alexametrics

Bagaimana Cara Atasi Insecure Saat Pergi Ke Psikolog? Ini Kata Ahli

Bimo Aria Fundrika | Aflaha Rizal Bahtiar
Bagaimana Cara Atasi Insecure Saat Pergi Ke Psikolog? Ini Kata Ahli
ilustrasi psikolog, psikiater, sesi konseling. (Dok. Envato)

Hal tersebut karena masih ada stigma yang kuat terkait orang dengan gangguan kesehatan mental.

Suara.com - Isu kesehatan mental masih menjadi pembibcaraan yang tabu di masyarakat. Meski kini banyak anak muda yang sadar akan kesehatan mental mereka, tapi juga tidak mudah untuk bisa mengakses layanan psikologi. 

Hal tersebut karena masih ada stigma yang kuat terkait orang dengan gangguan kesehatan mental. Mulai dari dianggap gila, penyakit jiwa, dan tidak memiliki spiritual yang sempurna. Padahal, jika seseorang pergi ke psikolog, ia akan tahu apa gejala mental yang dialaminya.

Bagaimana caranya untuk mengatasi rasa insecure saat pergi ke psikolog? Menjawab pertanyaan tersebut, Psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikolog UIN Malang, Fuji Astutik menjelaskan caranya. 

Ilustrasi konsultasi psikolog (Unsplash)
Ilustrasi konsultasi psikolog (Unsplash)

“Perlu diingat bahwa sakit psikologis itu bukan sesuatu yang memalukan. Dan ini wajar, seperti kita kena flu dan ingin ke dokter. Jadi sama kalau lagi mengalami sakit psikologis, kita perlu ke psikolog,” ungkapnya dalam acara webinar bertajuk Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi, Wujudkan Remaja Aktif dan Berprestasi, minggu (28/11/2021).

Baca Juga: Kongres IPK Indonesia Siap Digelar, Bahas Gangguan Kesehatan Mental di Era Digital 5.0

Fuji menegaskan, jika seseorang pergi ke psikolog atau psikiater bukan berarti dianggap orang gila. Di samping itu, orang yang datang ke psikolog tidak hanya bagi yang terkena mental saja, ingin tahu bakat dan minat pun juga bisa.

“Misalnya pengen tahu bakat dan minat saya, datang ke psikolog atau psikiater tidaklah masalah,” tegas Fuji.

Mengenai kunjungan psikolog secara luas, Fuji menjelaskan orang yang ingin datang untuk konsultasi mengenai karier pun juga bisa. Dengan melakukan kunjungan, psikolog akan melihat potensi apa yang dilihat pasiennya.

“Kalau datang ke psikolog dilihat potensi dan kemampuannya. Contoh, oh dia cocoknya di pengusaha, customer service, marketing. Jadi diarahkan ke sana,” ungkap Fuji.

“Jadi jangan takut untuk datang ke psikolog. Dan tidak perlu diberikan stigma negatif, kayak pergi ke psikolog pasti kurang iman. Bukan seperti itu, sebab kita manusia,” pungkas Fuji. 

Baca Juga: Psikolog Ungkap Dampak Digitalisasi Pada Kesehatan Mental: Bikin Stres dan Depresi

Komentar