Gangguan Tidur Sleep Apnea Dapat Memicu Penyakit Kronis, Termasuk Diabetes dan Hipertensi

Cesar Uji Tawakal | Rosiana Chozanah | Suara.com

Kamis, 17 Februari 2022 | 19:08 WIB
Gangguan Tidur Sleep Apnea Dapat Memicu Penyakit Kronis, Termasuk Diabetes dan Hipertensi
Ilustrasi sleep apnea (Shutterstock)

Suara.com - Apnea tidur atau sleep apnea merupakan gangguan tidur yang menyebabkan pernapasan berhenti sementara beberapa kali ketika sedang tidur.

Dalam hal ini, sistem pernapasan bagian atas tersumbat atau menyempit saat otot-otot tenggorokan rileks yang tidak semestinya selama tidur.

Otak berulang kali mengirimkan sinyal ke tubuh manusia untuk bangun dan kembali bernapas, lapor Times of India.

Seseorang yang menderita apnea tidur tidak dapat tidur nyenyak karena frekuensi gangguannya bisa mencapai 30 kali dalam semalam.

Salah satu gejala sleep apnea adalah mendengkur dan merasa lelah, bahkan setelah tidur semalaman.

Ilustrasi tidur tidak berkualitas (freepik/Jcomp)
Ilustrasi apnea tidur (freepik/Jcomp)

Apa yang sebenarnya terjadi pada kondisi ini?

Jaringan lunak mulut dan tenggorokan memberi dukungan pada langit-langit lunak, bagian segitiga jaringan yang menggantung dari langit-langit lunak yang disebut vulva, amandel, dan dinding samping tenggorokan dan lidah.

Terkadang otot tenggorokan ini mengendur, membatasi jalan napas dan membatasi aliran oksigen ke tubuh.

Begitu otak mendapat sinyal bahwa kadar oksigen menurun, maka akan memberi tahu tubuh untuk bangun sehingga bisa bernapas dengan benar.

Ada tiga jenis apnea tidur, yakni apnea tidur obstruktif, apnea tidur sentral, dan apnea tidur kompleks (gabungan dari kedua jenis tidur).

Para ahli telah menghubungkan gangguan tidur ini dapat memicu penyakit kronis, seperti diabetes dan hipertensi.

"Jadi itu adalah penyakit yang sangat berisiko tinggi, berkali-kali jika orang yang dirawat dengan apnea tidur obstruktif, (juga mengalami) komplikasi dengan pneumonia dan kondisi medis lainnya juga," jelas Konsultan-Intensivist Aviral Roy, dari Rumah Sakit Superspesialis Medica.

Sementara itu, ahli di Mayo Clinic menjelaskan bahwa gagal jantung kongestif, tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2 dan penyakit Parkinson adalah beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko apnea tidur obstruktif.

Sesuai laporan, pria lebih mungkin mengalami sleep apnea daripada wanita. Tetapi wanita berisiko tinggi apabila kelebihan berat badan, dan terkadang risikonya meningkat setelah menopause.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Minum Alkohol Dapat Mengganggu Tidur, Memicu Mimpi Buruk dan Sleep Apnea

Minum Alkohol Dapat Mengganggu Tidur, Memicu Mimpi Buruk dan Sleep Apnea

Health | Selasa, 23 November 2021 | 14:25 WIB

Belum Tentu 'Sleep Apnea', Tidur Mendengkur Bisa Jadi Lebih Bahaya Bila Bunyinya Begini

Belum Tentu 'Sleep Apnea', Tidur Mendengkur Bisa Jadi Lebih Bahaya Bila Bunyinya Begini

Malang | Rabu, 27 Oktober 2021 | 21:01 WIB

Hasil Riset Ungkap bahwa Olahraga Bisa Menjadi Terapi Tambahan Sleep Apnea

Hasil Riset Ungkap bahwa Olahraga Bisa Menjadi Terapi Tambahan Sleep Apnea

Health | Selasa, 28 September 2021 | 17:55 WIB

Terkini

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB