alexametrics

Menjamur di Inggris, Virus Corona Varian Delta Meningkat 3 Kali Lipat

Cesar Uji Tawakal | Fita Nofiana
Menjamur di Inggris, Virus Corona Varian Delta Meningkat 3 Kali Lipat
Ilustrasi Covid-19. (Andrea Piacquadio/Pexels)

Virus corona varian Delta meningkat drastis di Inggris.

Suara.com - Analisis baru oleh Public Health England (PHE) telah menemukan jumlah kasus varian Delta virus corona di seluruh Inggris. Mereka menyatakan bahwa varian tersebut sudah meningkat telah tiga kali lipat dalam seminggu.

Melansir dari Independent, PHE mengatakan sekarang ada 42.323 kasus varian yang pertama kali berasal dari India, naik dari 12.431 dalam seminggu hingga 3 Juni. Varian ini sekarang dominan di seluruh Inggris dan dianggap 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alpha (varian yang pertama kali ditemukan di Inggris).

Varian ini menyumbang lebih dari 90 persen kasus Covid-19 baru di Inggris dengan tingkat pertumbuhan infeksi di seluruh wilayah menunjukkan waktu dua kali lipat antara 4,5 hari hingga 11,5 hari. Namun PHE mengatakan bahwa tingkat pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 belum menunjukkan peningkatan. 

Data terbaru dari Kantor Statistik Nasional (ONS) menunjukkan bahwa infeksi terus meningkat di seluruh Inggris dengan perkiraan satu dari 560 orang terinfeksi. Ini setara dengan sekitar 96.800 dibandingkan dengan 85.600 sebelumnya.

Baca Juga: Jelang PTM di Bogor, 90 Persen Guru Telah Divaksin Covid-19

Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)
Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)


“Di Inggris kemungkinan peningkatan kasus didorong oleh varian Delta, ini sekarang jadi varian paling umum di Inggris,” kata Sarah Crofts, kepala output analitik untuk ONS.

Varian Delta lebih mampu menghindari kekebalan vaksin dengan satu dosis hanya memberikan perlindungan 33 persen terhadap infeksi. Ini meningkat menjadi 80 persen setelah dosis kedua.

“Dengan jumlah kasus varian Delta yang meningkat di seluruh negeri, vaksinasi adalah pertahanan terbaik dan tetap menjalankan protokol kesehatan," ujar Dr Jenny Harries, kepala eksekutif Badan Keamanan Kesehatan Inggris. 

Komentar