Penanganan Serangan Jantung Harus Segera Dilakukan Kurang Dari 2 Jam Agar Nyawa Selamat

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 29 Mei 2024 | 17:18 WIB
Penanganan Serangan Jantung Harus Segera Dilakukan Kurang Dari 2 Jam Agar Nyawa Selamat
Perbedaan Henti Jantung dan Serangan Jantung. (Freepik)

Suara.com - Serangan jantung bisa jadi berbahaya hingga meregang nyawa bila terlambat dapat penanganan medis. Dalam kedokteran, ada batas waktu maksimal untuk bisa menyelamatkan pasien yang tengah alami serangan jantung.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Johan Winata, Sp.JP., menjelaskan, serangan jantung biasanya terjadi karena adanya sumbatan pada pembuluh darah di jantung. Sehingga, batas maksimal atau golden period dari penanganan serangan jantung sebaiknya kurang dari 2 jam sumbatan tersebut sudah ditangani secara medis. Golden period itu dihitung sejak gejala muncul.

"Harus kita buka sumbatannya, diharapkan 120 menit pada saat first medical contact. Makanya kalau ada gejala serangan jantung atau nyeri dada, keringat dingin mending agak parno sedikir bawa ke rumh sakit," kata dokter Johan saat acara temu media bersama Rumah Sakit Pondok Indah di Jakarta baru-baru ini.

Ilustrasi Serangan Jantung (Pixabay.com/Pexels)
Ilustrasi Serangan Jantung (Pixabay.com/Pexels)

Penanganan sumbatan pada pembuluh darah bisa dilakukan dengan berbagai tindakan. Sebelum itu, dokter perlu lakukan pemeriksaan dengan melihat seberapa parah sumbatan yang sudah terjadi. Bila sumbatan sudah terlalu parah, tindakan yang dilakukan biasanya sudah harus lakuka oemasangan ring jantung atau stent. Tujuannya untuk melebarkan pembuluh darah koroner yang telah menyempit.

Selain itu, dokter juga akan meminta pasien untuk menjaga gaya hidupnya agar sumbatan pembuluh darah tidak makin parah. 

Dokter Johan menambahkan, risiko penyakit jantung sebenarnya bisa diperkirakan sejak masih anak-anak. Dia menyampaikan bahwa anak-anak yang sejak kecil alami obesitas berisiko lebih cepat alami gangguan fungsi jantung lebih cepat apabila masalah kelebihan berat badannya tidak segera ditangani. 

Hal itu terjadi karena pembuluh darah di jantung terlanjur mengalami penumpukan plak selama bertahun-tahun. 

"Plak itu tumbuh mulai usia 10 tahun. Kalau usia 40-an tahun plak masih 10 persen itu normal. Tapi kalau plak itu sudah tumbuh 20-30 persen diusia 20-an tahun itu gak wajar. Karena saat usia 40 tahun bisa aja tumbuh jadi 30-40 persen. Usia 60-70 tahun sudah harus pasang stan atau ring jantung," tuturnya.

Untuk mencegah penyakit jantung tersebut, dokter Johan mengingatkan untuk menjaga gaya hidup sehat dengan batasi konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula, garam, dan lemak berlebih. Tak kalah penting juga untuk lakukan olahraga secara rutin.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Penyakit Jantung Kini Tak Kenal Usia, Hati-Hati Bagi yang Hobi Rebahan dan Malas Olahraga

Penyakit Jantung Kini Tak Kenal Usia, Hati-Hati Bagi yang Hobi Rebahan dan Malas Olahraga

Health | Rabu, 29 Mei 2024 | 15:03 WIB

Mitos atau Fakta: Nyeri Dada Selalu Berarti Serangan Jantung? Ini Penjelasan Dokter

Mitos atau Fakta: Nyeri Dada Selalu Berarti Serangan Jantung? Ini Penjelasan Dokter

Health | Selasa, 28 Mei 2024 | 10:06 WIB

Cara Mengukur Detak Jantung Lewat Sidik Jari di Xiaomi HyperOS

Cara Mengukur Detak Jantung Lewat Sidik Jari di Xiaomi HyperOS

Tekno | Senin, 27 Mei 2024 | 12:22 WIB

Terkini

9 Finalis SHEPRENEUR 2026 Tampilkan Strategi Bisnis di Business Pitch Day

9 Finalis SHEPRENEUR 2026 Tampilkan Strategi Bisnis di Business Pitch Day

Foto | Minggu, 13 September 2026 | 05:15 WIB

105 Mitra Pengemudi Grab Dapat Kesempatan Umrah

105 Mitra Pengemudi Grab Dapat Kesempatan Umrah

Foto | Minggu, 13 September 2026 | 05:00 WIB

Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Masih Nihil akibat Cuaca Buruk di Lapangan

Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Masih Nihil akibat Cuaca Buruk di Lapangan

Banten | Minggu, 13 September 2026 | 01:36 WIB

Garudayaksa FC Dikalahkan Persik, Milos Joksic Malu

Garudayaksa FC Dikalahkan Persik, Milos Joksic Malu

Bola | Sabtu, 12 September 2026 | 23:50 WIB

Panglima TNI Cup 2026 Jadi Ajang Adu Nyali, Eks Menpora Dito Ariotedjo Ikut Pacu Jetski

Panglima TNI Cup 2026 Jadi Ajang Adu Nyali, Eks Menpora Dito Ariotedjo Ikut Pacu Jetski

Sport | Sabtu, 12 September 2026 | 23:24 WIB

Hari Ke-5 Pencarian Jurnalis Hilang, Tim SAR Temukan Helm dan Jerigen di Perairan Anyer

Hari Ke-5 Pencarian Jurnalis Hilang, Tim SAR Temukan Helm dan Jerigen di Perairan Anyer

News | Sabtu, 12 September 2026 | 22:11 WIB

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions

Jabar | Sabtu, 12 September 2026 | 21:52 WIB

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Banten | Sabtu, 12 September 2026 | 21:39 WIB

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 20:53 WIB

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Bekaci | Sabtu, 12 September 2026 | 20:29 WIB

×