alexametrics
Cek Fakta

Cek Fakta adalah bagian dari produk jurnalistik yang dikerjakan khusus oleh tim redaksi Suara.com dengan metode tersendiri. Selangkapnya di sini

Hipertensi Tak Bisa Disembuhkan dan Obat Harus Diminum Seumur Hidup, Mitos atau Fakta?

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi
Hipertensi Tak Bisa Disembuhkan dan Obat Harus Diminum Seumur Hidup, Mitos atau Fakta?
Ilustrasi hipertensi (Shutterstock)

Sebagian pasien hipertensi enggan berobat karena karena khawatir ketergantungan terhadap obat seumur hidup. Mitos atau fakta ya?

Suara.com - Tekanan darah tinggi atau hipertensi perlu dikendalikan agar tidak menyebabkan sakit jantung hingga stroke. Namun sebagian pasien hipertensi enggan melakukannya, karena khawatir ketergantungan terhadap obat. Mitos atau fakta ya?

Menjawab pertanyaan ini, dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Dr. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K) dengan tegas mengatakan hipertensi tidak bisa sembuh dan harus minum obat seumur hidupnya.

"Jawaban saya tegas, memang (harus minum obat) seumur hidup, karena darah tinggi itu tidak bisa disembuhkan, banyak orang mengharapkan harapan palsu darah tinggi bisa disembuhkan," ujar Dr. Antonia dalam acara diskusi Siloam Hospitals bersama Roche, Kamis (18/11/2021).

Dr. Antonia tidak menampik ada hipertensi yang bisa disembuhkan, tapi hipertensi yang disebabkan oleh penyakit sesaat, seperti kelainan hormon. Sehingga saat penyakitnya disembuhkan, maka hipertensinya akan sembuh.

Baca Juga: Turunkan Tekanan Darah Tinggi dalam 2 Jam, Cobalah Minuman Ini!

Tekanan darah tinggi, hipertensi (Pixabay/McRonny)
Tekanan darah tinggi, hipertensi (Pixabay/McRonny)

Apabila yang dialami darah tinggi essensial atau bersifat mendasar, maka ia harus minum obat seumur hidup dengan tujuan mengendalikan hipertensi.

"Jadi kita tidak berusaha menyembuhkan darah tinggi. Kita hanya berusaha kendalikan darah tinggi, supaya pasien tidak stroke, tidak harus cuci darah atau cuci ginjal, tidak mengalami serangan jantung mendadak," paparnya.

Dokter yang berpraktik di Siloam Hospitals Lippo Village itu mengatakan, pengendalian hipertensi tidak hanya berpatokan pada alat tensi meter semata, tapi juga pada teraturnya pola hidup sehat yang dijalani pasien.

"Angka tensi meter itu hanya parameter. Goals kita pasien jangan stroke, nanti kita yang sedih. Antara salah kita atau pasiennya yang pura pura baik baik saja," pungkas Dr. Antonia.

Baca Juga: Tekanan Darah Tinggi Tingkatkan Risiko Epilepsi 2 Kali Lipat, Kok Bisa?

Catatan Redaksi:
Artikel ini merupakan bagian dari konten Cek Fakta Suara.com. Dibuat seakurat mungkin dengan sumber sejelas mungkin, namun tidak mesti menjadi rujukan kebenaran yang sesungguhnya (karena masih ada potensi salah informasi). Lebih lengkap mengenai konten Cek Fakta bisa dibaca di laman ini. Pembaca (publik) juga dipersilakan memberi komentar/kritik, baik melalui kolom komentar di setiap konten terkait, mengontak Redaksi Suara.com, atau menyampaikan isu/klaim yang butuh diverifikasi atau diperiksa faktanya melalui email cekfakta@suara.com.

Komentar