuk mengatakan seberapa sering infeksi ulang dapat terjadi.

Dokter spesialis penyakit menular di Fundação de Medicina Tropical Doutor Heitor Vieira Dourado di Manaus, Brasil, Marcus Vinicius Lacerda mengatakan, dia yakin bahwa infeksi ulang itu yang memicu wabah kembali terjadi di kota Brasil.

Namun, para peneliti sedang bekerja untuk mengkonfirmasi hal-hal yang belum diketahui dengan jelas akibat varian baru itu. Seperti dampaknya terhadap kemanjuran vaksin, terapi, dan penularan virus.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Staf Hotel Terinfeksi Varian Baru Virus Corona, Resor Mewah di Swiss Tutup

Staf Hotel Terinfeksi Varian Baru Virus Corona, Resor Mewah di Swiss Tutup

Lifestyle | Kamis, 21 Januari 2021 | 19:47 WIB

Studi: Vaksin Pfizer dan Moderna Disebut Melindungi dari Varian Baru Corona

Studi: Vaksin Pfizer dan Moderna Disebut Melindungi dari Varian Baru Corona

Health | Kamis, 21 Januari 2021 | 19:59 WIB

Vaksin Covid-19 Buatan Oxford Bakal Dimodifikasi, Apa Tujuannya?

Vaksin Covid-19 Buatan Oxford Bakal Dimodifikasi, Apa Tujuannya?

Sulsel | Kamis, 21 Januari 2021 | 18:45 WIB

Terkini

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB