alexametrics

Tak Cuma Melumpuhkan, Imobilitas Tonik Korban Kekerasan Seksual Picu PTSD

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana
Tak Cuma Melumpuhkan, Imobilitas Tonik Korban Kekerasan Seksual Picu PTSD
Ilustrasi kekerasan seksual, pelecehan seksual - (Suara.com/Ema Rohimah)

Imobilitas tonik sendiri adalah kondisi kelumpuhan sementara pada korban kekerasan seksual.

Suara.com - Di Indonesia, korban kekerasan seksual masih sering disalahkan, mulai dari pakaian dan respons yang dianggap setuju karena diam. Padahal respons diam dan kaku para korban kekerasan seksual bisa dijelaskan secara psikologis. 

Melansir dari Scientific America, sebuah penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perempuan korban kekerasan seksual melaporkan bahwa mereka tidak bisa memberontak atau melawan saat kejadian. Mereka juga tidak bisa meminta tolong atau berteriak. 

Selama kekerasan berlangsung, kebanyakan korban mengalami semacam kelumpuhan sementara yang disebut imobilitas tonik. Dan mereka yang mengalami imobilitas tonik ekstrem dua kali lebih mungkin menderita gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dan tiga kali lebih mungkin menderita depresi berat dalam beberapa bulan setelah kejadian. 

Imobilitas tonik (TI) adalah keadaan kelumpuhan yang tidak disengaja di mana individu tidak dapat bergerak atau dalam banyak kasus tidak bisa berbicara.

Baca Juga: Begini Modus Kekerasan Seksual dan Eksploitasi Pelajar di SMA Selamat Pagi Indonesia

Pada hewan, reaksi ini dianggap sebagai pertahanan adaptif evolusioner terhadap serangan predator ketika bentuk pertahanan lain tidak memungkinkan. 

Sebuah studi dari tahun 2005 menemukan bahwa 52 persen mahasiswi yang melaporkan pelecehan seksual pada masa kanak-kanak mengatakan bahwa mereka mengalami kelumpuhan sementara semacam ini.

Studi baru yang diterbitkan dalam Acta Obstetrecia et Gynecologica Scandinavica, melaporkan bahwa dari hampir 300 perempuan yang mengunjungi klinik pemerkosaan, 70 persen mengalami  imobilitas tonik signifikan dan 48 persen mengalami kriteria imobilitas tonik ekstrem selama pemerkosaan.

Keparahan kondisi dinilai menggunakan skala yang mengukur perasaan beku, bisu, mati rasa, dan sebagainya.

Ilustrasi depresi (Pixabay)
Ilustrasi depresi (Pixabay)

"Saya tidak terkejut bahwa imobilitas tonik adalah hal biasa yang terjadi," kata psikiater Universitas Sydney Kasia Kozlowska, yang baru-baru ini menerbitkan, bersama rekan-rekannya, sebuah penelitian di Harvard Review of Psychiatry tentang mekanisme pertahanan tak sadar pada otak manusia dan hewan. 

Baca Juga: Waspada! Inilah 4 Jenis Gangguan Mental yang Jarang Diketahui

“Kelumpuhan akibat pemerkosaan adalah salah satu dari enam perilaku pertahanan yang diaktifkan secara otomatis pada hewan dan manusia," imbuhnya. 

Komentar