Angkat Bicara Soal Ganja Medis, Prof Zubairi Djoerban Pertimbangkan Soal Keamanan

Bimo Aria Fundrika | Lilis Varwati | Suara.com

Rabu, 29 Juni 2022 | 13:57 WIB
Angkat Bicara Soal Ganja Medis, Prof Zubairi Djoerban Pertimbangkan Soal Keamanan
Manfaat ganja medis untuk bidang kesehatan sudah diteliti secara ilmiah. (Shutterstock)

Suara.com - Dokter spesialis penyakit dalam prof. dr. Zubairi Djurban, Sp.PD., menyarankan perlu ada pembahasan khusus untuk menolong ibu Santi Warastuti dalam berupaya mengobati anaknya, Pika, yang mengidap cerebral palsy.

Pemberitaan mengenai Santi viral lantaran ia mendesak pemerintah segera melegalkan penggunaan ganja medis karena Pika membutuhkan terapi dengan CBD oil, minyak dari ekstrak tanaman ganja dan mengandung kanabidiol (CBD).

"Studi penggunaan THC (tetrahydrocannabinol) dan CBD pada cerebral palsy memang ada. Namun tingkat manfaatnya masih rendah. Sebab itu, saya usulkan, ada bahasan khusus untuk menolong buah hati dari Ibu Santi Warastuti oleh para ahli terkait," tulis prof. Zubairi, dikutip dari cuitannya di akun Twitter pribadinya, Rabu (29/6/2022).

Sebagai seorang dokter, prof. Zubairi mengatakan kalau dirinya harus benar-benar menimbang keamanan ganja dibandingkan dengan obat lain yang akan diresepkan. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan saat dokter meresepkan obat kepada pasien.

Ilustrasi ganja - ganja medis itu apa (Pexels)
Ilustrasi ganja - ganja medis itu apa (Pexels)

"Bagaimana kemungkinan interaksi obat, apakah justru memperburuk kecemasan, atau berpotensi menyebabkan gangguan psikotik," ujarnya.

"Yang terang, setiap obat itu memiliki potensi efek samping, beberapa serius, termasuk ganja medis, yang harus diminimalkan. Ketepatan dosis ini krusial untuk menjaga kondisi pasien, sehingga mendapatkan efek obat yang dituju," imbuh prof. Zubairi.

Sebelumnya, ahli Farmasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt., juga menyampaikan bahwa obat ganja medis tidak digunakan secara tunggal dalam terapi penyakit tertentu. Memang terbukti secara ilmiah bahwa cerebral palsy bisa diobati dengan ganja medis karena efeknya yang bisa menenangkan gejala kejang.

"Bukan kejang seperti epilepsi, tapi (cerebral palsy) terkadang muncul ada gejala kejang. Jadi mungkin itu sebagai alternatif mungkin saja," kata prof. Zullies, dihubungi suara.com, beberapa waktu lalu.

"Tapi itu bukan satu-satunya. Jadi cerebral palsy harus pakai itu, tidak juga. Tapi bahwa itu memang bisa, mungkin saja," imbuhnya.

Ia menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada satu pun penyakit yang bisa disembuhkan dengan ganja medis. Hanya saja, berdasarkan penelitian memang terbukti bahwa ekstrak tanaman ganja memiliki manfaat untuk kebutuhan medis dan tergantung dari tipe penyakitnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Selain Bahas KTT G20, Lawatan  Jokowi ke Tiongkok Juga Bahas Ini

Selain Bahas KTT G20, Lawatan Jokowi ke Tiongkok Juga Bahas Ini

Video | Selasa, 26 Juli 2022 | 21:00 WIB

Warganet Apresiasi Ma'ruf Amin soal Fatwa MUI: Diam Seperti Ninja, Bergerak Legalisasi Ganja

Warganet Apresiasi Ma'ruf Amin soal Fatwa MUI: Diam Seperti Ninja, Bergerak Legalisasi Ganja

News | Rabu, 29 Juni 2022 | 13:48 WIB

Profesor Zubairi IDI Sebut Ganja Medis Belum Terbukti Sebagai Obat Terbaik

Profesor Zubairi IDI Sebut Ganja Medis Belum Terbukti Sebagai Obat Terbaik

News | Rabu, 29 Juni 2022 | 13:41 WIB

Terkini

Konsultasi Kesehatan Pakai AI? Risiko Halusinasi Medis, Dokter Tetap Tak Tergantikan

Konsultasi Kesehatan Pakai AI? Risiko Halusinasi Medis, Dokter Tetap Tak Tergantikan

Health | Senin, 27 April 2026 | 20:44 WIB

Menyeimbangkan Karier dan Anak, Daycare Berkualitas Jadi Kunci Dukungan untuk Ibu Bekerja

Menyeimbangkan Karier dan Anak, Daycare Berkualitas Jadi Kunci Dukungan untuk Ibu Bekerja

Health | Senin, 27 April 2026 | 12:52 WIB

Tidak Perlu Keluar Rumah, Pesan Obat di Apotek K-24 Kini Bisa Lewat BRImo

Tidak Perlu Keluar Rumah, Pesan Obat di Apotek K-24 Kini Bisa Lewat BRImo

Health | Senin, 27 April 2026 | 11:14 WIB

Diskon 20 Persen Medical Check-Up di RS Siloam: Tanpa Batas Maksimal untuk Nasabah BRI!

Diskon 20 Persen Medical Check-Up di RS Siloam: Tanpa Batas Maksimal untuk Nasabah BRI!

Health | Minggu, 26 April 2026 | 19:17 WIB

Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas

Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas

Health | Sabtu, 25 April 2026 | 12:21 WIB

Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak

Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak

Health | Sabtu, 25 April 2026 | 11:28 WIB

Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik

Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 17:38 WIB

Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks

Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 13:30 WIB

Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin

Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 11:58 WIB

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 08:43 WIB