facebook

Terciduk Satgas COVID-19, 2 WNI di Beijing Terpaksa Masuk Pusat Karantina Mandiri

M. Reza Sulaiman
Terciduk Satgas COVID-19, 2 WNI di Beijing Terpaksa Masuk Pusat Karantina Mandiri
Seorang warga melakukan tes usap di posko tes PCR massal di kawasan Beijiazhuang Beili, Beijing, China, Sabtu (30/4). [ANTARA/M. Irfan Ilmie]

Kota Beijing tengah melakukan lockdown alias penguncian ketat demi menekan laju penularan COVID-19. Warga tidak diperbolehkan keluar rumah tanpa izin.

Suara.com - Kota Beijing tengah melakukan lockdown alias penguncian ketat demi menekan laju penularan COVID-19.  Kebijakan inilah yang membuat dua warga negara Indonesia terciduk satuan tugas COVID-19. Gandhi Priambodo (47) dan istrinya, yang tinggal di Distrik Shunyi, harus menjalani karantina selama 10 hari sejak Jumat (13/5) lalu.

"Tiba-tiba saya ditelepon dan dijemput mobil ambulans untuk dibawa ke pusat karantina ini," katanya dikutip dari ANTARA.

Petugas kepolisian menginformasikan bahwa seorang tetangga apartemennya merupakan kontak dekat dari pasien positif COVID-19 yang baru pulang dari Beijing.

"Tamu yang berkunjung ke apartemen tetangga ini dinyatakan positif setelah pulang ke daerahnya. Padahal, saya sama sekali tidak bertemu dengan tamu itu, juga tetangga itu," tuturnya.

Baca Juga: Kabar Baik, Seluruh Pasien Covid-19 di Batam Sembuh, 12 Kecamatan Berstatus Zona Hijau

Sejumlah warga antre mengikuti tes PCR massal putaran ketiga di kawasan Dongzhimen, Beijing, China, Jumat (13/5/2022), untuk menghindari makin meluasnya wabah COVID-19 varian Omicron. ANTARA/M. Irfan Ilmie
Sejumlah warga antre mengikuti tes PCR massal putaran ketiga di kawasan Dongzhimen, Beijing, China, Jumat (13/5/2022), untuk menghindari makin meluasnya wabah COVID-19 varian Omicron. ANTARA/M. Irfan Ilmie

Tahu-tahu dia bersama istri dan puluhan warga yang tinggal dalam satu lantai di apartemennya diciduk petugas lalu dibawa ke pusat karantina mandiri dengan menggunakan mobil ambulans dan menempuh perjalanan sekitar 20 menit dari apartemennya.

Kompleks apartemen tersebut disegel sehingga tak seorang pun diperkenankan masuk, sedangkan penghuni apartemen tersebut dilarang keluar dan diwajibkan tes PCR setiap hari melalui mulut.

"Sepulang dari pusat karantina, kami masih diwajibkan karantina mandiri selama empat hari lagi di rumah," kata Gandhi, yang merupakan seorang pengusaha itu.

Ia mengaku puas dengan pelayanan gratis yang diberikan selama berada di pusat karantina berupa tiga kali makan menu halal, jaringan Wifi, televisi, dan fasilitas lain yang mirip hotel berbintang di pinggiran Kota Beijing itu.

Setiap dua hari sekali dia dan penghuni pusat karantina diwajibkan melakukan tes PCR melalui hidung dan setiap hari melaporkan perkembangan suhu badan.

Baca Juga: Mengenal Kandungan Willow, Tanaman yang Digunakan Warga Korea Utara untuk Menyembuhkan Covid-19

Otoritas kesehatan China sampai saat ini masih memberlakukan kebijakan nol COVID-19 secara dinamis sehingga begitu ada kasus yang lebih dari tiga dalam satu hari diberlakukan penguncian wilayah (lockdown) dan tes PCR massal.

Komentar