Suara.com - Kabar duka datang dari keluarga Raffi Ahmad. Sang nenek atau dikenal dengan nama Mami Popon dikabarkan meninggal dunia pada Sabtu (31/12/2022) setelah mengidap komplikasi.
Berdasarkan informasi dari ibunda Raffi Ahmad, Amy Qanita, Mami Popon memang sempat mengidap stroke. Namun, Mami Popon juga menderita berbagai penyakit lainnya yang membuat komplikasi.
"Awalnya karena stroke organ tubuhnya, terus sudah kena ke ginjal juga. Sudah tujuh bulan sih strokenya. Dari mulai masih bisa duduk, masih bisa pakai kursi roda, lama-lama jadi ICU pulang lagi, ICU pulang lagi," ucap Amy Qanita di rumah duka di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Amy Qanita mengatakan, selama sakit Mami Popon dibantu oleh alat-alat medis seperti ventilator dan lain-lain. Namun, setelah keluarga memutuskan untuk mencabut alat tersebut, tidak lama Mami Popon menghembuskan nafas terakhirnya.
"Memang kan selama ini mami saya sudah pakai alat-alat kan. Semua alat ada di rumah, kayak ventilator, alat naikin tensi gitu-gitu. (setelah dicabut) enggak lama setelahnya, mami enggak ada " tutur Amy Qanita.
Alat bantu medis seperti ventilator memang menjadi cara untuk menunjang kehidupan pasien dalam kondisi yang parah.
Mengutip Alodokter, penggunaan ventilator sendiri bertujuan untuk memberikan asupan oksigen kepada pasien agar lebih mudah bernapas. Mesin ini akan mengatur proses menghirup dan menghembuskan nafas pada pasien.
Dengan menggunakan ventilator, ini akan membantu oksigen tetap tersalur ke paru-paru. Ini juga akan membantu organ tubuhnya tetap bekerja meskipun dalam keadaan koma atau tidak sadar.
Biasanya, penggunaan ventilator ini diberikan pada pasien yang berada di ICU. Meski demikian pemberian ventilator tidak boleh sembarangan. Hal ini hanya diberikan pada pasien dalam kondisi khusus, di antaranya sebagai berikut.
- Gangguan paru-paru berat, seperti gagal napas, ARDS (acute respiratory distress syndrome), asma berat, pneumonia, penyakit paru obstruktif kronis, dan pembengkakan paru (edema paru).
- Gangguan sistem saraf yang menyebabkan kelemahan otot pernapasan, koma, atau stroke.
- Gangguan pada jantung, seperti gagal jantung, serangan jantung, atau henti jantung.
- Keracunan karbon dioksida.
- COVID-19 dengan gejala berat.
- Gangguan keseimbangan asam basa, yaitu asidosis dan alkalosis.
- Cedera berat, misalnya luka bakar luas dan cedera kepala berat.
- Syok.
- Dalam pengaruh pembiusan total, sehingga kehilangan kemampuan bernapas, misalnya pada pasien yang menjalani operasi.
Pelepasan ventilator
Pasien yang menggunakan ventilator biasanya akan dipantau kondisinya dengan dokter secara berkala. Pasien juga harus melakukan tes pemeriksaan seperti tes darah, tes urine, atau foto Rontgen, agar alat ventilator mungkin bisa dilepas.
Namun, ada beberapa pasien yang kelangsungan hidupnya ditunjang ventilator. Dalam hal ini diperlukan konsultasi dokter tindakan apa yang harus dilakukan.