facebook

Menkes Budi: Obat Antivirus Covid-19 Paxlovid Buatan Pfizer Diperkirakan Tiba di Indonesia Februari 2022

Risna Halidi
Menkes Budi: Obat Antivirus Covid-19 Paxlovid Buatan Pfizer Diperkirakan Tiba di Indonesia Februari 2022
Ilustrasi obat Covid-19. [Iira116/Pixabay]

Obat antivirus Covid-19 Paxlovid rencananya datang pada Februari 2022, sebelumnya 400.000 tablet Molnupiravir sudah tiba di Indonesia.

Suara.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut bahwa pemerintah telah menyiapkan 400.000 obat antivirus Covid-19, Molnupiravir yang sudah tiba di Indonesia dan terkini akan disiapkan pula obat buatan Pfizer, yaitu Paxlovid.

Menkes Budi mengatakan, kedatangan obat antivirus Covid-19 Paxlovid dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan obat jika terjadi lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia.

"Kita sudah dalam proses mendatangkan Paxlovid juga, ini antivirus dari Pfizer yang mudah-mudahan bisa datang di bulan Februari," ujar Budi dalam keterangan pers yang disampaikan secara virtual, Minggu (16/1/2022).

Sebelumnya pemerintah juga mengumumkan bahwa 400.000 tablet Molnupiravir sudah tiba di Indonesia. Rencananya, kata Menkes Budi, obat antivirus Covid-19 tersebut juga akan diproduksi di Indonesia bulan Maret-April 2022.

Baca Juga: Cegah Kematian Hingga 30 Persen, BPOM Izinkan Penggunaan Obat Covid-19 Molnupiravir

"Sehingga pada saat nanti terjadi lonjakan kasus Covid-19, obat-obatannya pun sudah siap," katanya.

Menkes Budi mengatakan, Presiden Joko Widodo telah memberikan arahan kepada pihaknya untuk memastikan obat-obatan tersebut bukan hanya tersedia di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) atau rumah sakit pemerintah, tetapi juga tersedia di apotek.

Obat-obatan untuk penanganan Covid-19 tersebut, kata Menkes Budi, akan dibagi dalam kategori yang bisa dibeli umum, yang harus dibeli dengan mendapatkan resep dokter dan hanya bisa diberikan melalui perawatan rumah sakit.

Sebelumnya, Menkes Budi mengatakan kenaikan kasus virus corona varian Omicron akan cepat mencapai puncak kasus, yakni dalam kisaran sejak 35-65 hari dari awal penularan.

"Di rapat terbatas tadi telah kami update kepada Presiden bahwa beberapa negara sudah mengalami puncak dari kasus Omicron dan puncak tersebut dicapai secara cepat dan tinggi, waktunya berkisar antara 35 sampai 65 hari," katanya.

Baca Juga: Baricitinib dan Kortikosteroid, Dua Obat Covid-19 yang Disebut WHO Efektif Lawan Varian Omicron

Kasus varian Omicron sendiri pertama kali teridentifikasi di Indonesia pada pertengahan Desember 2021, dan mulai naik di awal Januari 2022 ini.

"Antara 35 sampai 65 hari akan terjadi kenaikan yang cukup cepat dan tinggi. Itu yang memang harus dipersiapkan oleh masyarakat," katanya.

Masyarakat diimbau untuk tidak panik menghadapi kemungkinan kondisi tersebut, tetapi tetap menerapkan protokol kesehatan, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas.

Walaupun kenaikan kasusnya lebih banyak dan penularannya lebih cepat, Menkes Gunadi Sadikin mengatakan, tapi angka rawat inap di rumah sakit untuk penderita Covid-19 dengan varian Omicron lebih rendah dibanding dengan yang disebabkan varian Delta.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar