Diagnosis Hipertensi Tak Bisa Hanya dengan Sekali Pengukuran Tekanan Darah

Vania Rossa, Lilis Varwati

Senin, 17 Mei 2021 | 14:16 WIB
Diagnosis Hipertensi Tak Bisa Hanya dengan Sekali Pengukuran Tekanan Darah

Suara.com - Jangan panik ketika tekanan darah tiba-tiba tinggi, karena belum tentu Anda sakit hipertensi. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Susetyo Atmojo Sp.JP. mengatakan bahwa diagnosis penyakit hipertensi tidak bisa ditegakkan hanya dalam sekali pengukuran tekanan darah.

"Idealnya harus dilakukan dua sampai tiga kali kunjungan (ke fasilitas layanan kesehatan) dengan interval 1 hingga 4 minggu, tergantung level tekanan darah yang terdeteksi saat awal kunjungan," jelas dokter Susetyo dalam siaran langsung Radio Kesehatan Kemenkes, Senin (17/5/2021).

Ia menambahkan, pengukuran ulang tekanan darah perlu dilakukan beberapa kali untuk menghindari positif palsu atau negatif palsu. Sebab seseorang yang mengalami tekanan darah tinggi saat pengukuran pertama, bisa saja hal itu terkait karena persiapan atau kondisi fisik yang tidak sehat.

Dokter Susetyo menyampaikan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan tekanan darah meningkat meski orang tersebut tidak sakit hipertensi.

"Misalnya, sebelum melakukan pengukuran tekanan darah, pasien sedang cemas, kurang tidur, atau habis beraktivitas fisik. Jadi kalau seseorang mengaku sebelumnya belum pernah atau tidak tahu dirinya mengalami hipertensi, maka kita memberikan rekomendasi untuk pasien kembali kontrol dengan interval 1 sampai 4 minggu untuk melakukan pengecekan ulang," paparnya.

Jika setelah pengecekan ulang minimal dua kali didapatkan tekanan darahnya masuk kategori hipertensi, menurut dokter Susetyo, dapat disimpulkan pasien menderita hipertensi. Pengukuran ulang juga bisa dilakukan lebih cepat jika memiliki alat pengukur tekanan darah di rumah.

Caranya, dengan melakukan pengukuran secara mandiri selama satu minggu berturut-turut setiap pagi dan malam. Kemudian mencatat setiap angka tekanan darah yang diukur. Setelah itu, bawa hasilnya saat kontrol ke dokter.

"Lalu kita lihat rata-rata tekanan darah berapa. Itu juga bisa menjadi cara untuk menegakkan diagnosis hipertensi. Jadi memang seyogyanya tidak divoniskan pada seseorang saat satu kali kunjungan. Kecuali ada satu kondisi yang memang kita yakin pasien hipertensi," ucapnya.

Kondisi yang meyakinkan seseorang sakit hipertensi meski baru sekali pengukuran jika tekanan darah diatas 180/110 diikuti adanya komplikasi hipertensi berupa penyakit kardiovaskuler.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hipertensi Berpotensi Merusak Banyak Organ Tubuh Manusia

Hipertensi Berpotensi Merusak Banyak Organ Tubuh Manusia

Sumbar | Senin, 17 Mei 2021 | 14:15 WIB

Wajib Tahu, 5 Mitos Hipertensi yang Salah Kaprah

Wajib Tahu, 5 Mitos Hipertensi yang Salah Kaprah

Health | Senin, 17 Mei 2021 | 12:49 WIB

Dari Kepala Sampai Kaki, Ini Bahaya Komplikasi Hipertensi Pada Organ Tubuh

Dari Kepala Sampai Kaki, Ini Bahaya Komplikasi Hipertensi Pada Organ Tubuh

Health | Senin, 17 Mei 2021 | 12:34 WIB

Terkini

Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C

Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 15:05 WIB

Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma

Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 22:18 WIB

Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini

Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 18:38 WIB

Kenalan dengan HYROX, Fitness Race yang Sedang Digandrungi Komunitas Olahraga

Kenalan dengan HYROX, Fitness Race yang Sedang Digandrungi Komunitas Olahraga

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 17:06 WIB

Mudah Lelah dan Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Kebocoran Katup Jantung

Mudah Lelah dan Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Kebocoran Katup Jantung

Health | Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:15 WIB

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:10 WIB

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 13:45 WIB

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:17 WIB

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 19:13 WIB

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Health | Rabu, 24 Juni 2026 | 17:15 WIB

×