Waspada! Ini Penyebab dan Bahaya Malnutrisi Pada Pasien Kanker

Selasa, 22 Februari 2022 | 16:59 WIB
Waspada! Ini Penyebab dan Bahaya Malnutrisi Pada Pasien Kanker
Ilustrasi pasien kanker (Pixabay/PDPics)

Suara.com - Saat menjalani pengobatan, pasien kanker membutuhkan nutrisi ekstra besar, agar tubuh tidak alami malnutrisi dan mampu menahan berbagai efek samping pengobatan kanker.

Dikatakan General Manager PT. Kalbe Tbk, dr. Dedyanto Henky Saputra, M.Gizi bahwa kesiapan nutrisi adalah salah satu kunci suksesnya terapi pengobatan kanker.

Sehingga apabila pasien kanker alami malnutrisi, salah satunya karena drop mental, maka secara langsung akan menghambat dan menurunkan kinerja terapi pengobatan kanker.

“Kalau kondisi gizi buruk, tubuh pasien tidak dapat menahan efek samping yang terjadi. Kedua, malnutrisi meningkatkan komplikasi lain, misalnya infeksi, yang berisiko menurunkan kualitas hidup pasien atau lama rawat menjadi lebih panjang dan biaya perawatan lebih mahal,” ujar dr. Dedy dalam acara World Cancer Day 2022 oleh PT. Kalbe Farma Tbk, beberapa waktu lalu.

ilustrasi gizi buruk [shutterstock]
ilustrasi malnutrisi. [shutterstock]

Ia menambahkan, ada berbagai penyebab pasien kanker alami malnutrisi, salah satunya berdasarkan jenis kanker yang diidapnya.

Contohnya pasien kanker nasofaring dan kanker saluran cerna memiliki risiko tinggi mengalami malnutrisi. Ditambah semakin tinggi stadium kanker, maka risiko malnutrisinya juga semakin besar.

Dampak dari sitokin juga berpengaruh terhadap malnutrisi. Ini karena sitokin umumnya menyebabkan tubuh pasien kanker butuh makan lebih banyak, tapi disisi lain turut menghambat nafsu makan.

Kemudian, faktor kemoterapi dan radioterapi. Terapi tersebut dapat menimbulkan gejala samping seperti mual, muntah, dan sariawan.

Gangguan psikologis juga membuat pasien takut untuk mengonsumsi makanan. Padahal, pasien kanker membutuhkan banyak asupan kalori dan protein.

Baca Juga: Rencana Usai Jabatan Berakhir di 2024, Jokowi: Saya Akan Kembali ke Solo Sebagai Rakyat Biasa

“Pilihlah jenis makanan yang memiliki densitas energi (kalori) yang besar. Artinya, makan sedikit tapi bobot kalori dan proteinnya besar. Sehingga pasien tidak terbebani saat makan. Jadi sebagai keluarga, kita harus memilih makanan yang kecil tapi mengandung kalori dan protein tinggi itu apa saja,” tutup dr. Dedy.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI