alexametrics

Waspada, Ini Hewan yang Diprediksi Picu Pandemi Mematikan lainnya

Bimo Aria Fundrika
Waspada, Ini Hewan yang Diprediksi Picu Pandemi Mematikan lainnya
Kelelawar vampir (Shutterstock)

Alat baru bernama SpillOver, yang dibuat oleh The University of California telah memberi peringkat pada virus hewan yang baru ditemukan yang menyebabkan ancaman terbesar.

Suara.com - Ratusan virus yang mengintai hewan dapat memicu pandemi mematikan berikutnya. Demikian menurut sebuah data.

Seperti diketahui, SARS-CoV-2 virus terbaru yang “menyebar” dari hewan ke manusia dan memicu pandemi Covid-19 pertama kali ditemukan di Wuhan China.

Hewan inang utama Covid-19 diperkirakan kelelawar, tetapi para ahli belum dapat menentukannya. Sementara virus tersebut juga diketahui telah menginfeksi cerpelai dan singa.

Alat baru bernama SpillOver, yang dibuat oleh The University of California telah memberi peringkat pada virus hewan yang baru ditemukan yang menyebabkan ancaman terbesar.

Baca Juga: Orang Kaya Raya di Dunia Paling Banyak di Beijing Selama Setahun Pandemi

Para peneliti di balik alat itu mengatakan itu dapat membantu para ilmuwan mengembangkan vaksin sebelum virus dapat menyebar ke populasi umum.

Zoë Grange, yang memimpin pengembangan SpillOver berkata: "SARS-CoV-2 hanyalah satu contoh dari ribuan virus di luar sana yang berpotensi menyebar dari hewan ke manusia.

"Kami tidak hanya perlu mengidentifikasi, tetapi juga memprioritaskan, ancaman virus dengan risiko limpahan terbesar sebelum pandemi dahsyat lainnya terjadi."

Para peneliti membuat skor seperti kredit untuk menentukan seberapa besar kemungkinan virus akan menyebar ke manusia. Ia menggunakan 32 faktor risiko yang terkait dengan virus dan inangnya.

Ini termasuk seberapa sering manusia berinteraksi dengan hewan liar dan berapa banyak spesies hewan yang terinfeksi virus. Sekitar 250 virus dikenal sebagai "zoonosis" dan ini berarti virus telah menyebar dari hewan ke manusia.

Baca Juga: Kinerja Positif, BRI Raih 5 Penghargaan di Anugerah BUMN 2021

Namun para peneliti mengatakan ada beberapa virus yang belum bersifat zoonosis - tetapi berpotensi sama berbahayanya dengan yang di atas.

Komentar