Suara.com - Konsumsi rokok dan alkohol ternyata tidak mengalami penurunan selama pandemi Covid-19. Sebuah penelitian justru menunjukkan data sebaliknya, bahwa terjadi peningkatan jumlah orang yang mengonsumsi rokok dan alkohol.
Sebuah studi dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM menemukan fakta bahwa terdapat peningkatan konsumsi sebesar 25,7 persen pada orang yang mengkonsumsi minuman beralkohol dan peningkatan 20,1 persen pada orang yang merokok. Demikian dalam keterangan yang diterima Suara.com, Rabu, (3/3/2021).
Perubahan perilaku ini patut diwaspadai untuk mengantisipasi peningkatan beban psikologis yang diakibatkan oleh kondisi saat ini. Seperti diketahui bahwa pembatasan sosial selama pandemi Covid-19 juga menimpulkan masalah psikologis.
Salah satunya adalah penyalahgunaan zat adiktif seperti alkohol dan rokok. Penelitian yang dilakukan oleh sejumlah peneliti dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM, sejumlah kuesioner seperti Alcohol Use Disorders Identification Test (AUDIT), Cigarette Dependence Scale (CDS), Symptoms Checklist-90 (SCL-90), dan Pittsburg Sleep Quality Index (PSQI). Kuesioner disebar secara daring pada 28 April hingga 1 Juni 2020 melalui beberapa aplikasi media sosial.
![Ilustrasi rokok kretek. [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/original/2017/01/15/o_1b6gg6ivd5d58qp1kmf12es2oba.jpg)
Selain itu, kuesioner juga disebarkan melalui perusahaan milik negara, akademisi universitas, dan mahasiswa, serta responden yang diminta untuk turut menyebarkan tautan kuesioner kepada orang lain.
Alhasil, didapatkan bahwa konsumsi alkohol di Indonesia mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh kondisi tempat tinggal. Pada responden yang berdomisili di provinsi yang menerapkan PSBB, didapatkan penurunan konsumsi alkohol.
Sedangkan, perilaku merokok didapatkan lebih banyak mengalami penurunan dibandingkan peningkatan. Hal ini dihubungkan dengan meningkatnya pemahaman warga terkait hubungan negatif antara merokok dan COVID-19 yang dapat memperburuk gejala.
Akan tetapi, penurunan konsumsi rokok juga didapatkan berkorelasi dengan peningkatan jumlah gejala psikologis seperti kecemasan, sensitivitas interpersonal, dan perilaku psikotik yang mungkin didorong akibat penurunan konsumsi nikotin.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB mengapresiasi para peneliti serta menyambut baik studi yang telah dilakukan ini.
“Pandemi Covid-19 telah menyebabkan perubahan pada berbagai aspek kehidupan, termasuk pada kesehatan jiwa. Perubahan pola konsumsi alkohol dan rokok akan menjadi tantangan baru bagi praktisi kesehatan, terutama dalam bidang adiksi. Penelitian yang telah dilakukan ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam penyusunan regulasi terkait upaya preventif dan intervensi konsumsi alkohol dan rokok,” ujar Prof. Ari.
Sebagai informasi Studi dengan jumlah responden hingga 4.584 orang ini telah dipublikasi di jurnal internasional Frontiers in Psychiatry. Adapun peneliti yang terlibat antara lain, dr. Enjeline Hanafi, Sp.KJ; Dr. dr. Kristiana Siste, Sp.KJ(K); dr. Albert Prabowo Limawan; dr. Lee Thung Sen; dr. Hans Christian; dr. Belinda Julivia Murtani; dr. Adrian; dan dr. Levina Putri Siswidiani; serta peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya Christiany Suwartono, S.Psi., M.Psi., Ph.D.