alexametrics

Sejarah Sianida: Awalnya Digunakan Dunia Pertambangan Hingga Jadi Alat Genosida

Risna Halidi | Aflaha Rizal Bahtiar
Sejarah Sianida: Awalnya Digunakan Dunia Pertambangan Hingga Jadi Alat Genosida
Ilustrasi racun, bunuh diri, sianida. [Envato]

Sianida awalnya digunakan dalam dunia pertambangan, di mana racun tersebut dipakai untuk pengikat logam mulia emas.

Suara.com - Publik tengah dihebohkan dengan kasus bunuh diri mahasiswi asal Mojokerto akibat meminum racun sianida di makam ayahnya.

Diberitakan sebelumnya, mahasiswi tersebut dilaporkan diperkosa hingga kemudian hamil oleh kekasihnya yang merupakan anggota kepolisian Republik Indonesia berinisial RB.

Bukannya bertanggung jawab, RB malah terus berkelit. Lantaran tidak ada kejelasan dari pelaku, korban lalu melaporkan kejadian tersebut kepada orangtua RB.

Namun, orangtua RB disebut malah meminta korban untuk menggugurkan kandungannya. Korban pun jatuh pada lubang depresi hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup.

Baca Juga: Polda Jatim Sebut Bripda RB Hamili Novia Widyasari dan Minta Gugurkan Kandungan

Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian publik Indonesia.

Sianida sendiri merupakan zat berbahaya yang mengacu pada bahan kimia mengandung ikatan karbon-nitrogen (CN). Meski banyak zat mengandung CN, tapi tidak semuanya mematikan.

Tetapi jika mengandung natrium sianida (NaCN), potasium sianida (KCN), hydrogen sianida (HCNI), dan sianogen klorida (CNCI), maka itu akan disebut sangat mematikan.

Melansir dari Hello Sehat, sianida awalnya digunakan dalam dunia pertambangan, di mana racun tersebut dipakai untuk pengikat logam mulia emas.

Dengan menggunakan teknik amalgamasi dengan sianida, kadar emas yang diperoleh bisa mencapai 89-95 persen, jauh lebih baik dari metode lain yang hanya mencapai 40-50 persen.

Baca Juga: Ditemukan Meninggal Dunia di Makam Ayahnya, Novia Ternyata Bantu Anak Kurang Mampu

Setelah perang pecah, penggunaan sianida dialihkan sebagai fungsi zat kimia yang berbahaya, dan mulai digunakan untuk genosida dan racun untuk bunuh diri.

Di sisi lain, sianida juga biasanya digunakan untuk membunuh tikus, curut, dan tikus tanah untuk melindungi panen tanaman pangan.

Selain kasus mahasiswi yang minum racun tersebut, racun sianida juga pernah terjadi pada kasus kopi sianida yang membunuh Mirna.

Sempat menghebohkan masyarakat Indonesia, kasus racun sianida ini telah menjadi salah satu kasus terpanjang dalam sejarah kriminal yang terjadi 2016 silam.

Catatan Redaksi: Hidup seringkali sangat sulit dan membuat stres, tetapi kematian tidak pernah menjadi jawabannya. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit dan berkecederungan bunuh diri, sila hubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah sakit terdekat.

Anda juga bisa menghubungi LSM Jangan Bunuh Diri melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com dan telepon di 021 9696 9293. Ada pula nomor hotline Halo Kemkes di 1500-567 yang bisa dihubungi untuk mendapatkan informasi di bidang kesehatan 24 jam.

Komentar