facebook

Aturan Prokes 6M Dianggap Terlalu Ribet, Virolog dan Epidemiolog Saran 1M Saja

Risna Halidi | Dini Afrianti Efendi
Aturan Prokes 6M Dianggap Terlalu Ribet, Virolog dan Epidemiolog Saran 1M Saja
Ilustrasi covid-19. (Pexels)

"Jangan minta terlalu banyak di Indonesia, satu saja cukup. Ketika dikasih tiga, maka ketiga-tiganya jadi lebih longgar."

Suara.com - Alih-alih fokus pada protokol kesehatan 6M yang dianggap terlalu banyak, pakar kesehatan virolog dan epidemiolog menyarankan pemerintah untuk fokus hanya pada 1M, yaitu memakai masker.

Seperti diketahui protokol kesehatan 6M adalah aturan mencegah penularan Covid-19 yang terdiri dari memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, meminimalisir mobilitas, dan menghindari makan bersama.

Hanya saja Virologi Sidrotun Naim mengatakan, terlalu banyak aturan dapat membuat semua protokol kesehatan jadi terabaikan. Sehingga ia meminta ada kunci yang paling penting dan utama, yang harus ditegakkan yakni memakai masker.

"Jangan minta terlalu banyak di Indonesia, satu saja cukup. Ketika dikasih tiga, maka ketiga-tiganya jadi lebih longgar," ujar Naim dalam acara diskusi Gelora TV, Rabu (11/8/2021).

Baca Juga: Satgas Klaim Pasien Covid-19 Sembuh di Bantul 1.611 Orang

Masukan ini mendapat dukungan Epidemiolog dr. Yudi Wibowo yang mengatakan jika aturan masker bisa ditegakkan, maka masyarakat menengah ke bawah bisa tetap beraktivitas.

Selain itu, daripada hanya memberi bantuan berupa sembako, Yudi lebih menyarankan pemberian lima boks masker medis untuk satu keluarga. Melalui bantuan itu, kata Yudi, masyarakat jadi tidak memiliki alasan tidak punya uang untuk membeli masker.

"Jadi gak ada alasan tidak pakai masker, karena sudah diberikan. Apalagi kalau tidak salah bantuan tunainya itu mencapai Rp800 ribu," pungkas Yudi.

Hal ini juga sekaligus dapat menjadi solusi memperbaiki rendahnya penerapan protokol kesehatan di masyarakat.

Catatan Satgas Covid-19 per 29 Juli 2021, angka kepatuhan memakai masker di desa atau kelurahan hanya 27,03 persen. Sedangkan kepatuhan menjaga jarak sebesar 28,3 persen di desa atau kelurahan dalam menjaga jarak.

Baca Juga: Profil Yahya Waloni, Penceramah Terbaring di Rumah Sakit dengan Selang Oksigen

Komentar