Studi: Pola Makan Saat Kanak-Kanak Menentukan Kesehatan di Masa Depan

Kamis, 11 Februari 2021 | 18:40 WIB
Studi: Pola Makan Saat Kanak-Kanak Menentukan Kesehatan di Masa Depan
Ilustrasi pola makan anak. (Shutterstock)

Suara.com - Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan pola makan tinggi gula dan lemak rentan memiliki kondisi kesehatan yang buruk saat dewasa tanpa peduli bagaimana pola makannya setelah ia dewasa. Hal ini karena pola makan tak sehat semasa kanak-kanan akan memengaruhi mikrobiota di usus Anda.

Studi yang dilakukan oleh para peneliti UC Riverside menunjukkan penurunan yang signifikan dalam jumlah total dan keragaman bakteri usus pada tikus dewasa yang diberi makanan tidak sehat saat usia remaja.

“Kami mempelajarinya lewat tikus, tetapi efek yang kami amati setara dengan anak-anak yang menjalani pola makan tinggi lemak dan gula, dan mikrobioma usus mereka yang masih terpengaruh hingga enam tahun setelah pubertas,” jelas ahli fisiologi evolusioner UCR, Theodore Garland, melansir dari Healthshots.

Mikrobiota mengacu pada semua bakteri, jamur, parasit, dan virus yang hidup di dalam manusia maupun hewan. Dan sebagian besar mikroorganisme ini ditemukan di bagian usus, membantu merangsang sistem kekebalan tubuh, memecah makanan, dan membantu mensintesis vitamin.

Pada kondisi tubuh yang sehat, ada keseimbangan antara organisme patogen dan yang menguntungkan. Namun, jika keseimbangan ini mulai terganggu, baik melalui penggunaan antibiotik, penyakit, atau pola makan yang tidak sehat, tubuh bisa menjadi rentan terhadap penyakit.

Dalam studi ini, tim Garland mencari dampak pada mikrobioma setelah membagi tikus mereka menjadi empat kelompok: yang diberi makan standar diet 'sehat', diet 'Barat' yang kurang sehat, tikus yang diberi akses ke roda lari untuk olahraga, dan sisanya tidak diatur.

Setelah tiga minggu, semua tikus dikembalikan ke diet standar dan tidak berolahraga, yang biasanya dilakukan pada tikus di laboratorium. Dalam waktu 14 minggu, tim meneliti keanekaragaman bakteri pada hewan.

Mereka menemukan bahwa jumlah bakteri seperti Muribaculum intestinale berkurang secara signifikan pada kelompok tikus yang melakukan diet 'Barat'. Jenis bakteri ini terlibat dalam metabolisme karbohidrat.

Baca Juga: Perlukah Menghindari Daging Merah untuk Mengurangi Risiko Penyakit Jantung?

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI