Sejarah Sianida: Awalnya Digunakan Dunia Pertambangan Hingga Jadi Alat Genosida

Risna Halidi | Aflaha Rizal Bahtiar | Suara.com

Minggu, 05 Desember 2021 | 14:24 WIB
Sejarah Sianida: Awalnya Digunakan Dunia Pertambangan Hingga Jadi Alat Genosida
Ilustrasi racun, bunuh diri, sianida. [Envato]

Suara.com - Publik tengah dihebohkan dengan kasus bunuh diri mahasiswi asal Mojokerto akibat meminum racun sianida di makam ayahnya.

Diberitakan sebelumnya, mahasiswi tersebut dilaporkan diperkosa hingga kemudian hamil oleh kekasihnya yang merupakan anggota kepolisian Republik Indonesia berinisial RB.

Bukannya bertanggung jawab, RB malah terus berkelit. Lantaran tidak ada kejelasan dari pelaku, korban lalu melaporkan kejadian tersebut kepada orangtua RB.

Namun, orangtua RB disebut malah meminta korban untuk menggugurkan kandungannya. Korban pun jatuh pada lubang depresi hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup.

Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian publik Indonesia.

Sianida sendiri merupakan zat berbahaya yang mengacu pada bahan kimia mengandung ikatan karbon-nitrogen (CN). Meski banyak zat mengandung CN, tapi tidak semuanya mematikan.

Tetapi jika mengandung natrium sianida (NaCN), potasium sianida (KCN), hydrogen sianida (HCNI), dan sianogen klorida (CNCI), maka itu akan disebut sangat mematikan.

Melansir dari Hello Sehat, sianida awalnya digunakan dalam dunia pertambangan, di mana racun tersebut dipakai untuk pengikat logam mulia emas.

Dengan menggunakan teknik amalgamasi dengan sianida, kadar emas yang diperoleh bisa mencapai 89-95 persen, jauh lebih baik dari metode lain yang hanya mencapai 40-50 persen.

Setelah perang pecah, penggunaan sianida dialihkan sebagai fungsi zat kimia yang berbahaya, dan mulai digunakan untuk genosida dan racun untuk bunuh diri.

Di sisi lain, sianida juga biasanya digunakan untuk membunuh tikus, curut, dan tikus tanah untuk melindungi panen tanaman pangan.

Selain kasus mahasiswi yang minum racun tersebut, racun sianida juga pernah terjadi pada kasus kopi sianida yang membunuh Mirna.

Sempat menghebohkan masyarakat Indonesia, kasus racun sianida ini telah menjadi salah satu kasus terpanjang dalam sejarah kriminal yang terjadi 2016 silam.

Catatan Redaksi: Hidup seringkali sangat sulit dan membuat stres, tetapi kematian tidak pernah menjadi jawabannya. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit dan berkecederungan bunuh diri, sila hubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah sakit terdekat.

Anda juga bisa menghubungi LSM Jangan Bunuh Diri melalui email [email protected] dan telepon di 021 9696 9293. Ada pula nomor hotline Halo Kemkes di 1500-567 yang bisa dihubungi untuk mendapatkan informasi di bidang kesehatan 24 jam.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terungkap, Kisah Bripka Randy Pacaran Gadis yang Bunuh Diri di Makam Ayah

Terungkap, Kisah Bripka Randy Pacaran Gadis yang Bunuh Diri di Makam Ayah

Sumsel | Minggu, 05 Desember 2021 | 11:10 WIB

12 Fakta Kasus Bunuh Diri Novia Widyasari, Diduga Diperkosa sampai Aborsi Dua Kali

12 Fakta Kasus Bunuh Diri Novia Widyasari, Diduga Diperkosa sampai Aborsi Dua Kali

Hits | Minggu, 05 Desember 2021 | 10:41 WIB

Ibu Novia Widyasari Minta Maaf Atas Kesalahan Putrinya: Mohon Tidak Dibesar-besarkan

Ibu Novia Widyasari Minta Maaf Atas Kesalahan Putrinya: Mohon Tidak Dibesar-besarkan

Hits | Minggu, 05 Desember 2021 | 10:38 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB