Bahaya Bagi Kesehatan, Ini Cara Meminimalisasi Hirup Abu Vulkanik Gunung Semeru Erupsi

Risna Halidi, Lilis Varwati

Minggu, 05 Desember 2021 | 16:19 WIB
Bahaya Bagi Kesehatan, Ini Cara Meminimalisasi Hirup Abu Vulkanik Gunung Semeru Erupsi
Warga mengevakuasi kambing di atas timbunan material guguran awan panas Gunung Semeru di Desa Sumber Wuluh, Lumajang, Jawa Timur, Minggu (5/12/2021). [ANTARA FOTO/Zabur Karuru]

Suara.com - Erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Sabtu (4/12/2021) sore telah menyebabkan hujan abu di sekitar wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur,  yang tentu saja sangat bahaya bagi kesehatan.

Akibat hujan abu vulkanik tersebut, sejumlah daerah menjadi gelap gulita lebih cepat. Hujan abu vulkanik tersebut terjadi bersamaan dengan guguran awan panas yang keluar akibat aktivitas Semeru.

Dari laporan visual yang dibagikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kepada pewarta, warga sekitar lereng Gunung Semeru berlarian saat guguran awan panas juga hujan abu mulai terlihat.

Guguran awan panas Gunung Semeru masih terjadi hingga Minggu (5/12) pagi tadi hingga sejauh 2km dari ujung lidah lava.

Dampak hujan abu di Desa Kapuhan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Senin (16/8/2021). [Dok. BPBD Magelang]
Dampak hujan abu di Desa Kapuhan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Senin (16/8/2021). [Dok. BPBD Magelang]

Sementara itu, hujan abu mulai mereda meski beberapa rumah warga masih terendam pasir akibat erupsi tersebut.

Berbeda dengan guguran awan panas, abu vulkanik bisa menyebar lebih jauh akibat terbawa angin. Sebagian besar abu memang akan jatuh di dekat gunung berapi dalam jarak puluhan kilometer.

Dikutip dari Wired, sebagian abu juga dapat terbawa angin lebih jauh, melayang di atmosfer hingga jarak puluhan ribu kilometer di seluruh dunia. Ukurannya yang sangat kecil membuat abu vulkanik mengambang di udara dan mengakitkan hujan abu.

Meski begitu, jangan remehkan bahaya dari abu vulkanik terhadap kesehatan. Partikel abu vulkanik berbeda dengan abu hasil pembakaran kayu ataupun bahan organik lainnya.

Pada situs National Geographic dijelaskan bahwa abu vulkanik merupakan campuran batuan, mineral, dan partikel kaca yang keluar akibat letusan gunung berapi.

Partikelnya sangat keras dan biasanya memiliki tepi bergerigi. Akibatnya, dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, paru-paru, serta masalah pernapasan.

Oleh sebab itu, masyarakat yang berada di sekitar lereng gunung berapi yang sedang erupsi sebaiknya segera menghindari dari hujan abu.

Mengutip dari situs Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat, berikut cara menyelamatkan diri dari hujan abu vulkanik.

Jika Berada di Dalam Rumah

Gunung Semeru Erupsi menyeburkan abu vulkanik [Foto: Suarajatimpost]
Gunung Semeru Erupsi menyeburkan abu vulkanik [Foto: Suarajatimpost]
  1. Tetap di dalam rumah, jika masih ada berada dalam jarak aman dengan area gunung berapi. Kemudian, tutup jendela dan pintu dengan rapat.
  2. Kenakan kemeja lengan panjang dan celana panjang. Sebisa mungkin tutupi kulit agar tidak terkena abu.
  3. Gunakan kacamata agar tidak terkena abu.
  4. Jika abu terus turun, Anda tidak dapat terus berlindung di dalam ruangan. Karena beratnya abu dapat meruntuhkan atap gedung dan menghalangi masuknya udara.
  5. Selalu dengarkan saran dari BNPB maupun BPBD untuk meninggalkan area lereng saat hujan abu berlangsung lebih dari beberapa jam.

Jika Berada di Luar Ruangan

Warga menyelamatkan diri saat abu vulkanik erupsi Gunung Semeru disertai angin kencang menyelimuti kawasan Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Minggu (5/12/2021). [SuaraMalang.id/Bob Bimantara Leander]
Warga menyelamatkan diri saat abu vulkanik erupsi Gunung Semeru disertai angin kencang menyelimuti kawasan Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Minggu (5/12/2021). [SuaraMalang.id/Bob Bimantara Leander]
  1. Gunakan respirator partikulat, seperti masker N95, untuk mencegah masuknya abu ke saluran pernapasan. Bentuk abu vulkanik sangat kecil, sehingga perlu proteksi ketat.
  2. Jika tidak memiliki respirator partikulat, Anda dapat melindungi diri sendiri dengan menggunakan masker debu sebagai upaya terakhir. Tapi upayakan jangan terlalu lama berada di luar ruangan saat terpapar abu vulkanik.
  3. Matikan mesin kendaraan apapun.
  4. Hindari mengemudi saat hujan abu masih lebat. Mengemudi akan menimbulkan abu yang dapat menyumbat mesin dan menghentikan kendaraan.
  5. Apabila terjebak hujan abu saat sedang mengemudi, tutup rapat jendela mobil dan matikan sistem pendingin udara. Sebab, mengoperasikan sistem pendingin udara akan membawa masuk udara luar dan abu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

6 Fakta Erupsi Gunung Semeru: Lumajang Gelap Gulita hingga Jembatan Perak Ambruk

6 Fakta Erupsi Gunung Semeru: Lumajang Gelap Gulita hingga Jembatan Perak Ambruk

News | Minggu, 05 Desember 2021 | 16:16 WIB

3 Tokoh Dunia Meninggal Saat Mendaki, Soe Hok Gie di Gunung Semeru

3 Tokoh Dunia Meninggal Saat Mendaki, Soe Hok Gie di Gunung Semeru

News | Minggu, 05 Desember 2021 | 16:05 WIB

7 Lokasi Populer di Gunung Semeru, Keindahannya Tak Perlu Diragukan Lagi!

7 Lokasi Populer di Gunung Semeru, Keindahannya Tak Perlu Diragukan Lagi!

Lifestyle | Minggu, 05 Desember 2021 | 16:05 WIB

Terkini

Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf

Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf

Health | Minggu, 31 Mei 2026 | 17:57 WIB

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:33 WIB

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:18 WIB

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 23:06 WIB

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 17:41 WIB

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:27 WIB

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:44 WIB

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 11:09 WIB

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB