Suara.com - Talasemia adalah penyakit kelainan genetik yang membuat penderitanya harus menjalani transfusi darah seumur hidup, akibat kurangnya protein pembawa oksigen (hemoglobin) dan jumlah sel darah merah yang kurang dari normal.
Talasemia jadi salah satu penyakit kronis yang sebagian besar dialami akibat faktor keturunan atau perkawinan dua orang pembawa sifat (fenotip), yang akhirnya melahirkan bayi dengan talasemia mayor.
Mirisnya data menunjukkan jika 3,8 persen populasi Indonesia pembawa sifat talasemia. Itulah mengapa, Pelaksana Tugas (Plt.) Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS gencar menyarankan masyarakat untuk melakukan skrining sebelum menikah.
"Talasemia mayor diturunkan dari orangtua yang jadi penyandang maupun carrier talasemia. Jadi upaya deteksi dini untuk menemukan carrier talasemia yang diharapkan adalah, bisa mencegah terjadinya perkawinan sesama carrier sehingga dapat mencegah terjadinya kelahiran bayi dengan talasemia mayor," ujar Dr. Maxi dalam Peringatan Hari Talasemia Sedunia, Rabu (5/5/2021).
Tercegahnya perkawinan sesama penyandang talasemia bisa menurunkan angka populasi talasemia mayor, dan meningkatkan kualitas hidup para penderitanya.
Khususnya keturunan mereka tidak perlu lagi menderita, karena harus ketergantungan dari transfusi darah seumur hidup.
Pasalnya setiap penderita talasemia mayor harus menjalani transfusi darah lebih sering dan lebih teratur setiap 2 hingga 4 minggu sekali. Transfusi darah ini membantu meningkatkan hemoglobin dan sel darah merah tubuh.
Lebih lanjut, kata Dr. Maxi penyakit talasemia termasuk dalam salah satu penyakit kronis serupa dengan jantung, diabetes, stroke dan kanker, yang penanganannya jadi beban negara.
Adapun anggaran yang dihabiskan untuk merawat penyandang talasemia mencapai Rp2,78 triliun yang dikucurkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Anggaran ini dihabiskan untuk sebanyak 10.515 penyandang talasemia di Indonesia.
"Jadi kalau 10.515 orang, mencapai Rp2,78 triliun, maka satu pasien bisa kita bayangkan besarnya," pungkas Dr. Maxi.