Ilmuwan Berhasil Menemukan Tempat Persembunyian Virus Ebola yang Dapat Memicu Kekambuhan Infeksi

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah | Suara.com

Jum'at, 11 Februari 2022 | 16:41 WIB
Ilmuwan Berhasil Menemukan Tempat Persembunyian Virus Ebola yang Dapat Memicu Kekambuhan Infeksi
Ilustrasi pandemi ebola. (Shutterstock)

Suara.com - Sejak 2013, ilmuwan di Afrika Barat telah mencoba mencari tahu alasan virus Ebola dapat kembali muncul di antara para penyintas.

Meski sudah ada perawatan antibodi dan vaksin yang efektif, infeksi sangat fatal ini masih terus kambuh, memicu wabah baru di mana-mana.

Kini, melalui studi terhadap kera rhesus, ilmuwan menemukan tempat persembunyian potensial dari virus Ebola di dalam tubuh hewan primata tersebut.

Penelitian sebelumnya menunjukkan Ebola dapat menghindari sistem kekebalan manusia di beberapa tempat, seperti testis, mata, otak, dan sumsum tulang belakang, lapor Science Alert.

Tetapi studi kali ini merupakan penelitian pertama yang menunjukkan ke mana virus sebenarnya pergi selama pengobatan antibodi dan bagaimana patogen dapat muncul kembali.

Seorang pria di Kongo diberi vaksin anti Ebola oleh salah satu petugas medis. (AFP)
Seorang pria di Kongo diberi vaksin anti Ebola oleh salah satu petugas medis. (AFP)

Ilmuwan menganalisis otak 36 kera yang terinfeksi Ebola dna menemukan ada reservoir virus yang persisten di rongga berisi cairan di otak depan dan batang otak.

"Kami meemukan bahwa sekitar 20% kera masih memiliki infeksi virus Ebola persisten (kera sudah terapi antibodi monoklonal). Khususnya di sistem ventrikel otak, di mana cairan serebrospinal diproduksi, diedarkan, dan terkandung," jelas peneliti Xiankun (Kevin) Zeng dari US Army Medical Research Institute of Infectious Diseases.

Dua kera yang juga sudah diobati dengan antibodi monoklonal mati karena infeksi ulang Ebola. Selain otak, tidak ada bagian lain dari tubuh kera yang menunjukkan tanda-tanda infeksi ulang.

Kera jelas bukan manusia, tetapi respons fisiologis mereka terhadap Ebola cukup mirip dengan kita sehingga penelitian terkadang dapat diterjemahkan.

"Penelitian kami memperkuat kebutuhan untuk tindak lanjut jangka panjang dari penderita penyakit virus Ebola, bahkan termasuk penyintas yang diobati antibodi terapeutik, untuk mencegah (kekambuhan penyakit)," tandas Zeng.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kongo Temukan Kembali Kasus Ebola, Langsung Gelar Program Vaksinasi

Kongo Temukan Kembali Kasus Ebola, Langsung Gelar Program Vaksinasi

Health | Kamis, 14 Oktober 2021 | 15:51 WIB

20 Staf WHO Dilaporkan Perkosa Gadis-gadis Republik Kongo di Tengah Wabah Ebola

20 Staf WHO Dilaporkan Perkosa Gadis-gadis Republik Kongo di Tengah Wabah Ebola

Sumbar | Kamis, 30 September 2021 | 05:15 WIB

Bejat! 20 Staf WHO Diduga Perkosa Gadis-gadis di Republik Kongo Selama Wabah Ebola

Bejat! 20 Staf WHO Diduga Perkosa Gadis-gadis di Republik Kongo Selama Wabah Ebola

News | Rabu, 29 September 2021 | 16:56 WIB

Terkini

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 23:08 WIB

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:18 WIB

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 10:40 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:59 WIB

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:39 WIB

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:30 WIB

Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi

Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:30 WIB

Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan

Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan

Health | Jum'at, 22 Mei 2026 | 13:11 WIB

Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!

Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!

Health | Jum'at, 22 Mei 2026 | 11:27 WIB