Bisa Jadi Terobosan Baru, Peneliti Inggris Kembangkan Vaksin Malaria!

Yasinta Rahmawati, Rosiana Chozanah

Senin, 26 April 2021 | 10:00 WIB
Bisa Jadi Terobosan Baru, Peneliti Inggris Kembangkan Vaksin Malaria!
Ilustrasi malaria (Shutterstock)

Suara.com - Vaksin malaria yang dikembangkan oleh peneliti di Universitas Oxford terbukti 77% efektif dalam uji klinis awal. Mnunjukkan vaksin ini bisa menjadi terobosan dalam memerangi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia.

Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada terdapat 229 juta kasus malaria di seluruh dunia dan 409.000 kematian pada 2019. Sekitar 94% dari semua kasus dan kematian ini terjadi di Afrika, sebanyak 67% terjadi di antara anak-anak balita.

Mengembangkan vaksin yang efektif untuk malaria terbukti sulit, banyak vaksin sebelumnya hanya menunjukkan hasil sederhana. Kandidat vaksin malaria dengan kinerja tertinggi hingga saat ini hanya memiliki kemanjuran 55,8%, lapor Live Science.

Vaksin yang dikembangkan Oxford bernama 'R21/Matrx-M' merupakan kandidat vaksin malaria pertama yang mendekati kemanjuran 75% yang ditetapkan WHO.

Ilustrasi vaksin (pixabay.com)
Ilustrasi vaksin (pixabay.com)

"Game-changer"  ini mungkin dapat membantu WHO mencapai tujuannya dalam memberantas malaria ada 2030 mendatang.

Namun, hasil dari uji klinis fase 2b ini diterbitkan sebagai pracetak di jurnal The Lancet, dan belum ditinjau sejawat.

Uji coba berlangsung di Lembaga Penelitian Ilmu Kesehatan (IRSS) Burkina Faso. Studi melibatkan 450 anak berusia 5 dan 17 bulan. Mereka divaksinasi antara awal Mei 2019 hingga awal Agustus 2019, sebelum puncak musim malaria.

Sepertiga dari peserta diberi dosis rendah vaksin eksperimental ini, sepertiga diberi dosis lebih tinggi dan sepertiga dijadikan sebagai kelompok kontrol dan diberi vaksin rabies.

"Ini adalah hasil yang sangat menarik, yang menunjukkan tingkat kemanjuran yang belum pernah terjadi sebelumnya." kata peneliti utama Halidou Tinto.

"Kami menantikan uji coba fase III yang akan datang untuk mendemonstrasikan data keamanan dan kemanjuran skala besar untuk vaksin yang sangat dibutuhkan di wilayah ini," tambahnya.

Peneliti dan mitra mereka sekarang merekrut peserta uji coba fase III untuk menguji keamanan dan kemanjuran vaksin eksperimental mereka. Targetnya, antara 4.800 anak berusia antara 5 hingga 36 bulan di empat negara Afrika.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Amerika Serikat Lanjutkan Penggunaan Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson

Amerika Serikat Lanjutkan Penggunaan Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson

Health | Minggu, 25 April 2021 | 10:23 WIB

Ikut Uji Klinis Vaksin Nusantara, Anang Hermansyah Teriak-teriak Ketakutan

Ikut Uji Klinis Vaksin Nusantara, Anang Hermansyah Teriak-teriak Ketakutan

Banten | Minggu, 25 April 2021 | 08:05 WIB

Anang Hermansyah Menjerit Ketakutan Disuntik Vaksin, Bikin Malu Ashanty!

Anang Hermansyah Menjerit Ketakutan Disuntik Vaksin, Bikin Malu Ashanty!

Entertainment | Minggu, 25 April 2021 | 08:45 WIB

Terkini

Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi

Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi

Health | Jum'at, 12 Juni 2026 | 12:50 WIB

Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW

Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW

Health | Jum'at, 12 Juni 2026 | 09:06 WIB

Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia

Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia

Health | Kamis, 11 Juni 2026 | 21:51 WIB

Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut

Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut

Health | Rabu, 10 Juni 2026 | 17:20 WIB

Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?

Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:57 WIB

Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?

Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 14:09 WIB

Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai

Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:10 WIB

Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional

Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 08:05 WIB

Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus

Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus

Health | Senin, 08 Juni 2026 | 16:48 WIB

Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?

Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?

Health | Senin, 08 Juni 2026 | 14:30 WIB