alexametrics

Ilmuwan Bikin Simulasi Peta Antibodi Covid-19, Apa Fungsinya?

M. Reza Sulaiman
Ilmuwan Bikin Simulasi Peta Antibodi Covid-19, Apa Fungsinya?
Ilustrasi Covid-19.(Freepik.com)

Penelitian tentang peran antibodi dalam mencegah dan mengobati Covid-19 terus dilakukan oleh para ilmuwan.

Suara.com - Penelitian tentang peran antibodi dalam mencegah dan mengobati Covid-19 terus dilakukan oleh para ilmuwan.

Yang terbaru, peneliti dari Institut Imunologi La Jolla di California membuat 'peta antibodi Covid-19' yang berfungsi untuk membantu peneliti mengenali mana antibodi yang mampu menetralisasi virus Corona, bahkan setelah bermutasi.

Laporan di majalah Science menyebut peta dibuat menggunakan ratusan antibodi penyintas COVID-19 dari seluruh dunia. Setelah itu tim peneliti global memetakan secara akurat tempat setiap antibodi mengikat pada paku protein di permukaan virus.

Paku protein digunakan virus untuk masuk ke dalam sel dan menularinya.

Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Covid-19, Kemenkes Dapat Bantuan 5 Unit Oksigen Generator

Tim peneliti itu mencari --dan berhasil menemukan-- antibodi yang menarget bagian tertentu pada paku protein yang sangat penting dalam siklus hidup virus. Tanpa bagian itu, virus tak dapat berfungsi.

Tes Antibodi Covid-19. [Shutterstock]
Tes Antibodi Covid-19. [Shutterstock]

Bagian dari paku protein itu kemungkinan tetap menjadi sasaran vaksin atau pengobatan, bahkan jika virus telah bermutasi.

"Kalau kita membuat campuran antibodi, kita ingin setidaknya salah satu antibodi ada di sana karena antibodi-antibodi itu kemungkinan dapat mempertahankan efikasi melawan banyak varian," kata Kathryn Hastie salah satu penulis laporan itu.

Sementara itu penelitian lainnya tentang antibodi juga memberi kabar baik. Sebab, antibodi ibu hamil yang divaksinasi diturunkan ke bayinya.

Ibu hamil yang menerima vaksin COVID-19 berbasis mRNA menurunkan antibodi pelindung dengan kadar yang tinggi kepada bayinya.

Baca Juga: Warga di Abdya Bubarkan Petugas Vaksinasi Covid-19, Ini Penyebabnya

Demikian hasil penelitian yang dilaporkan di American Journal of Obstetrics and Gynecology - Maternal Fetal Medicine pada Rabu (22/9).

Komentar